25/02/13

Been there

 Aku ingin memeluknya saat ini juga. Berlari, dan menangis di punggungnya. Sampai sesenggukan.

Meneriakkan semua kalimat yang selalu bertebaran di kepalaku, agar aku tidak lagi kelelahan menahannya.


Orang bilang, tidak mungkin dua orang berlainan jenis bisa tulus bersahabat. Apalagi dua orang itu pernah menjalin cinta sebelumnya. Aku tidak tahu tentang kebenarannya, tapi saat ini aku merasakannya. Aku bersahabat dengannya. Dia yang pernah mencampakkanku dengan elegan, tapi tetap bisa membuatku tergila-gila.

Aku selalu bilang kepada semuanya bahwa aku sudah melepaskan, bahwa aku dan dia hanya berteman. Tidak boleh ada cinta lagi di antara kami. Ini adalah sebuah perjanjian yang sudah kami ikrarkan.


Tapi kata hanyalah kata. Janji yang sudah bertahun-tahun berlalu, tetap tak bisa kutepati tanpa ada orang yang tahu. Aku bersembunyi di balik kebohongan dengan apa yang disebut 'persahabatan'. Aku masih mendambanya, masih mengaguminya, masih membandingkan siapa pun yang mendekatiku dengan dia. Itu kesalahan total. Pada akhirnya, tidak ada yang sebanding dengan dia. Semua yang datang, selalu aku ingin menjadi dia. Ini egois. Tapi aku tak bisa mengubahnya.

Dan 'persahabatan' sejati baginya sementara 'persahabatan' menyiksa bagiku ini, lama-lama terasa melelahkan.

Dia bisa dengan sesukanya masih memerhatikanku tanpa ada perasaan apa-apa. Tapi satu pertanyaan, "Lagi apa?" darinya saja, bisa membuatku tersenyum seharian.

Dia bisa saja menganggapku mantan yang berubah jadi teman. Jadi, tidak ada yang namanya kegeeran ketika aku perhatikan. Tapi satu momen ketika kami berdua makan atau berjalan-jalan, bisa membuatku baru bisa tidur sampai tengah malam.

Dia bisa saja bercerita tentang cewek yang ditaksirnya seolah dia sedang meminta pendapat seperti apa yang dilakukannya kepada teman-teman cowoknya. Tapi, dia tidak tahu, di dalam senyumku dan kediamanku mendengarkan itu, ada pertanyaan yang berulang di kepala tanpa pernah kusuarakan, "Kenapa dia? Kenapa bukan aku?"

Tapi sekarang, dia sudah mendapat gadis itu. Dan aku baru saja menemaninya membeli sebucket bunga, yang katanya, dia akan mengajaknya makan nanti malam. Habis dari tempat makan kami berdua ini.

Lihat punggungnya. Punggung yang masih membuatku membayangkan betapa hangatnya dulu ketika aku naik motor dan memeluk punggung itu ketika memboncengnya. Punggung yang pernah membuatku berlama-lama membaca dengan menyandarkan punggungku ke punggungnya. Punggung yang pernah membuatku merasa sangat aman dan nyaman ketika berlindung di baliknya.

Tapi punggung itu sekarang menjauh. Dan aku melihatnya seperti gerak lambat dengan mata yang mulai sembab. Jangan menengok belakang. Aku tidak mau nantinya kamu beri belas kasihan.


Aku baru tahu, kalau pemandangan punggungmu yang menjauh, bisa memberi efek semenyesakkan ini ke dadaku dan mataku.

Aku ingin memeluk punggung itu sekali lagi, sebelum dia pergi bersama gadis itu.

19/02/13

Temu


Tak terpikirkan sekali pun untuk mendengar suara kakimu datang di sore itu.
Ketika langkahmu sampai, dan aku menatap ujung sepatumu di atas lantai batu.
Kuangkat kepala. Kutemukan wajahmu.
Senyummu, tawamu, caramu menyapa. Masih sama.
Aku rindu segala tentangmu.

Tawamu sore itu telah menjadi cerita paling kudamba.
Kutatap berkali-kali. Berharap, setiap detik akan melekatkan semua gambar dalam kepalaku.
Hingga aku tak perlu lagi mencari bayanganmu dalam memori.

Kau duduk...
Meletakkan cangkir keramik yang beradu pada meja kayu.
Uap panas dalam teh mu seolah mengatakan, rindu telah menguap pergi.
Aku menggenggam kedua tanganmu.
Kukatakan, tinggalah di sini.

Kita bicara dan tertawa.
Ada bayanganku terpantul di kedua matamu.
Seandainya kutemukan satu yang lainnya. Cinta, yang kutunggu sekian lama.
Yang mengendap bersama di sana.
Mau kah kau menunjukkannya juga?

Berbagi waktu yang sempit bersama kehadiranmu sore itu.
Kita menyesap teh dari bibir gelas yang sama.
Menyisakan tetesan yang telah tandas.
Akan pergi kah kau setelah ini?

Suaramu masih serupa langit sore yang membuatku rindu akan rumah.
Tapi masalahnya, apakah kau juga akan pulang ke tempat yang sama?
Setiap pertemuan membawa rasa gembira dan takut sekaligus.
Aku takut, kau akan pergi setelahnya.

Boleh aku berdoa?
Meminta Tuhan membawaku pada waktu sebelum kehadiranmu.
Mencegah langkahmu sampai bersama rindu yang terlalu.
Aku tak mau kau datang lalu pergi.
Rindu setelah bertemu, selalu menyakitkan.
Karena mungkin kau tak akan pernah kembali lagi setelah itu.

Waktu

Bagaimana kabarmu hari ini?
Pagi, siang, sore, dan malam. Hari telah menjadi demikian panjang, sejak penantian tak pernah menemui titik akhir.
Pesan balasanmu tak kunjung sampai.
Dering telepon seperti malam musim dingin di ujung samudera; panjang, gelap, dan melelahkan.

Sampai suatu ketika, kita dipertemukan.
Di balik cahaya lampu, kutemukan wajahmu itu.
Aku tersenyum―bahagia melihatmu kembali untukku.
Berlari lah kepadaku, kusediakan lengan yang kokoh untuk memelukmu.
Senyum yang mengembang menceritakan kepadamu, betapa lama rindu telah bersabar dan menanti.

Tapi langkahmu terhenti kemudian.
Suara berat berbisik menyingkap rambut yang menutupi telingamu.

Aku mencoba mencari tahu.
Suara hujan mengaburkan pendengaranku.
Sebelum aku tahu, langkahmu berbalik kemudian.
Pergi. Tak pernah mencapai tempatku berdiri.

08/02/13

Sebennarnya

 sebenarnya, aku bisa saja bilang kalau aku sudah lupa kamu.
aku bisa saja bilang kalau semua telah memuai, tak berarti lagi.
aku bisa saja bilang bahwa ranting-ranting yang kau patahkan telah tumbuh lagi, lebih kokoh.
aku bisa saja bilang bahwa semua yang kau buat berceceran kini yelah rapi kutata sendiri.
ya, bisa saja, mudah sekali.
tapi nyatanya.

06/02/13

 Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang mampu membuat senyummu selalu ada, tapi bisa juga membuat senyummu itu hilang dengan beberapa alasan yang ada. Seseorang bersamamu, tapi hatiku malah tetap (ingin) bersamamu. Konyol bukan ? ahh.. tidak. Bukan. Ini hanya masalah kurangnya komunikasi saja yang kamu jelas tak pernah memberikanku kesempatan untuk menceritakan padamu, tentang apa yang terjadi dihatiku sekarang semenjak ada kamu.

Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang bisa  dikatakan ia sosok pria yang diberikan rezeki yang luar biasa oleh Sang Kuasa. Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang dikirimkan Tuhan untukmu agar kamu bisa mengerti apa itu mencintai (katamu). Seseorang yang bersamamu, yang sudah pasti bukan aku tapi dirinya.
Ia memilikimu sekarang. Memiliki hatimu kan ? lalu aku, apa yang kumiliki sekarang dengan terus seperti ini ?
Aku memiliki tawamu yang kapan saja ku mau bisa ku lihat. Dengan menceritakan beberapa cerita lucu saja untukmu, sudah pasti tawamu akan nyaring terdengar ditelingaku lalu akan akan berpura-pura memarahimu dan berkata “Kenapa tertawamu bisa seburuk itu ?”. kamu tidak memarahiku, hanya tertawa saja terus  hingga aku kesulitan menahan detakan jantungku yang terlalu bahagia melihat kamu bisa sebahagia ini (saat bersamaku).

Aku memiliki senyummu yang kapan saja aku mau bisa juga aku melihatnya. Dengan duduk manis, diam disampingmu. Mendengarkan kamu bercerita tentang hal ini dan itu, lalu selanjutnya memberikanku kado yang berbentuk ‘senyumanmu’. Jika sudah seperti ini, aku pasti akan berpura-pura lagi mencomotimu dengan berkata “jangan tersenyum sok unyu seperti itu. kamu bukan anak kecil yang pipinya kemerahan dan menggemaskan. Jadi biasa saja..”. kamu sama sekali tak tersinggung dengan perkataanku tapi kamu tahu, disini dalam hatiku ini rasa-rasanya sesak sekali. Sungguh.

Tapi jika sudah berrbicara tentang ‘dirinya’ aku sendiri yang sedekat ini denganmu, selalu tak merasa ini adalah kamu. Ya, mengapa tidak ? kamu selalu saja menceritakan hal apa saja yang menjadi kelebihannya. Kamu selalu saja bisa menggambarkan bagaimana baiknya ia memperlakukanmu, dan yang paling menyesakkan hatiku ialah pada saat kamu berkata bahwa suatu hari nanti dia juga yang akan menjadi akhir untuk kamu cintai.

Seseorang bersamamu, sekarang. Ia mencintaimu, tapi jika diadu siapa yang lebih besar perasaannya terhadapmu, apa masih bisa dia yang kamu percaya teramat sangat mencintaimu bisa menjadi pemenangnya ?  jika benar, syukurlah.. itu berarti aku harus lebih banyak lagi belajar dari dirinya agar bisa mendapatkanmu.

Tapi, jika kelak nanti kamu mencintaiku setelah dia tak mencintaimu lagi aku mana mau ? bukankah aku sudah terlalu lama memberikanmu isyarat bahwa cinta itu bukan hanya ada pada saat dirimu bisa sebahagia sekarang, tapi pada saat tersulitpun cinta harus tetap ada. (dan sama seperti yang biasanya ku lakukan untukmu. Bahagia atau tidak selalu saja, aku ada

02/02/13

Ada rasa

Kau tau, ada rasa ketika aku melihat senyummu..
Kau tau, ada rasa ketika aku mendengar tawamu..
Kau tau, ada rasa ketika aku perhatikan matamu..
Kau tau, ada rasa saat aku menadangmu dari jauh..

Dek, ada rasa juga ketika orang menyebutkan namamu..
Rasa yang aneh, rasa geli, senang, berharap juga cemas..
Dan satu lagi dek, - sedih - juga ada lho kayaknya didalam rasa itu..

Sesaat aku tidak tahu jika kamu ada disitu, karena suara renyah dari tawamu, aku jadi tahu kalau kamu sedang berada di sekitarku..
Aku tahu, karena rasa itu.. Iya rasa itu, rasa yang menghinggapiku ketika, disaat, pada waktu, dan juga sedang, aku berharap sangat untuk di dekatmu..

Di dekatmu meski untuk sekedar, memandang, melihat, membalas senyum, bertegur sapa, mencuri pandang, walau tanpa sentuhan juga dekapan.. 
Bahkan, memilikimu..rasanya seperti mimpi yang sekedar singgah.. Masih teramat sulit rasanya.. 

Tapi, yang jelas Dek, aku ada rasa.. Iya, ada rasanya..

Harus seperti apa...

Mencintaimu juga harus dengan alasan yang jelas dan kuat??

Apa jika karena penyebab aku mencintaimu tidak bisa di uraikan dengan rumus Albert Einstein maka bisa merobohkan ketidaklogikaanku padamu??

Harus seperti apa alasan yang kuat itu?? 

Meski cuma dengan alasan, "Aku bahagia denganmu dan aku ingin kau selalu bahagia bersamaku.."  itu masih tidak bisa mematahkan pikiran-pikiran logismu??

Aku cuma mencintaimu dengan segenap kekuatan yang aku bisa.. untukmu dan untukmu saja..