04/09/13

Pulang

Malam masih panjang, dan aku belum ingin pulang. Aku tahu sebagai seorang lelaki dan suami yang bertanggung jawab, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Namun entah mengapa suasana rumah terlalu menegangkan untuk aku hadapi.
Aku harus pergi ke sana. Ke tempatnya.
Aku pun berkendara selama 7 jam dan tiba di tempatnya. Aku tahu kedatanganku kemari akan menyakiti hati istriku. Tapi tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan untuk menenangkan hati selain menemuinya.
Aku mungkin terlihat seperti orang sinting mengunjunginya sepagi ini. Tapi aku tidak peduli, aku perlu berbicara dengannya.
Aku berjalan menuju tempatnya dan air mataku menetes begitu saja. Ini bukan pertama kalinya aku datang kemari untuk mengadukan semua permasalahan rumah tanggaku padanya. Namun rasa rindu selalu datang dengan tidak sopan setiap aku mendatanginya lagi.
“Aku pulang.”
Aku mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Rasanya seperti menginjakkan kaki di rumah yang menjanjikanmu keamanan dan kenyamanan. Rasanya seperti; di sinilah tempat aku seharusnya berada.
Aku menjejakkan langkah dan bergeser ke dekat tempatnya berada. Tanpa perlu diminta, aku menceritakan semua keluh kesahku, semua masalah, rasa cemas, ketakutan… sampai akhirnya perasaan lega datang begitu saja.
“Kau tahu. Tidak seharusnya aku datang kemari setiap rumah tanggaku terasa kacau.”Kataku pelan. “Tapi kau akan selalu menjadi tempatku pulang, kau satu-satunya yang bisa memberi aku ketenangan.”
Aku terdiam sejenak. Aku merogoh saku celanaku dan melihat ponselku, terdapat puluhanmissed calls dari wanita yang sudah mengikat janji denganku di hadapan Tuhan. Wanita yang bukan dia.
Aku pun tersadar bahwa ini waktunya kembali pada kewajibanku.
“Terima kasih untuk selalu menerima kepulanganku, Ayesha.” Aku tersenyum dan mengelus pelan batu nisan yang mengukir nama Ayesha, kekasihku sewaktu sekolah menengah pertama yang meninggal di ulang tahunnya yang ke 17.
Aku tahu pada usia saat itu mungkin aku nampak masih terlalu dini untuk terus mengingatnya hingga tua, namun ternyata Ayesha adalah bentuk cinta yang nyata. Janji untuk menikahinya yang tidak akan pernah bisa aku penuhi, kini membuatku merasa hina di atas ranjangku sendiri.
Tapi aku tidak peduli, Tuhan. Jika ini dosa, biarkan aku menjadi makhluk hina karena mencintainya.
Cinta yang sekarang aku jalani adalah kewajiban,
karena senyatanya cintaku sudah lama kusemayaman.