06/02/13

 Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang mampu membuat senyummu selalu ada, tapi bisa juga membuat senyummu itu hilang dengan beberapa alasan yang ada. Seseorang bersamamu, tapi hatiku malah tetap (ingin) bersamamu. Konyol bukan ? ahh.. tidak. Bukan. Ini hanya masalah kurangnya komunikasi saja yang kamu jelas tak pernah memberikanku kesempatan untuk menceritakan padamu, tentang apa yang terjadi dihatiku sekarang semenjak ada kamu.

Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang bisa  dikatakan ia sosok pria yang diberikan rezeki yang luar biasa oleh Sang Kuasa. Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang dikirimkan Tuhan untukmu agar kamu bisa mengerti apa itu mencintai (katamu). Seseorang yang bersamamu, yang sudah pasti bukan aku tapi dirinya.
Ia memilikimu sekarang. Memiliki hatimu kan ? lalu aku, apa yang kumiliki sekarang dengan terus seperti ini ?
Aku memiliki tawamu yang kapan saja ku mau bisa ku lihat. Dengan menceritakan beberapa cerita lucu saja untukmu, sudah pasti tawamu akan nyaring terdengar ditelingaku lalu akan akan berpura-pura memarahimu dan berkata “Kenapa tertawamu bisa seburuk itu ?”. kamu tidak memarahiku, hanya tertawa saja terus  hingga aku kesulitan menahan detakan jantungku yang terlalu bahagia melihat kamu bisa sebahagia ini (saat bersamaku).

Aku memiliki senyummu yang kapan saja aku mau bisa juga aku melihatnya. Dengan duduk manis, diam disampingmu. Mendengarkan kamu bercerita tentang hal ini dan itu, lalu selanjutnya memberikanku kado yang berbentuk ‘senyumanmu’. Jika sudah seperti ini, aku pasti akan berpura-pura lagi mencomotimu dengan berkata “jangan tersenyum sok unyu seperti itu. kamu bukan anak kecil yang pipinya kemerahan dan menggemaskan. Jadi biasa saja..”. kamu sama sekali tak tersinggung dengan perkataanku tapi kamu tahu, disini dalam hatiku ini rasa-rasanya sesak sekali. Sungguh.

Tapi jika sudah berrbicara tentang ‘dirinya’ aku sendiri yang sedekat ini denganmu, selalu tak merasa ini adalah kamu. Ya, mengapa tidak ? kamu selalu saja menceritakan hal apa saja yang menjadi kelebihannya. Kamu selalu saja bisa menggambarkan bagaimana baiknya ia memperlakukanmu, dan yang paling menyesakkan hatiku ialah pada saat kamu berkata bahwa suatu hari nanti dia juga yang akan menjadi akhir untuk kamu cintai.

Seseorang bersamamu, sekarang. Ia mencintaimu, tapi jika diadu siapa yang lebih besar perasaannya terhadapmu, apa masih bisa dia yang kamu percaya teramat sangat mencintaimu bisa menjadi pemenangnya ?  jika benar, syukurlah.. itu berarti aku harus lebih banyak lagi belajar dari dirinya agar bisa mendapatkanmu.

Tapi, jika kelak nanti kamu mencintaiku setelah dia tak mencintaimu lagi aku mana mau ? bukankah aku sudah terlalu lama memberikanmu isyarat bahwa cinta itu bukan hanya ada pada saat dirimu bisa sebahagia sekarang, tapi pada saat tersulitpun cinta harus tetap ada. (dan sama seperti yang biasanya ku lakukan untukmu. Bahagia atau tidak selalu saja, aku ada