13/04/13

Hai

Hai, Fa. Sejak kapan hidup menjadi tentang melupakan?
Kekasih barumu meminta aku melupakanmu segera, pun kekasihku yang baru sering kali bertanya-tanya apakah aku sudah melupakanmu atau tidak.
Memangnya sejak kapan hidup menjadi tentang melupakan? Sejak kapan kita diharuskan untuk lupa tentang orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita? Memangnya ada orang yang bisa benar-benar melupakan? Kecuali karena amnesia, aku ragu ada yang bisa melakukannya.
Aku tidak mengerti dengan konsep melupakan. Aku bahkan masih ingat dengan beberapa kejadian sewaktu aku masih balita, dan aku tidak mungkin menyengajakan diri untuk melupakan hal-hal tersebut. Sama halnya dengan memaksakan diri untuk melupakan. Ada banyak orang yang melakukan banyak usaha untuk melupakan. Dimulainya dari membuang barang-barang yang menaruh kenangan, hingga menghindari topik-topik tertentu yang akan membuatnya kembali mengingat.
Tapi bagaimana pun juga, kenangan mengenai seseorang tak ubahnya peluru yang ditarik pelatuknya. Pemicu kenangan tersebut bisa apa saja,
lagu,
gambar,
celetukan dan obrolan,
tempat yang sering dikunjungi,
bagaimana pun juga kenangan sudah menjadi bagian dari dirimu sendiri dan tidak bisa ditinggal begitu saja.
Aku heran, bukankah yang seharusnya dilakukan itu menerima ya, Fa?
Menerima kenyataan bahwa perpisahan sudah seharusnya terjadi. Seperti pertemuan yang sudah-sudah, sering kali perpisahan datang seperti saudara kembarnya yang lahir terpisah.
Seharusnya yang kita lakukan adalah belajar mengenai penerimaan. Menerima bahwa perpisahan terjadi bukan tanpa alasan, bahwa Tuhan hanya sedang menyelamatkan kita dari orang yang salah, meski pun hal itu harus dilakukan dengan cara membiarkan hati patah.
Jadi katakan, sejak kapan hidup menjadi tentang melupakan?

P.S. Dan sebagai orang yang paling mematahkan hati, kau adalah guru terbaik dalam pelajara