01/10/13

Surat Cinta yang Jujur

Hai, Kamu!
Sebelum meneruskan surat ini menjadi lebih jauh, mari berbasa-basi dulu. Apa kabar?
Ah, sebenarnya kamu tidak perlu menjawab, karena aku tahu pasti seperti apa kabarmu. Aku masih menjadi penunggu setia kicauanmu di linimasa, kalau pun tak ada, aku yang akan rutin mengunjunginya. Stalking? Tidak. Ini hanya usahaku untuk mengetahui bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini.
Kabarmu baik, begitu pula dengan hubunganmu dengan kekasihmu. Dia berubah menjadi lebih baik, bukan? Semenjak ia mengetahui bahwa kau masih memikirkan aku di sela-sela waktu sibuknya. Meski pun kesal mengetahui aku menjadi penyebab hubungan kalian membaik, tapi aku turut bahagia. Syukurlah.
Ku dengar dunia perkuliahanmu lancar, meski pun aku sempat melihat kicauanmu memaki beberapa dosen wali, namun aku tahu kau memiliki banyak kenalan baru yang baik hati. Mereka yang semakin menjauhkan hidupmu dari aku. Dunia yang tidak kukenal, orang-orang yang tidak aku ketahui. Tapi hidupmu menyenangkan, bukan? Syukurlah.
Akhir-akhir ini kau mulai merintis bisnis ya? Sebuah kafe di pertigaan jalan, aku sebenarnya ingin mampir. Tapi aku ragu apakah lidahku tidak akan menjadi kelu saat menemui kamu hanya sebagai tamu? Nanti aku akan mampir, tapi tidak sekarang. Untuk sekarang, aku cukup tahu bahwa kafemu itu disukai banyak orang. Syukurlah.
Lihat? Aku tahu banyak sekali tentang kamu, bukan? Keadaanmu, pekerjaanmu, hubunganmu dengan kekasihmu.
Tapi ada satu hal yang tidak kuketahui. Bagaimana pikiranmu tentang aku kini? Apakah kamu masih menganggap aku gampang bikin kangen? Tidak ya? Biasanya kamu langsung mengirimi aku sebuah pesan singkat untuk sekedar menanyakan kabar, kemudian mengaku rindu. Apakah kamu juga sedang bertanya-tanya bagaimana keadaanku saat ini? Tidak ya? Kau memiliki seseorang yang kau kasihi, kau tak akan memiliki waktu untuk memikirkan lagi aku.
Tapi kalau-kalau kamu penasaran dengan keadaanku,
mari aku sampaikan di surat cinta yang jujur ini.
Keadaanku baik-baik saja dan masih kangen kamu.