01/01/13

Aku suka mereka

Kenapa aku suka mereka ini ?

Aku suka saat matahari pagi menyapaku dengan kehangatannya yang lembut, membuatku meyakini masihnya ada harapan untukku hari ini. Menyapu kegelisahan dan lelahku setelah terjaga oleh malam tadi. Juga memberiku kekuatan untuk masih menegakkan kepala.

Embun pagi yang membawa aroma alam, sangat membantu meditasiku. Pencerahan pikiran dan hatiku. Memberi energi positif yang luar biasa dalam jiwaku. Untuk selalu bisa mengembangkan senyum dan melebarkan mata.

Mereka tidak sendiri, aku juga suka kehidupan hutan. Yang penuh kicau burung, nyanyian jangkrik hingga dedaunan yang saling berpelukan. Udaranya beraroma lembut tak menyengat. Dilengkapi dengan gemericik arus sungai yang seolah mengajak bermain sepanjang hari.

Yang lain lagi, saat aku berlari di tepian pantai tersapu ombak. Angin yang membawa kabar dari negeri seberang. Bahwa hari ini akan selalu cerah. Selalu sejuk hingga sore hari. Lebih-lebih aku bisa meneriakkan namamu kencang-kencang. Sepuas hatiku. Lebih untung lagi diriku, saat bisa membantu pergantian hari ini dengan menunggu matahari kembali beristirahat.

Aku bersyukur pernah hidup didunia ini bersama dengan beragam tingkah laku alamnya. Gunung yang memberikan sudut pandang dramatis pada matahari untuk kembali tersenyum, pantai yang memberikan kesan romantis pada rembulan yang sedang menari-nari. Alam raya ini sungguh luar biasa.

Namun sekarang, tidak lagi aku membutuhkan banyak waktu untuk berlari ke gunung, juga turun ke pantai untuk mencari itu semua. Aku sudah mendapatkan semuanya dalam satu waktu, satu pandangan, satu aroma, satu suara. Semua sudah lengkap, bahkan kelewat lengkap dari yang pernah kurasakan di alam ini. Sekarang aku bisa menyebutnya Semesta Alam. Semua itu akan bisa aku sebut ketikaku bersamamu. Ya, kaulah semestaku. Tidak akan bisa aku berlari tanpamu, berpisah darimu, terlepas olehmu. Karena kau adalah dimana aku hidup, dan kau adalah dimana tempatku tuk bernafas. 

Duhai Semestaku, jangan biarkan ku kehilangan rasa ini. 
Dampingiku, jangan bosan padaku yang hidup padamu. Jangan buang diriku meski aku benalu bagimu, karena pada siapa lagi aku memohon nafas
kebahagiaan, jika bukan pada tempatku.