10/07/17

Bahagialah Lagi

Aku tidak akan membencimu. Tetapi, juga tidak berarti aku akan melupakan semua luka yang kamu berikan kepadaku. Aku akan menyimpannya. Semuanya. Untuk mengingatkan bahwa kamulah yang tidak pantas untukku, bukan aku. Untuk penanda ada luka di sana, dan aku tidak boleh mengalaminya lagi bagaimanapun juga. 

Aku tidak akan 100% menyalahkanmu atas perpisahan kita. Karena, untuk apa bertahan jatuh cinta kalau dua-duanya tidak berbahagia. 


Mungkin kamu pergi karena kamu tidak bahagia bersamaku. Mungkin aku harus pergi karena aku tidak akan bahagia bersamamu karena yang kamu pikirkan hanya pergi dariku. 


Aku akan jatuh cinta lagi. Mungkin akan sulit melupakanmu, tetapi melepasmu itu harus terjadi, mau tidak mau. Tidak akan semudah membalik tempe di penggorengan, aku tahu. Tapi juga tidak akan sesusah membuat arca sendirian dalam semalam sebanyak seribu. 

Karena aku tahu, pada akhirnya, pelan-pelan, sedemikian pun kita bertahan, pada akhirnya akan sampai pada “Ya sudahlah, ya. Tidak akan berubah mau aku lakukan apa pun juga.” 

Aku tahu, pelan-pelan, semua yang pada akhirnya bisa menerima kenyataan  akan bisa melepaskan.
Aku sedang proses untuk itu. 


Aku akan bahagia lagi. Aku tahu itu. Aku yakin itu. Aku akan mengusahakan itu. Kalau tidak bersamamu, mungkin bersama orang lain yang memang untukku, yang memang mau bersamaku. Berpasangan itu karena keduanya ingin bersama, bukan hanya karena jatuh cinta, apalagi ‘pernah’ jatuh cinta.

Catatanku, sebelum kamu ada pun, aku pernah bahagia. Jadi, tanpamu pun aku seharusnya tetap bisa bahagia. Mulai sekarang, selalu itu yang sedang kutanamkan terus di kepala.



Tetapi, ini pelajaran penting untukku, untuk kita. Untuk tetap jatuh cinta, tetapi jangan pernah lupa untuk juga berbahagia. 

02/11/16

Jika Terlalu Rindu

Terlalu rindu seringkali menjelma hal-hal yang tidak biasa. Semisal tiba-tiba dihantui ketakutan akan kehilangan kamu yang berlebihan. Kalau sudah begini. Aku harus menenangkan diriku dengan lebih. Bahkan tak jarang, aku didatangi mimpi yang aneh. Yang membuatku menghela napas panjang saat terbangun. Sungguh, rindu kadang menjelma hal-hal yang menyeramkan. Namun, aku selalu ingin menenangkan diri. Aku paham, rindu yang tak terkendali bisa saja melukai hati. Bisa saja menjadi penyebab kesalahpahaman.  Itulah mengapa, saat aku merindukanmu, aku ingin mengatakan secepatnya. Karena dengan begitu, setidaknya, perasaanku bisa lebih tenang.  Meski rindu tak juga berkurang.

Jarak adalah satu-satunya hal yang harus kita kutuk. Namun apalah daya, kita tak pernah benar-benar bisa membuatnya seketika takluk. Aku tidak bisa berada di sampingmu saat ini juga. Saat rindu terasa semakin bergelora. Aku tak bisa menembus angin, lalu berdiri di sampingmu saat kau ingin. Kalau sudah rindu begini, aku hanya bisa menunggu dan memendam perasaanku sendiri. Dan rindu terasa semakin menyesakkan. Apalagi jika kau sibuk dengan duniamu. Kau sibuk dengan pekerjaanmu yang memang harus kau jalani pada jam tertentu. Mau tidak mau aku harus menerima. Aku tidak seharusnya menyalahkanmu. Itu bagian dari tuntutan hidupmu. Hanya saja rindu kadang membuat diri tak terkendali. 

Satu hal yang aku mengerti; saat rindu sudah terlalu menumpuk di dada ini, aku hanya perlu meyakini, di sana kau juga merasakan hal yang sama. Kita hanya perlu berdoa sampai saatnya kita punya waktu berjumpa. Untuk saat ini biarkan rindu menjelma menjadi doa-doa. Menjadi energi yang menumpuk di tubuh kita. Mengajari banyak hal tentang bagaimana tabah dalam hal mencintai. Dengan begitu, kita bisa merasa lebih tenang. Percayalah, segala yang dijalani dengan tabah akan membawa kita kepada kemenangan yang indah. Tetap jaga hatimu di sana, kujaga rinduku padamu seutuhnya. 

Tetaplah mengadu pada Tuhan, jika kita sudah merasa tidak tahan untuk menunda pertemuan. Sebab semua yang terasa tak akan pernah ada jika tak ada yang mengaturnya. Kita serahkan semua kepada yang mahacinta. Hanya itu yang bisa kita lakukan, saat  jarak tak bisa kita bunuh seketika. Aku ingin kau mengerti, di sini aku juga sedang berjuang sepenuh hati. Sama seperti aku percaya; di sana kau juga sedang berjuang untuk mempersiapkan segala rencana yang akan kita jalani nanti. Kalau rindu datang lagi kepada kita, menumpuk dan membuat kita merasa hampir gila. Berserahlah kepada yang mahacinta, sebab tiada cinta tanpa keinginan-nya.

31/10/16

Seseorang yang Mencemaskanmu

Sejak sore kemarin debar dadaku terasa tak menentu. Aku merasa cemas namun tak mengerti apa yang sedang kucemaskan. Andai bisa memilih suasana hati, aku ingin merasakan hal yang tenang saja. Bukan merasakan perihal seperti ini. Di dalam pikiranku tak pernah lepas dari pertanyaan bagaimana keadaanmu di  sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah semuanya masih menjadi seperti seharusnya? Aku benar-benar tidak bisa tenang, meski aku telah mencoba untuk tidak peduli. Namun perasaan di hati tak bisa kubohongi. Aku seolah tak mampu mengendalikan diriku.

Namun aku sadar kau sedang berusaha menjauhiku. Kau sedang belajar melupakan hal-hal yang selalu kita ingat. Kau sedang belajar membunuh perasaan yang tetap bertahan hidup di hatimu. Kau sedang mengkhianati dirimu sendiri. Mencoba menyangkal hal-hal yang masih membenam di dadamu. Aku tahu siapa kamu, aku merasakan sedih yang menggelayuti matamu. Kau mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang kau anggap balas jasa. Padahal kau sebenarnya tahu balas jasa tidak selalu harus begitu. Maafkan aku yang juga tak pernah bisa melupakanmu. Seseorang yang masih saja mencemaskan keadaanmu.

Aku bahkan tak pernah bisa merelakanmu. Akulah seseorang yang tak ikhlas kau bersama orang lain. Sebab aku tahu perasaanmu dan perasaanku bukan hal yang harus dikorbankan. Namun, kau terlalu cepat menyerah. Katamu, kau tak sekuat aku menghadapi hidup. Semantara kau belum menjalani sepenuhnya bersamaku. Bagaimana mungkin kau menyangkal hal-hal yang dulu kau percaya. Aku mengenal siapa kamu. Kau bukan seseorang yang lemah seperti itu. Hanya saja beberapa hal di dunia ini memang terlihat menakutkan, dan kau mungkin ketakutan akan hal itu.

Aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, kekasih. Rasa sedih ini biarlah kutenangkan dengan segala hal pedih. Aku hanya sedang mencemaskanmu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan kau menjadi orang yang tidak kucintai lagi. Sudah terlalu dalam perasaan yang kita tanam. Sudah tumbuh dan rimbun hingga aku tak tahu cara yang baik untuk mencabutnya. Aku tak yakin bisa menenangkan diri jika kau benar-benar lepas pergi. Andai bisa memilih, aku lebih suka berdebat denganmu. Perihal siapa yang benar dan salah di antara kita. Aku sungguh tidak suka tidak mendapati  apa pun kabarmu. Semuanya terasa lebih menyakitkan, saat kau mencoba benar-benar menghilang. Sementara kita tahu, kau dan aku masih saling menyimpan diri dalam ruang hati. Percuma kita saling bunuh, jika setiap tusuk pisau dan angin di dada selalu mampu membuat rindu baru tumbuh.

12/12/15

Belajar Menulis Lagi

Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Wonosari dari Yogya.

Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yanto, dan meminta kami untuk memakluminya.

"Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang gitu. Tapi gak bahaya, kok."

Ya, sudah kami menurutinya. 

"Wektu ra bakal mandeg mlaku, mbok'o koe terus nunggu (Waktu tidak akan berhenti, meski kamu menunggu)," katanya.


"Nek kesuen le mu nunggu, eman-eman wektumu (Kalau kelamaan kamu menunggu, sayang waktumu). Durung mesti sing mbok tunggu peduli yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu peduli kalau kamu sedeng menunggu). Durung mesti sing mbok tunggu ngerti yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu tahu kalau kamu tunggu)."

Aku mendengarnya, pasti juga dua teman yang bersamaku.Tetapi, mungkin cuma aku yang paham betul artinya, karena dua temanku bukan dari Jawa.

Pak atau mas Yanto itu lalu menyeruput tehnya yang cokelat pekat. Khas orang Jawa, Nasgitel, katanya. Panas, Legi, Kuenthel. Lalu menerawang lagi. Kami juga menyeruput minuman kami, sambil sesekali makan gorengan.

Karena capek, dua temanku memilih pindah ke tempat lesehan untuk menyandarkan punggungnya. Aku lebih memilih di sini. Mendengarkan pak atau mas Yanto terus berceloteh. Ada banyak hal yang dia katakan ada benarnya.

Sesekali dia ngobrol dengan pemilik warung. Tetapi, ya itu. Ngobrolnya ngalor ngidul, ngelantur. Sepertinya orang-orang sini terutama pemilik warung sudah paham kelakuan pak atau mas Yanto ini. 

Di sela ocehannya, sesekali pak atau mas Yanto ini ngomong tentang Tuhan, sesekali lain tentang manusia yang kacau, dan lain sebagainya. Tapi tiba-tiba, dia bisa ngomong hal lain seperti ini.

"Opo gunane meksakke sing wes ngerti hasile ora bakal koyo sing dipeksakke (apa gunanya memaksakan sesuatu yang sudah tahu hasilnya tidak akan seperti yang dipaksakan). Wes ngerti ora iso bareng, kok mekso bareng (Sudah tahu tidak akan bisa bersama kok memaksa bersama). Wes ngerti ora bakal disetujui wong tuane mergo agamane bedo (sudah tahu tidak akan disetujui orangtuanya karena agama yang berbeda), kok yo isih ngengkel nek iso urip bareng suk mbene (kok ya masih yakin kalau nantinya pasti bisa bersama). Mikir duwur kui penting, neng nek ra logis, malah marakke loro ati suk mbene (berpikir tinggi atau berharap tinggi itu penting, tetapi kalau tidak logis nantinya akan membuat kita sakit hati)."

Di sana, aku teringat kamu. Tidak, bukan karena agama kita berbeda. Agama kita sama. Tidak masalah. Hanya teringat pada memaksakan sesuatu yang hasilnya sepertinya tidak akan seperti yang dipaksakan. Itu yang aku pikirkan.

Aku memaksa bertahan selama ini. Kamu tahu benar itu. Aku juga tahu benar itu.

Sekarang coba ingat, sudah berapa lama kamu dan aku, tidak pernah lagi duduk berdua untuk saling berbicara? Sudah berapa lama kamu ingin pergi dan aku terus menahanmu agar tidak pergi? Sudah berapa lama kita seperti orang asing? Hanya ada pertanyaan basa-basi 'sudah makan?' atau 'lagi apa?'

Dulu, sewaktu kita masih saling jatuh cinta, dua pertanyaan itu bisa sangat menyenangkan. Dulu. Dulu waktu masih jatuh cinta. Sekarang, kita berdua sama-sama tahu, kalau itu basa-basi saja.  

"Koe ra bakal neng endi-endi nek karo sing biyen wae koe ra iso lali (kamu tidak akan bisa ke mana-mana kalau dengan masa lalumu saja kamu tidak bisa lupa). Ra iso nduweni sing nggawe koe seneng yen sing nglarani koe malah isih mbok goceki (tidak bisa memiliki yang membahagiakanmu kalau yang justru melukaimu masih kamu pertahankan)," pak atau mas Yanto berceloteh lagi.

Lagi-lagi ingatanku kembali kepadamu. 

Masih ingat, berapa kali kamu berbuat salah dan aku memaafkanmu lagi? Berapa kali aku melewati malam-malam dengan menangis, kamu merayuku, setelah berhasil, kamu bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang pernah terjadi. 

Lalu kamu merayu dan meminta maaf lagi untuk ke sekian kali. Bodohnya, aku memaafkanmu lagi. Seperti de javu. Aku terus bertahan, kamu terus melakukan kesalahan.

Dan tiba-tiba saja kamu ingin pergi. Kamu pikir selama ini aku bertahan itu untuk siapa kalau bukan untuk kita? Terus kenapa kamu yang terus melakukan kesalahan, tetapi kenapa kamu juga yang malah ingin pergi?

Ada apa dengan kita? Ke mana kata-katamu sewaktu berbuat kesalahan dan terus merayu, "Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku."

Ke mana itu semua? Apa bisa tiba-tiba hilang begitu saja, atau memang malah sebenarnya tidak pernah ada? Yang artinya kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku tetapi mencintai kebodohanku yang terus memaafkan kesalahanmu yang sama?

Ajaib. Sekarang ini, melintas semua waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Lalu, semua menyimpul menjadi satu akhir yang baru aku tahu: pada akhirnya, pertahankan hanya yang memang layak untuk dipertahankan. 

Akhir-akhir ini, sudah berulang kali aku melihat handphone, menunggu nada dering. Siapa tahu itu dari kamu. Tapi, tidak. Kalau bukan aku yang menghubungimu lebih dulu, tidak akan ada dering apapun di handphoneku dari kamu. Berarti hanya aku yang menunggu. Hanya aku yang bertahan. Hanya aku yang ... jatuh cinta. Sendirian.


"Kadang wong kui ngerti nek dikandani (kadang, orang itu tahu kalau dikasih tahu), ning emoh ngakoni lan emoh nglakoni (tetapi tidak mau mengakui dan tidak mau menjalani)."

Pak atau mas Yanto ini benar. Tidak ada artinya bersama, jika salah satu dari dua orang tidak 'benar-benar' mau bersama.

Karena itu aku akan berhenti bertahan karena kamu memang tidak mau aku pertahankan. Bagaimana bisa benar-benar 'berpasangan' jika hanya satu orang saja yang memperjuangkan?

Ini batasnya. Ini batas waktunya aku menunggu nada dering darimu. Ini juga batasnya mempertahankanmu. 



It's like epiphany. I'm no longer have the feeling for you like I used to be.






--------
Epifani menurut googling, "Adalah peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yg menjadi titik balik dengan pengaruh berbeda-beda, bisa negatif atau positif tergantung besaran epifaninya."









----
Sedang berusaha menulis kembali. Maaf kalau masih agak belepotan. Harus membiasakan diri lagi.

10/11/15

Hujan dan Senja yang Terasa Lama

Satu satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu. 

Jarak telah membuat kita semakin jarang bertemu. Jarak telah menghadirkan ruang sepi di dada kita. Kamu dan aku bahkan seringkali merasa sendiri saat berada di keramaian pesta. Aku mencari-cari kamu di kepalaku, membawa kamu kemana saja aku pergi. Sesekali aku mendatangi tempat-tempat yang sering kita kunjungi, hanya untuk mempercepat waktu, hanya untuk memastikan kita akan segera bertemu. 

Hujan juga datang membawa pulang kehangatanmu di kepalaku. Sementara tubuhku harus tabah menikmati dinginnya waktu. Namun, demi semua hal yang sudah kita sepakati. Aku pun mengerti, aku harus sabar menanti. Aku harus memperjuangkan apa-apa yang kumiliki. Kamu memiliki aku, aku memiliki kamu. Dan, segala hal yang terjadi kini hanyalah bagian dari perjuangan yang akan kita nikmati nanti. Aku belajar menyabarkan hati, bahwa perasaan lelah tidak akan sia-sia, bahwa segala rindu yang terasa akan menemukan bahagia pada waktunya.

Meski tetap saja setiap senja datang atau setelah hujan kembali pulang, kamu adalah seseorang, yang kadang menjadi alasanku tidak mampu menahan perasaan. Rasa sesak di dada kadang seringkali tidak terkendalikan. Dan, air mata kadang menjadi hujan-hujan yang kusembunyikan. Aku tahu ini berat, tapi bukan alasan untuk melepaskan apa-apa  yang telah kita ikat. Aku tahu rindu itu kadang terasa pilu, tetapi bukan alasan menjadikan kita sebagai masa lalu. 

Kelak, pada senja yang tak lagi sepi, kamu adalah seseorang yang kupeluk erat sepenuh hati. Tidak akan ada lagi jarak yang menakuti, bila suatu saat tiba aku berharap waktu tetap saja melambat bersama kita. Agar aku bisa menatap matamu berlama-lama. Agar aku bisa menikmati senja, juga hujan yang pernah membuatmu merindu buta. Semoga segala hAl yang kita jalani kini seberat apapun usaha menjaga hati. Tidak hanya menjadi lelah yang tak berarti...