03/10/13

selamat malam

Selamat malam, yang masih memenuhi benak pikiranku tanpa mengenal waktu.
Ini adalah hari ke 1090 terhitung sejak saat perpisahan kita. Aku menuliskan surat ini dengan perasaan yang masih sama seperti hari pertama. Dikuasai oleh rasa kehilangan yang hebat memenuhi seluruh komponen tubuhku.
Dulu, sewaktu hari perpisahan kita masih terhitung dalam puluhan, kamu pernah mengatakan padaku, “Suatu saat nanti kita akan kembali bersama.”
Dan tanpa terkira, kamu ingkar pada hari ke seratus, sedangkan aku masih bersikap bodoh dengan mempercayainya sampai hari ini, hari ke seribu sembilan puluh.
Aku pernah mencoba membayangkan hari itu, dimana aku bisa kembali ke dekapanmu, menyisipkan lenganku di lengan-lenganmu yang besar, atau sekedar mendapatkan tatapan hangat dari kedua bola matamu yang agak menyipit itu.
Aku akan merasa utuh, mendapatkan kebahagiaan yang penuh. Aku tidak akan lagi merasakan rindu yang menyiksa hingga ke ulu hati. Aku tidak akan lagi memberikan tatapan hampa ke atas langit-langit kamarku di malam hari, karena usaha kerasku menghapus bayanganmu di setiap aku menutup mata selalu gagal.
Aku menunggu hari itu tiba. Dan setiap aku bersiap membuka mata melawan teriknya kenyataan, kamu masih saja terdiam dalam angan.
Aku pernah mencoba melangkah, melawan serbuan rindu yang menahan kakiku. Tapi setiap pertemuan baru tidak pernah meninggalkan kesan yang sama dengan pertemuanku dengan kamu. Aku terkesima pada perpisahan kita, dan aku tertahan di dalam sana. Waktu terus berjalan, roda kehidupan memaksaku melangkah menjauh dari kamu meskipun enggan.
Ini hari ke seribu sembilan puluh. Dan mungkin hari ini Tuhan menghukumku karena terlalu menginginkan kamu.
Aku tidak tahu harus bagaimana reaksi yang kutunjukkan sewaktu aku menerima surat undangan yang kamu kirimkan untukku hari ini. Surat yang didesain dengan cantik, di depannya tertulis namamu dan wanita yang kamu cintai semenjak perpisahan kita masih terhitung ratusan hari.
Aku tidak tahu kekuatan apa yang masih tersisa pada diriku untuk bisa menatap wajahmu, bersandingan dengan yang bukan aku. Bahkan air mata pun sudah tidak mampu lagi aku teteskan.
Ini hari ke seribu sembilan puluh.
Dan pada akhirnya aku sadar, mungkin kamu ada hanya untuk menjadi sesuatu yang akan selalu aku rindukan sampai kapanpun. Aku akan menjalani kehidupan, dan kamu akan selamanya ada dalam pikiranku.
Kamu ingat waktu aku mengatakan bahwa kamu akan selalu memiliki satu tempat khusus di dalam hatiku? Saat itu aku benar-benar serius, kau tahu? Kamu memang akan menjadi sosok yang terus bersangkar di dalam diriku, tanpa pernah tersingkirkan.
Ini hari ke seribu sembilan puluh. Mulai hari ini, aku tidak akan menghitungnya sebagai hari sejak saat perpisahan kita, tapi sebagai hari aku mencintaimu.
Dan aku akan terus mencintaimu hingga melebihi hitungan hari.
Semoga kau bahagia.