13/04/13

Masih mengingatkah

3 Minggu. Terlepas dari rutinitas yang sudah hampir tiga tahun aku jalani. Terbiasa tidak bertemu lagi dengan materi-materi rutin yang harus diselesaikan. Orang-orang yang baik di muka dan menusuk pada punggung kita. Juga terpisah dari dirimu. Kamu yang berbeda dari muka topeng mereka. Apa adanya tanpa masker. Merasakan hari yang berbeda tanpamu tidak seperti ketika aku kehilangan pekerjaanku. Aku masih bisa mencari yang lain, bahkan aku bisa menciptakan untukku sendiri. Jauh dari rekan kerja yang busuk tak seperti berpisah darimu yang aku memang tidak butuh rekan seperti mereka.

Aku tidak bisa menciptakan rasa yang sama atau yang lebih baik tanpamu. Bersamamu membuatku merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi. Namun jika terpisah seperti ini, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya aku butuhkan untuk bisa sedikit tenang. Kita masih bisa bertemu, pesan singkat juga mengobrol di telepon bisa kita lakukan. Setidaknya ketika kita sedang pada kondisi kita sendiri. Tanpa sibuk, tanpa keadaan yang mengharuskan kita untuk memelankan suara ketika telepon kita masuk satu sama lain. Saat ini tidak seperti dulu, ketika kita bisa dengan mudah untuk bisa bertatap muka, melempar senyum, ngobrol, walaupun pada akhirnya juga kita akan berjalan menjauh ketika saat kita sudah habis.

Hari-hari seperti ini, seringakali aku membanyangkannya. Namun kenyataan, sangat jauh dari skenario-skenario imajinasi yang pernah tercipta. Tanpamu memang sangat membuatku menjadi orang yang paling haus dan lapar di dunia ini. Meski sudahku berulang kali mencari penawar haus itu, bahkan hingga terasa penuh perut ini oleh minuman-minuman itu, tetap saja tidak mampu menghapus segala dahaga ini. Makanan-makanan lezat yang banyak aku dapatkan, tak sanggup pula mengenyangkan batin ini.

Kamu dimana, sedang apa, dan bersama siapa? Masih ingat dirikukah engkau? Dua hari yang lalu tepatnya, aku sedang berada di kotamu dan sekitarnya. Sengaja aku untuk hanya berputar-putar mengelilingi kota yang banyak memberi tempat untuk bisa dikenang (bersamamu harusnya). Keadaan itu, benar-benar seperti di beberapa film mellow yang pernah aku tonton. Aku berada didalam mobil, sendiri, mendengarkan lagu romance, dan diiringin rintik hujan. Aku benar-benar puas. Bisa menciptakan kembali imaji tentang kita dengan lepas, memanggil kembali memory, saat ketika aku melintasi tempat atau jalanan yang pernah membuat kita tertawa maupun menangis.

Aku sangat puas dan bebas, bahagia, meski tanpa sosok dirimu. Beberapa saat kemudian, aku teringat membawa flashdisk di dalam tas ku. Karena sulit untuk mencari lagu-lagu yang bisa membuat angan ini lebih kondusif, aku pasang FD ke player. Alih-alih mencari koleksi laguku yang lebih nyaman untuk telan. Dan, ini rasanya memang Tuhan sedang membuatkan cuplikan film romance untukku. Kau tahu, bukan lagu-lagu favoritku yang meraung. Tapi, lagu-lagu yang pernah kau berikan padaku. Lagu-lagu tentang kita membahas suatu moment, tentang apa yang tercipta waktu itu. Dan sekarang terdengar seperti satu album kompilasi termahal di jagat ini. Mendengar semua lagu-lagu itu semakin menjadikanku betapa nyata tanpamu. Sangat nyata jauh dan berjarak darimu. Andai aku bisa singgap ditempatmu malam itu. Andai aku bisa. Akan sedikit terhapus lapar dan dahaga ini, meski sekejap.

Lagu itu ---

Project Pop - Komplikasi
Agnes Monica - Rindu
Ajeng - Jangan Pernah Tinggalkan
Bunga - Kasih Jangan Kau Pergi
Rihanna - Only Girl in The World
Ungu ft Ayu - Jika Itu Yang Terbaik
The Corrs ft Alejandro Sanz - The Hardest Day
The Gecko - Pasti Cemburu


masih ingat?