11/08/13

Tissue

Seorang sahabat datang padaku. Dia datang bersama pertanyaan sederhananya. “Bagaimana perasaanmu setelah membacanya?” Aku jawab :  Apa maksudmu? Lalu dia tersenyum. Dan mulai bercerita tentang pertanyaanya.
10 menit sebelum dia datang padaku. Istrinya mampir ke kantor tempat temanku dan aku bekerja. Menanyakan apa sudah makan siang atau belum.  Dan di akhir pertemuan mereka, sebelum si istri beranjak pergi. Ia memberikan selembar tisu pada teman ku. Selembar tisu yang di akhiri dengan senyuman pada wajah sang istri. Selembar tisu yang menjadikan temanku menyatakan pertanyaan sederhana padaku.

Tidak ada yang istimewa pada tisu tersebut. Bahannya pun biasa seperti tisu-tisu pada umumnya. Tidak selembut dan seharum tisu-tisu yang biasa di bawa wanita pesolek kemanapun mereka pergi. Namun ada yang membuatnya berbeda. Tisu yang bertuliskan tangan. Sepenggal kisah. Rangkuman hidup. Lebih tepatnya, sekeping curahan hati. Dari istrinya.

Hhmmm.. mungkin jika kita membacanya, nampak seperti penggalan kalimat yang ada di salah satu cerpen majalah. Tapi tidak bagi sahabatku itu. Ukiran tangan tersebut semacam udara hangat yang mampu memecahkan kristal-kristal mata yang lama telah membeku. Selang setelah dia menanyakan bagaimana perasaanku setelah membaca surat itu. Sahabatku memberikan beberapa pilihan jawaban. Ah, temanku ini baik sekali.. masih saja dia sempat memberikanku pilihan. Aku tersenyum.
  1. Apa kau akan bersikap biasa saja. Tertegun. Tidak tau apa yang harus di jawab?
  2. Apa kau akan tersenyum serta membayangkan betapa manis tingkah istrimu?
  3. Apa kau akan menangis karena kau merasa belum bisa membahagiakan istrimu selama ini?
  4. Apa kau akan merasa berdosa karena kau benar-benar tidak memikirkan dia selama ini?
  5. Apa kau akan menangisi keadaanmu, karena memang kau benar-benar belum membahagiakan dia. Justru kau selalu menyaikiti dia. Membuatnya selalu menangis. Dengan segala kebohonganmu. Lalu kau semakin menangisi keadaan rumah tangga yang di ambang kejenuhan. Apa kau akan seperti itu?
  6. Bagaimana perasaanmu? Apa kau masih bingung harus menjawab apa?
Enam pilihan jawaban itu tidak membantuku sama sekali. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaannya tanpa memebaca surat tersebut. Lalu aku memintanya untuk boleh membaca selembar tisu itu. Dia sahabatku. Sahabat sebenarnya. Dan, dia benar-benar memintaku untuk membacanya.
Tisu itu bercertita tentang :
Betapa bahagia istrinya bersuamikan sahabatku. Betapa bersykurnya dia mendapatkan sahabatku. Tentang kerikil-kerikil yang menguji rumah tangga mereka. Dan betapa sabarnya istrinya menyingkirkan kerikil bersama sahabatku. Biduk rumah tangga yang hampir roboh. Kepasrahan istrinya menerima semua perlakukan sahabatku. Serta harapan istrinya pada sahabatku. Harapan seorang istri, untuk tetap mencintainya sama seperti kali pertama bertemu. Tulus. Sabar. Apa adanya. Dan banyak hal yang hanya mereka yang mengerti dari semua pesan singkat itu.
Hampir-hampir aku tidak tahu. Mungkin karena larutnya aku membaca surat tersebut, aku tidak sadar. Di sampingku, sahabat yang selama ini selalu bersamaku dalam duka maupun suka. Berurai air mata yang telah lama mengkristal itu. Sambil tersenyum. Dan tanpa suara. Namun jeritannya bisa aku dengarkan meski hanya dalam hati.
Sore itu, setelah aku mendengarkan semua curahan hati kawan karibku. Dia berpesan padaku. Pesan singkat yang dia tidak boleh aku melupakannya.

Cintai istrimu lebih dalam. Cinta yang sesungguhnya. Bukan karena kau rindu padanya. Bukan karena kau butuh dirinya. Bukan karena kau sayang padanya. Bukan pula karena kau mengerti akan dirinya. Karena cintamu yang sesungguhnya akan mebawamu pada semua itu. Rindu, sayang, butuh, juga memahaminya. Tanpa kesungguhan cinta, semua itu tidak ada artinya. Kau tidak akan bisa rindu senyatanya padanya, sayang sebenarnya padanya, butuh segalanya darinya, juga paham hatinya yang tedalam. Jika kau mengatakan kau telah memahaminya tanpa kau mencintainya dengan dalam, maka kau telah berbohong padanya. Kau....harus....mencintainya kembali seperti kau pertama mencintanya dengan tanpa kenal siapa dia sesungguhnya. Ketika kali pertama kau di butakan cinta kepadanya. Itulah cinta yang teramat dalam. Kawanku..updatelah cintamu setiap saat. Dan, jangan pernah lupakan pesanku ini. Kau tidak perlu memilih pilihan jawaban yang aku berikan. Karena jawaban itu hanya bagi orang yang benar-benar mengerti arti penyesalan.  

Aku tidak berharap kau menjadi salah satu penyesal dalam hidup ini. Segeralah pulang. Cium dan peluk istrimu dengan segenap cinta. Bukan sisa – sisa cinta.

Aku tertegun.


dari seorang kawan