12/08/13

Eps 798

Pagi ini. Aku masih tersenyum seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang lebih indah. Itu sebutan kita, untuk mengawali rangkaian cinta kita. Sungguh indah dunia ini karenamu sayang. Seperti biasa, kau akan membangunkanku dengan cara lembutmu. Kecupanmu selalu membuatku tersenyum sebelum aku membuka mataku. Tiap hari, hampir tiap hari tepatnya aku akan selalu tidur lebih larut daripada dirimu. Dan kau akan menjadi pandangan pertamaku membuka mata karena aku akan lebih lama bangun. 
Kopi, roti bakar coklat juga teh hangat kesukaanmu selalu menjadi santapan terindah kita di awal pagi. Matamu dan mataku beradu dan senyum kita menjadi saksinya. I Love You Honey. I Love You too My Dear. Entah siapa duluan yang mengucapkannya, tapi kita suka melakukan itu. Tak lupa tawa kecil kita akan menjadi penutup kalimat sakti kita. 

Jam dinding masih di angka tujuh lebih di tiga puluh. Hari ini kita akan menjadi penghuni surga dunia seharian. Menghabiskan makanan di kulkas, mainan air di kolam, kejar-kejaran di kebun belakang, keliling sekitar desa dengan ATV. Surga kita. Kau istriku. Aku suamimu. Kalau dirumah bisa, ngapain kemana-mana. Itu mottomu. Motto cintamu padaku.

Bau embun masih segar tercium, tercampur aroma ikan bakar sisa semalam yang selalu aku yang menghabiskan. Pesta Kebun Cinta. Itulah party kita. Tiap akhir pekan akan seperti itu. Hampir selalu seperti itu. Sabtu siang selepas aku kerja, kau menjemputku. Tiap sabtu aku akan selalu minta antar dirimu ke kantor, karena untuk memastikan diriku tidak akan pergi weekend bersama teman-temanku. Jadi kalaupun aku akan pergi bersama mereka, kau akan selalu ada disampingku. Dan kita akan bisa langsung pergi ke rumah kita di puncak. Mbok Nah, sudah pasti akan menyiapkan segala sesuatunya untuk kita berdua. Beliaulah orang yang selalu menjadi orang kedua setelah bapak ibuk, untuk kita bahagiakan. Dari beliau pula kita belajar banyak tentang kesederhanaan yang bisa menjadi luar biasa. Bahkan ide Surga Dunia Seharipun adalah ide beliau untuk kita. 

Di tengah kota yang padat memang perlu untuk kita menjaga keintiman yang banyak orang mengabaikan.“Wong villa segede ini kok ya sing duwe malah jarang nengok tho mbak“ ucap Mbok Nah suatu ketika padamu. Yang akhirnya beliau menjadi inspirator surga kita. Meski banyak yang memesan untuk weekend, namun kau selalu bilang untuk jangan takut akan rezeki dari Tuhan, rezeki bukan hanya dari menyewakan villa.  Mbok Nah, penjaga rumah kita di puncak, rumahnya hanya berjarak 10 meter dari tempat tinggal kita. Tiap kita ”menyewa“  rumah kita, Mbok Nah akan menyiapkan keperluan-keperluan kita dan beliau memilih untuk ”mengungsi“ sebentar kerumahnya. Beliau tinggal bersama suami dan dua orang cucunya yang masih sekolah dasar. 

Sore hari. Ini adalah momen awal kebahagiaan kita. Lilin-lilin cinta mulai kita nyalakan, gerimis masih menyelimuti kerajaan kita. Rayuan mautmu selalu berhasil membiusku untuk mengiyakan pintamu. Dan. Kau berhasil. Kita berhasil. Jariyah pahala juga masih mengiringi Mbok Nah sekeluarga. Ibadah Indah kita, mau tidak mau juga karena beliau. 

Malam ini, aku sangat bahagia. Bisa ada disampingmu. Balkon cinta kita, masih bertaburan bintang. Germis tidak menyurutkan bintang untuk berpijar. Kita hanya diam. Senyum satu sama lain, sesekali menatap bintang. Kau di pelukanku. Aku memelukmu. Hampir dua jam, kita hanya diam. Dan perasaan ini hanya kita yang bisa tau. Kita saja. Dan Tuhan tentunya.

Ini adalah episode ke 798 kita. Episodeku memimpikan kita bisa bersama.  Dan aku masih menyimpannya di harapanku. Semoga menjadi nyata.