30/01/13

Aku menulis untuk Kamu

 Aku menulis ini untukmu. Untuk semua tawa yang sudah kamu buat dan untuk ingatanku yang sudah kamu ikat. Aku tidak pernah menyesali semuanya, meski pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Kamu sudah pernah membuatku tertawa, itu sangat cukup, lebih dari cukup bahkan, dan aku juga menikmati setiap perbincangan kita. Menikmati proses menunggu pagi tiap harinya agar selalu bisa berbincang dengan kamu lagi. Menikmati ceplas-ceplosnya kamu. Menikmati komentar kamu tentang berbagai hal. Kita pernah memiliki waktu yang sangat menyenangkan berdua, bersama.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua perbincangan kita yang hanya bisa aku ingat dan untuk perpisahan kita yang pernah membuat matamu sembab. Aku masih akan menyimpan kamu bergiga-giga byte di memori kepalaku. Suatu saat mungkin akan tertumpuk dengan memori baru tentang yang lain, kebahagian lain, atau peristiwa lainnya. Tapi dengan satu catatan, memori itu hanya ada di sana dan tetap di sana, karena aku tidak akan pernah menghapusnya. Mungkin akan muncul begitu saja seperti yang sudah diciptakan secara otomatis ketika mendengar lagu kita berdua. Tapi kenangan hanya kenangan, bukan? Tidak pernah menjadi masa depan.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua kalimat yang pernah atau belum aku ucapkan dan untuk perpisahan kita meski kita tidak pernah bersatu, karena kalau Tuhan berkata tidak, seberapapun jatuh cintanya kita berdua tetap saja Tuhan akan memisahkannya. Jadi, mau tidak mau kita harus menerima. Seberapapun pahitnya. Suatu hari nanti, kalau Tuhan berkenan, mungkin kita akan dipertemukan lagi bersama kebahagiaan kita, atau kebahagian masing-masing. Mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kita bahwa kebahagiaan itu bukan satu jalan, bukan dari satu orang, tapi ada banyak jalan dan ada banyak orang yang punya kesempatan sama untuk berbahagia.

Bahagia selalu datang tepat pada waktunya. Mungkin kitanya saja yang selalu terburu-buru mengartikan kalau bahagianya sudah datang, sementara menurut Tuhan belum. Hanya sebuah batu loncatan untuk belajar membina hubungan sebelum orang yang benar-benar diciptakan untuk kita itu didatangkan.