01/01/13

Inspirasi Analogi Cinta Sendiri


“Rasanya ingin berdiam di dalam toples kerupuk yang tegak mati di sisimu. Rasanya ingin mengamatimu lebih dekat dari dasar gelas kopi itu.”— AK
29 Januari 2012

Entah berapa banyak daftar nama pria yang pernah begitu saya sukai. Jari saya mungkin masih cukup untuk menghitung mereka. Saya bukan tipe perempuan yang mudah jatuh hati, pun bukan perempuan yang pandai melupakan. Walau sampai di detik di mana saya menuliskan tulisan ini, saya tidak pernah berani menyebut nama siapa pun sebagai cinta pertama saya. Tapi saya tahu persis bagaimana rasanya bersemu merah jambu ketika kamu, secara sengaja atau tak sengaja, bertatapan pandang dengan dia yang begitu menarik perhatian hatimu.

Pengagum rahasia ya secret admirer, Menyukai seseorang diam-diam, begitu makna dari kalimat itu. Apa menurutmu mereka yang menyukai seseorang diam-diam adalah seorang pengecut? Ya, mungkin banyak yang berpikir demikian. Tapi tidak bagi saya. Tulisan ini saya buat terinspirasi dari kisah saya sekarang ini juga novel yang baru saja saya selesaikan "analogi cinta sendirian" ini buku emang super duper asli bin nyata. Yang notaben sedang saya lakoni, Saya menganggap, pengagum rahasia adalah mereka yang terlalu berani bertaruh dengan hatinya. Menyukai seseorang dalam diam bukanlah hal yang mudah. Akan ada banyak kekecewaan yang harus ditanggung seorang diri. Dan, tidak semua makhluk di dunia ini sanggup memilihnya dan berani menjalaninya.

Saya rasa, walau pun hanya sekali, setiap dari kita pasti pernah mengalaminya. Terkadang pilihan itu kita ambil karena alasan yang beraneka ragam. Tapi bagaimana pun berbeda alasan, 'rasanya' pasti nyaris sama persis. Bagaimana ketika dia yang kamu sukai diam-diam, melewati wajahmu dan jantungmu pun berdegub cepat, dan hanya dirimu sendiri yang mengetahuinya. Ah, saya rindu akan perasaan seperti itu. Pernah mengalaminya adalah keberuntungan. Ya, walau pun saya harus mengakhirinya dalam diam, itu bukan jadi persoalan.

Ada satu pria yang pernah saya kagumi diam-diam dulu. Bahkan sampai sekarang, kalau saya mengingat bagaimana saya bisa menyukainya saat itu, saya masih sering senyum-senyum sendiri. Dia bukan pria yang ‘Wah’. Dia sederhana dan menawan dalam diam-nya. Secara fisik, dia mempunyai badan tegap tapi bukan tipe pria idaman saya. Ya, kalian pasti punya pria pujaan yang kerap kalian perbincangkan dengan teman-teman hanya karena wajahnya berkilau di bawah terik matahari kah, tapi, dia bukan pria seperti itu. Bagaimana kalau kita panggil dia ‘Mendung’...
Bukan, bukan karena dia kerap membuat mata saya basah karena hujan air mata.. Saya memilih nama Mendung adalah karena setiap kali saya berpapasan dengannya, semesta seakan teduh. Ia, seperti keteduhan bagi hari-hari tidak sederhana saya di sekolah dulu.

Mendung umurnya 2 tahun diatas saya, kadang karena ulahnya saja bisa membuat saya tersenyum kecil saat menyadari bahwa kami, tanpa direncanakan tengah bediri di tepi trotoar yang sama untuk menyebrang. Mendung membuat saya kerap menerka, apa yang kerap dia pikirkan di kepalanyanya saat ia tengah melahap semangkuk mie ayam di bangku kayu pinggir trotoar Yang biasa kami sebut "kolong" yah tempat nangkring anak-anak yang sedang tidak ingin masuk pelajaran. oh... Tidak, rumah kami tidak se-arah. Tapi kami melewati jalur yang sama sebelum akhirnya berpisah di persimpangan jalan, untuk kesekolah dia memilih jalan yang melewati warkop dekat sekolah dan saya memilih jalan depan gerbang utama. Itu yang membuat kami, kerap bertemu di jalan

Entah kapan tepatnya saya mulai menyukainya. Tapi ada dua kejadian yang begitu saya ingat sampai detik ini yang entah kenapa melekat begitu kuat di kepala saya.

Pertama, adalah saat saya untuk pertama kalinya menyadari keberadaannya di sekitar salah satu kantin kampus dibandung. Di siang yang berdebu itu, di sebuah warung penjual hayam cola. Mendung duduk di seberang meja kami. Ya, saya dan teman-teman sedang berkumpul dan menikmati makan siang kami. Dia duduk sendiri di sana. Wajahnya yang bulat dan bibirnya yang mungil bersemu merah, entah karena cuaca atau sepiring makanan yang pedas itu. Saya tak begitu memikirkannya. Sampai di suatu ketika, seorang peminta-minta masuk dan menghampiri tempat duduknya. Mendung, sembari menyeka keringat di keningnya, mengeluarkan dompet dan mengambil selembar dua ribu rupiah baru dari dalamnya. Memberikan uang itu sembari menutupinya ke dalam kantong bekas permen yang disodorkan oleh peminta-minta itu.

Saya memperhatikannya. Uang lembaran baru itu lah yang awalnya menarik perhatian saya, selembar uang yang tampak begitu rapih. Sedang saya, saya selalu saja tidak bisa tahan melihat uang seperti itu, setiap kali memiliki lembaran uang baru, maka sekejap mereka akan tampak lecek. Karena saya sembarang memasukkannya ke dompet atau melipatnya terburu-buru sebelum akhirnya memasukkan mereka ke kantong saku. Mendung, dia seorang pria, tapi dia mampu menjaga kerapihan lembar uang itu lebih baik dari saya. Hal yang mungkin tak akan pernah diperhatikan oleh orang lain, tapi di detik itu, dia lah yang mampu membuat saya sedikit lebih lama memandangnya. Mendung, gerak tubuhnya yang lembut. Membuat saya berani menarik kesimpulan kalau dia adalah pria baik yang bahkan nyaris tak pernah membentak siapa pun dalam hidupnya. Dan senyumnya, sewaktu memasukkan uang itu ke dalam kantong, entah kenapa bersinar begitu saja.

“Manis" Itulah isi pikiran saya detik itu.

Kedua, berbulan-bulan setelahnya, saya kembali satu atap bersamanya. siang itu, dengan perut yang keroncongan saya dan seorang teman memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan. Karena model makan di sana yang prasmanan, kami berpikir akan jauh lebih kenyang makan di sana. Demikianlah isi kepala anak SMA yang Kelaparan.

Dan saat saya masuk ke dalamnya, hanya ada satu orang yang tengah duduk di sana. Ya, itu Mendung dengan segelas kopi hitamnya. Seperti biasa, saya pun tersenyum kecil. Saya duduk di depannya. Sesekali saya melihat matanya yang bening mengarah ke layar tv yang ditempel di dinding. Lalu mulai menerka apa yang tengah dia pikirkan detik itu. Pikiran saya bermain-main ke sana dan ke sini. Tubuhnya yang atletis karena seorang pendaki gunung addicted , Padahal sebelumnya Mereka bukan tipe saya, tapi bila itu kepunyaan Mendung, maka mereka entah kenapa begitu ingin saya miliki. Apa cinta selalu begini? Mengaburkan segala yang tidak pas di matamu, menjadi seakan lengkap begitu saja? Ajaib.

Tapi bukan itu yang membuat kejadian ini jadi istimewa. Mereka jadi istimewa ketika saya melihat Mendung bangkit dari kursinya, menghampiri ibu penjaga warteg dan membayar segelas kopi dan dua potong tahu isi yang baru saja dia lahap. Mendung membungkuk sopan saat memberikan uang itu, lalu tersenyum lembut ke arah ibu penjaga warteg sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.

Sedang biasanya, pengunjung lain, termasuk saya, hanya akan bertanya tentang jumlah bill sambil tetap duduk malas di kursi dan membiarkan si ibu penjual menghampiri uang yang menjadi haknya.

“Manis.” begitulah hati saya kembali berucap detik itu.

Ya, mungkin demikianlah cara seorang aisyi jatuh hati. Sesederhana itu, seorang pria mampu menarik perhatian Mendung, dari puluhan pria lain yang bermobil dan ber-gadget keren. bahkan mereka sama sekali tidak berarti dibandingkan Mendung.
Saya pernah menulis diary saat itu kejadianya setelah teman saya mengembalikan sejumlah uang kepada mantan pacarnya. Dengan alasan harga diri ya dia berani memberikan kembali apa yang telah diberikan, kalau saya begitu takut dengan uang banyak. Saya sadar Mendung bukan berasal dari keluarga sederhana. Dia berada. Bahkan sangat berada. Entah apa yang membuatnya selalu memilih untuk naik angkot ke sekolah saya pun tak pernah tahu. Para pria-pria itu, yang selalu menampakkan kemewahan dalam kehidupannya, mereka membuat saya takut. Bukan hanya karena saya saya tidak se-berada mereka, tapi lebih kepada saya takut tenggelam dalam kilauan hidup mereka. Tak ada yang menarik dari diri mereka selain kesombonganya. Saya memang merasa hidup dalam uang berkecukupan, tapi karena saya anak satu satunya saya kadang merasa jauh dari kebahagiaan. Dan saya tidak ingin hidup bersama mereka yang tengah merasakan hal yang sama. Atau kembali mengulangi hal yang sama.
***

“Aku suka, bagaimana cara kaki-kakimu melangkah. Dengan seksama aku mencintainya, lalu ingin mengikuti perjalanannya.”— ica

Kalian tahu, ada saat di mana saya dengan rela menaiki angkot dan menyuruh teman saya membawakan mobil pulang kerumah saya hanya demi mendung. angkot yang saya tumpangi dan yang Mendung tumpangi berhenti karena kemacetan. Saya memandanginya, dari dalam jendela kaca kotor dan panas yang saya tumpangi, memandangi wajah teduh Mendung.

“Ah ya, kamu tidak pantas sekali berada di dalamnya. Pria baik hati sepertimu, seharusnya selalu terlindungi dari bau kenalpot ini.” Begitulah isi pikiran saya detik itu, sebelum dia akhirnya menoleh dan saya memilih menunduk-kan kepala, menyembunyikan kehadiran diri saya.

Saya selalu menikmati momen beberapa menit di persimpangan di mana kami saling bertemu itu. Ada hari-hari di mana takdir membuat kami berada dalam ruang waktu yang sama, walau di dalam ruang yang berbeda.

Saya benci hujan di bandung karena selalu saja membuat mobil saya mudah kotor dan jalanan macet. Tapi bila di trotoar itu ada dia yang berdiri tegak, saya ingin hujan jatuh lebih lama lagi. Agar kemacetan menahan kami yang. Lucu ya?

Saya merasa menjadi pengagum rahasia yang paling bahagia detik itu. Kami pun pernah berbagi kelas yang sama di pelajaran olahraga. Ada kejadian bodoh yang terjadi ketika saya kaget dan menyadari bahwa Mendung berolahraga pada hari yang sama. Ponsel saya berbunyi dan saya bahkan tidak bisa mematikan suara musiknya yang keras karena terlalu gugup melihat tatapannya. Hingga seluruh teman termasuk gury menatap saya yang tengah berusaha menekan semua tombol yang ada di ponsel, agar musiknya bisa mati. Dan ketika musik itu akhirnya berhenti, saya melihat senyum tipis tergaris di wajahnya.

Saya merasa menjadi pengagum rahasia yang paling tidak profesional detik itu. Tapi anehnya, entah kenapa saya merasa bahagia.

Itu pun menjadi hari yang spesial, karena hari itu adalah kali pertama saya membuatnya tersenyum. Bahkan tanpa harus mengenalkan diri.

Dan, kelas itu pun menjadi spesial. Karena setelah kelas itu berakhir dan semester pun berganti. Dan dia lulus dan melanjutkan kuliah di jakarta. Saya memutuskan untuk berhenti menjadi pengagum rahasianya. Ya, suka yang diawali dengan mudah, pun harus diakhiri dengan mudah. Jangan merusak indah kesederhanaannya dengan drama-drama yang tak diperlukan. Saya bukan bagian dari mereka yang akan bertaruh terlalu lama untuk sesuatu yang saya mulai tanpa pikir panjang. Sejarah mengajarkan saya untuk sepandai mungkin menjaga hati dari kekecewaan.

Hai Mendung, dalam sapaan yang tak pernah sempat terucap ini, saya harap kamu selalu terlindung di dalam hati yang paling teduh. :)

“Kerlip bintang telah berpulang, hamparan pendar telah memudar. Dan yang setia tinggal, hanya sepasang pandang milik kita."— Aisyi
30 Juni 2012