08/08/13

Kekasih Pacarmu

Selamat malam, Nona.
Apa kabarmu? Semoga baik-baik selalu.
Mungkin pembuka surat ini terdengar klise dan membosankan, tapi sungguh, aku mendoakanmu baik-baik saja.
Bagaimana kabarmu dengan dia? Aku dengar kalian baru saja merayakan hari jadi yang ke tiga. Maksudku, kamu sendiri yang merayakannya.
Bagaimana aku bisa tahu?
Oh, Nona. Pikirmu siapa yang membalas pesan-pesanmu yang mengganggu di hari itu? Kamu tak akan tahu ada siapa di pelukan pacarmu ketika padamu ia berkata sedang mengantarkan ibu.
Jangan terkejut, jangan gusar, jangan pula merasa kamu adalah yang paling menderita hatinya.
Kamu memang satu-satunya, Nona.
Aku serius. Pacarnya memang cuma kamu, namun kekasih hatinya bisa siapa saja.
Pikirmu dengan siapa pacarmu merasa paling bahagia? Hubungan kalian tak lebih dari sekadar keterpaksaan, tak lebih dari sekadar saling enggan menjadi yang menyakiti duluan.
Aku tidak bermaksud untuk bersikap menyebalkan, aku hanya ingin memperingatimu dengan hati-hati. Semua sikap menyebalkan pacarmu akhir-akhir ini bukan tanpa alasan.
Bagaimana aku bisa tahu?
Oh, Nona. Karena akulah alasan itu.
Tapi aku tidak memintamu untuk meninggalkan pacarmu, aku juga tidak pernah memintanya itu. Menjadi kekasih hatinya jauh lebih menyenangkan daripada merebut posisimu sekarang.
Satu hal saja, Nona.
Sejak awal surat ini hanya menyampaikan bahwa aku selalu mendoakanmu baik-baik saja. Aku benci kalau kau jatuh sakit, Cantik. Kekasihku terpaksa membuang waktu untuk bersamamu hanya agar mendapat citra pacar yang baik.
Itu menyebalkan, sungguh.
P.S. Terima kasih untuk memilih bermalam minggu dengan sahabatmu sehingga malam ini dia bersamaku.
Salam hangat,
Kekasih Pacarmu.