10/09/13

Cinta Yang Aku Kenal

Namanya Cinta. Di dunia, manusia sering sekali menyebut-nyebut namanya. Dan menyedihkan sekali bagaimana semudah itu manusia mengenalnya, semudah itu pula manusia meninggalkannya.
Aku tidak percaya pada Cinta.
Aku pernah menjadi manusia konyol yang mencoba untuk mengenal Cinta. Dibiarkannya aku mengenal teman-temannya dalam rupa bahagia, para serdadu kupu-kupu yang menyerang di dalam perutku, segala euphoria yang pernah aku rasa nyata. Namun tak lama mereka menjelma menjadi dusta, melemparku dari ketinggian dan meninggalkanku luka yang perih tak terkira.
Namanya Cinta. Ia benar-benar kurang ajar dan menyebalkan.
Entah berapa kali ia mencoba untuk kembali menyapa dengan kedatangannya yang serba tiba-tiba, namun untungnya benteng pertahanan diriku cukup kuat untuk mengelak dan mengenyahkannya.
“Mengapa mengelak? Cinta itu menyenangkan, kau tahu?”
Aku tahu.
Namun pada akhirnya semua kesenangan itu tidak akan bertahan lama. Cinta itu sangat akrab dengan pengkhianatan, kebohongan, kesedihan, kemarahan, rasa lelah dan bosan sampai entah. Segala yang pada akhirnya akan membuat Cinta sia-sia.
“Tidak ada kisah cinta yang sempurna. Namun hal itu seharusnya tak lantas membuatmu tidak percaya.”
Aku tahu tidak ada kisah Cinta yang sempurna.
Tapi jika memang ada Cinta yang nyata, seharusnya Cinta itu sendiri mampu menyempurnakan apa yang tidak sempurna.
“Cinta itu menguatkan…”
Tidak. Bagiku, Cinta adalah sesuatu yang melelahkan dan melemahkan.
Cinta membuat manusia lupa melindungi dirinya sendiri, membuat mereka merasa lemah dan ketakutan. Manusia menjadi lemah karena terlalu takut akan kehilangan orang yang mereka cintai, sampai mereka tidak takut kehilangan dirinya sendiri.
“Cinta itu terus menerus ada, dan nyata…”
Konyol sekali.
Pada akhirnya, Cinta adalah soal keegoisan manusia.
Tidak ada manusia yang benar-benar mencintai sampai akhir dan tanpa henti, tidak ada.
Cinta adalah soal keegoisan manusia. Dan manusia yang egois itu adalah aku sendiri.
Pun aku memilih berhenti mencintai orang yang sudah bertahun-tahun aku cintai.
Aku memilih berhenti ketika tahu Cintaku menyapa abai,
aku berhenti ketika tahu Cintaku lebih baik usai.
Aku memilih untuk menyerah karena Cintaku kalah,
aku memilih untuk menyerah karena Cintaku lelah.
Cinta adalah soal keegoisan manusia.
Dan manusia-manusia yang pernah mengatakan dirinya mencintai aku, adalah manusia-manusia itu.
Mereka membuatku bahagia hanya untuk membalikannya 180 derajat. Mereka membayar cintaku dengan upah pengkhianatan dan kebohongan hanya untuk sesuatu yang lebih menarik perhatian mereka.
Pun mereka yang mengaku paling mencintai aku, kini hidupnya dihabiskan dengan mencintai orang lain semenjak aku katakan aku tidak mempunyai rasa yang sama.
Aku tahu dan aku belajar.
Bahwa pada akhirnya, Cinta tidak pernah diperjuangkan sampai akhir yang paling akhir. 
Tidak ada yang pernah memperjuangkan Cinta sampai orang yang ia cintai mengerti.
Semua kisah menyenangkan tentang Cinta itu tak lebih dari sekedar wacana di dalam buku cerita anak-anak.
“Berhentilah menjadi seseorang yang skeptis terhadapku sebelum aku menghukummu dengan jatuh cinta.”
Jika begitu, Cinta… hukum aku seberat-beratnya,
sejauh-jauhnya,
sedalam-dalamnya,
sampai aku lupa pernah sesakit ini, Cinta.