20/09/13

Pelajaran

Aku baru tahu kalau takdir itu adalah sesuatu yang Maha Bercanda.
Saat ini lengan-lengan takdir sedang bercanda tentang kita, namun sayang sekali selera humorku dan dia berbeda. Sungguh. Hal ini seharusnya lucu, lelucon yang ia lontarkan. Kau ingin mendengar lelucon yang tidak lucu itu?
Bahwa terkadang dua orang terlihat seperti diciptakan untuk sempurna bagi satu sama lain, namun tidak ditakdirkan untuk bersama.
Menyedihkan sekali, bukan? Mengapa sempurna bagi satu sama lain saja tidak cukup? Mengapa harus juga sempurna dengan lengan-lengan takdir?
Aku percaya kita sempurna jika bersama. Seperti dua garis yang bergerak beriringan. Sama, satu irama, satu nada. Hanya saja lengan-lengan takdir seperti tak membiarkan kita berakhir di satu titik temu. Ia seolah membelokkan kau dan aku ke arah yang berbeda.
Aku seperti gila karena menginginkanmu. Dan mungkin karena itu lengan-lengan takdir tidak suka. Padahal apa salahnya jika aku benar mencintaimu dengan benar-benar?
Katakan aku membenci takdir semenjak aku mengenalmu. Aku membencinya karena aku tidak tahu mengapa ia membiarkan kita dipertemukan jika pada akhirnya kita harus meninggalkan satu sama lain kemudian meninggalkan luka bekas.
Untuk memberikan aku sebuah pelajaran? Omong kosong.
Pelajaran untuk menjadi lebih kuat dan menerima? Mendengarnya saja aku ingin tertawa.
Memangnya tanpa kamu aku menjadi lebih kuat di sebelah mana?  Memangnya tanpa kamu aku menjadi seseorang yang mampu menerima takdir? Tidak.
Bahkan seluruh komponen tubuhku masih menganggap kau adalah takdirku. Takdir yang benar, nyata, tak fana. Takdir yang diciptakan untuk beriringan, seperti dua garis pada satu titik temu. Bukan takdir yang diciptakan hanya untuk sekedar bersinggungan, tak ubahnya tempat yang dijadikan persinggahan.
Aku mencintaimu, maka aku membenci takdir yang tidak membiarkan kau dan aku satu.