13/06/13

Kamu juara

Apaan enam bulanan kok ngasih piala?”
“Soalnya buat aku kamu juara.”
Aku masih ingat ekspresi heran campur senangmu kemarin.
Tepat setelah aku memintamu membuka mata yang aku tutup pada awalnya, tepat setelah kamu melihat tiba-tiba saja ada sebuah piala di depan mata. Piala bertuliskan terima kasih sudah menemaniku selama sekian hari. Piala yang kamu terima padahal kamu merasa tidak sedang berada dalam sebuah kompetisi.
“Kenapa piala?”  katamu.
Karena menurutku kamu itu juara, Sayang.
Juara gilanya, juara ngeselinnya, juara kelakuan ajaibnya, juara gantengnya (aku tahu kamu pasti mau dibilang ganteng), juara sabarnya, juara rasa sayangnya.
Juara bikin aku mesem-mesem gemes. Juara bikin aku sebel tapi nggak bisa lama-lama. Juara bikin aku ketawa sampe lupa rasanya ‘jaim di depan pacar’. Juara bikin aku bisa seapa-adanya aku di depan kamu.
Kamu juara, Sayang.
Yang mengingatkan aku lagi tentang ketulusan, yang membuat aku tahu rasanya benar dicintai, yang membuat aku bahagia lagi, yang membuat aku kembali berani mencintai, yang membuat aku kembali percaya bahwa rasa sayang itu tidak akan kalah dengan jarak.
Kamu juara, Sayang.
Yang pertama membuat aku tahu kalau rasa sayang yang sepenuhnya menerima itu ada. 
Kamu juara, Sayang.
Yang–ternyata–paling peduli sejak bertahun-tahun yang lalu, tanpa henti.
Kamu juaranya.

Kenapa harus sekarang

Kenapa kita tidak bertemu dulu..? Katamu.

Jika kita bertemu saat dulu, maka kita akan seperti orang kebanyakan.

Saling kenal.
Tukar informasi.
Dekat.
Saling suka.
Menjalin komitmen.

Saling tahu.
Konflik mendera.
Penyelesain, pendewasaan.
Bisa kuat, bisa pupus.

Klise dan tidak selalu seperti itu memang.

Dan kita sekarang, bukan bertemu dulu. Kita yang sekarang, saling tau bagaimana keadaan kita masing-masing. Tanpa sebuah kesengajaan yang agar kita menjadi cinta. Tanpa sebuah usaha yang karena kemungkinan kita bisa bersama. Tanpa kepalsuan yang harus ditutupi agar kau dan supaya aku bisa saling menjaga perasaan. Kau cerita semua tentang kekuranganmu. Aku bercerita segala kebusukanku. Kita tidak dipungkiri, ternyata -bisa jadi- seperti orang kebanyakan. Kita jatuh cinta, akhirnya. 

Kau bersama perahumu, aku berada di sekociku. Berjalan beriringan. Aku nahkodanya, dan engkau awak kapalnya. Kita yang harusnya tidak boleh mencinta, akhirnya terpaut. 

Kita tidak bertemu untuk dulu. Tapi untuk sekarang. Pengenalan yang tak sama, informasi yang pasti, kedekatan yang absurd, komitmen yang pasti lebih pasti. Kita lebih tahu, lebih tahu untuk menghargai, menjaga, menghormati, dan memberi. Karena bukan dulu, kita jadi lebih tahu tentang arti sekarang. 

Sekarang, yang bukan dulu. Tetap tidak sama dan akan menjadi berbeda.

12/06/13

Melupakanmu...

Bagaimana bisa?
Ketika lutut tak lagi sanggup membopong tubuhku tuk berjalan, kau berikan kakimu untukku..

Bagaimana bisa?
Ketika mata berurai air mata, kau tengadahkan tanganmu untuk memungutnya..

Bagaimana bisa?
Ketika jiwaku tersudut oleh cercaan, kau sediakan ruang di hatimu untuk tempatku berbaring..

Bagaimana bisa?
Ketika tanganku tak sanggup lagi untuk memohon, tanganmu menguatkan..

Bagaimana bisa?
Tangis kesedihan yang menyayat selalu kau ganti dengan tawa bahagia yang menggema.. 

Lalu bagaimana bisa..?

Di senyap malam, hanya dirimu yang bisa mendengar tangisku di antara lolongan binatang jalang..
Di lautan manusia, hanya dirimu yang mampu menemukan tubuh ringkihku..

Dua kata yang selalu kau katakan padaku saat aku memanggil namamu..
-Tunggu Disitu-

Seluruhnya sudah kau bawa, bukan kau renggut, bukan kau ambil, tapi kau kau bawa dengan lembut tentang arti sebuah keterpurukan dan kesengsaraan..
Dan aku sanggup katakan, bahwa kau pula yang membawa semuaku..


Duhai kau pemilik jiwa yang indah, lalu bagaimana bisa aku melupakanmu untuk sesaat saja meski ku bahagia bukan denganmu? Kau yang pernah menghidupkanku lagi setelah ku mati dalam jiwaku.. 

Dan akhirnya, melupakanmu.. bagaimana caranya..?

02/06/13

Dengerin...

Aku sayang padamu..

Jangan pernah sedih ya, dengan apa yang pernah kita lalui..
Tidak ada maksud lebih dariku seperti itu, kecuali ingin membuatmu lebih bahagia bersamaku..
Aku tidak mempermasalahkan apapun tentang harus bagaimana dan seperti apa..
Aku ingin kita menikmati semua bersama lebih lama, lebih indah, lebih hanya kita saja, seperti tanpa jam yang selalu memburu untuk menyekat-nyekat waktu..
 
Jangan pernah sedih ya, dengan apa yang pernah kita lalui..
Kita tidak perlu membahas hal ini terlalu banyak, suatu saat nanti ketika semua sudah disebut sebagai Hidup Kita, akan menjadi lebih banyak memahami lagi untuk kita..
Aku sangat suka dengan setiap apa yang kita buat, lakukan, tanpa disebut awal dan akhir..
 
Hanya disebut sebagai Cara Kita Mencintai Kita.. 
Tanpa sebuah metode atau aturan yang mengekang cara kita untuk saling memberi..

Jangan pernah sedih ya, dengan apa yang pernah kita lalui..
Aku bahagia bisa bersamamu.. Sejak saat pertama aku berdebar hingga tanpa akhir aku merasakan sama kepadamu..