19/08/13

Ibu

Surat ini untuk Ibu.
Wanita terhebat yang paling kuat.
Wanita nomor satu yang tak akan pernah henti aku beri rasa hormat.
Untuk Ibu.
Wanita tersabar yang pintu maafnya selalu melebar.
Wanita yang selalu setia menunggui Ayah pulang, walau Ibu tahu Ayah terlalu asyik menyambangi si jalang sampai petang.
Kuatlah Ibu,
karena wanita diciptakan mulia.
Satu tetes air mata dari tangisnya akan dibayar berlipat ganda.
Tegarlah Ibu,
karena bahagia yang dibangun di atas luka adalah fana.
Bahkan luka itu sendiri hanyalah sementara.
Surat ini untuk Ibu.
Yang membuat aku berjanji tidak akan pernah sampai hati menyakiti seorang perempuan walau hanya satu kali.
Untuk Ibu.
Yang membuat aku tahu bagaimana seharusnya menjadi laki-laki.

18/08/13

Karnaval Mimpi

Untuk kamu yang telah lama menjadi elemen mimpi indahku,
apa kamu tahu?
Banyak manusia yang suka mendahului rencana-rencana Tuhan. Berekspektasi begitu begini, menutup mata dari kenyataan yang sebenarnya terjadi, dan terlalu yakin dengan rencana buatan sendiri. Dan manusia yang dengan lancangnya mendahului rencana Tuhan itu salah satunya; saya.
Sampai kemarin saya mempunyai mimpi. Mimpi yang pada awalnya saya yakini bisa terealisasi.
Saya akan menikah dengan kamu.
Mimpi saya sesederhana dan serumit itu.
Dulunya, itu adalah mimpi kita. Tapi ketika seseorang datang dan mencuri kamu dari kehidupan saya, mimpi itu akhirnya hanya menjadi milik saya sendiri.
Sampai kemarin, segala upaya saya lakukan untuk mendapatkan kamu kembali sampai saya lupa, saya masih punya harga diri.
Saya sadar tidak bisa terus mengiba dengan penuh harap dan pinta pada seseorang yang telah menjadikan hati saya remuk hingga tak berupa lagi.
Hari ini saya memutuskan untuk berhenti. Untuk itu saya mohon, jangan menahan saya pergi lagi.
Kamu tidak pernah mencintai saya, kamu hanya tidak ingin saya dengan orang lain.
Kamu tidak pernah memimpikan hal yang sama tentang kita, kamu hanya tak ingin sepi.
Ini adalah titik di mana saya merasa cukup.
Tolong kamu juga berhenti menjanjikan saya mimpi yang tidak akan pernah bisa kamu realisasi.

17/08/13

selamat 17

Hari ini aku hanya akan merapat dan menatap pantai kita yang kian hitam.
Sambil menghisap lambat sebatang rokok yang dengannya aku berharap bisa mengelabui pandangan.
yap! kotoran laut di depan, berubah jadi berlian.
Cling!!
Akh… Bukan apa-apa,
Sudah kucoba seperti Balaputeradewa.
Menguasai Asia tenggara.
Tapi apa daya, layarku tak mampu terkembang bangga lebih lama.
Sepertinya ini buatan Cina, bukan Amerika.
Padahal sangat ingin kupamerkan karyaku pada dunia.
Sekalian menjaja, siapa tahu ada yang suka.
“Bu… beli bu…”
“Pak… beli pak..”
“Tiga seribu aja..”
Tapi, apa kau tau?
Jangankan mereka, ikan-ikan saja sudah berpaling dariku.
Ukh, ia!
Aku lupa.
Negeri kita tak lagi sebesar dalam peta. (naf)
17 Agustus 2013

16/08/13

Sudah Enam Tahun

Hai, kamu masih ingat tidak?
Satu tahun yang lalu, aku menulis surat untukmu dengan pertanyaan yang sama; apakah kamu tahu bahwa waktu paling lama dalam melupakan seseorang adalah enam tahun?
Satu tahun yang lalu, aku menceritakan pada kamu tentang aku yang masih memiliki sisa satu tahun lagi untuk melupakan kamu. Satu tahun yang lalu, aku menceritakan pada kamu bagaimana aku akan melewati hari-hari satu tahun lagi sebelum kamu pergi dari ingatanku. Satu tahun yang lalu aku memikirkan bagaimana rasanya bangun di pagi hari dan tiba-tiba saja sudah tidak mencintai kamu lagi.
Dan hari ini sudah genap enam tahun. Tadi pagi aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Perasaan malas, perasaan ingin kembali berguling di bawah selimut tebalku dan perasaan-perasaan sebal lainnya karena aku belum menyeduh kopi pertamaku di pagi hari.
Aku berjalan menyalakan TV dan seorang penyiar berita mengucapkan selamat pagi diikuti informasi tentang cuaca hari ini, hari ke enam di bulan Februari. Dan aku langsung tersadar, hari ini sudah genap enam tahun. Maka segera saja aku meraih secarik kertas dan pulpen untuk menulis surat ini.
Enam tahun. Apakah setelah selama itu, aku baru benar-benar melupakanmu?
Aku tidak pernah lagi bertemu denganmu sehingga memang tentang kamu sudah tidak pernah hadir lagi di ingatanku. Namun sewaktu-waktu, aku mendengar lagu dan kutipan yang menjadi pemicu ingatan. Yang membuat kenangan tentangmu hadir begitu saja dan menyisakan aku perih yang sama.
Waktu itu bulan Februari, enam tahun lalu, hari ini. Akulah yang menginginkan perpisahan itu, akulah yang pertama lelah dan menyerah. Akulah yang memintamu pergi dan juga yang meraung meminta kamu kembali. Kamu tidak pernah kembali, pun tidak pernah menoleh padaku sama sekali bahkan sampai hari ini.
Bayangan tentang kamu tersebut masih sangat jelas di ingatanku.
Ternyata aku belum lupa, aku gagal. Hari ini sudah genap enam tahun, dan rupanya aku masih belum melupakanmu.
Rupanya aku mencintaimu bahkan melebihi segala teori. Untuk melupakanmu saja aku masih memerlukan beberapa tahun lagi.
Maaf, sepertinya aku mencintaimu lebih dari jangkauan waktu.

13/08/13

Agustusku


Ribuan,jutaan,bahkan triliunan mulut sering menyebutNya. Tak hanya sekali,tak hanya sehari, tiap detik namaNya di besarkan. Ufuk timur-ufuk barat,kutub selatan-kutub utara menjadi penuh namaNya. Tak terasa mulut-mulut itu hafal betul siapa dan bagaimana cara memanggil namaNya. Tapi.... Apakah Dia tak berwujud? Apakah Dia tak berwajah? Bagaimana dan seperti apakah rupa dari pemilik nama itu? Ah,bagaimana hati ini dapat tergetar bila tak tahu dan kenal siapa pemilik nama itu. Apa aku hanya memilih namaNya? Hanya percaya namaNya? Dimana DIA? Aku mencariNya? Aku takut hanya nama saja yang aku sembah? Apa tidak boleh,budak ini bertemu dan menatap wajah MAJIKANNYA? Lucu.

Aku yakin bisa dan harus bertemu denganNya sebelum "dua tubuh" ini terpisah.

Tunjukkan padaku. Tuntunlah langkahku. Terangi mataku.

12/08/13

Eps 798

Pagi ini. Aku masih tersenyum seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang lebih indah. Itu sebutan kita, untuk mengawali rangkaian cinta kita. Sungguh indah dunia ini karenamu sayang. Seperti biasa, kau akan membangunkanku dengan cara lembutmu. Kecupanmu selalu membuatku tersenyum sebelum aku membuka mataku. Tiap hari, hampir tiap hari tepatnya aku akan selalu tidur lebih larut daripada dirimu. Dan kau akan menjadi pandangan pertamaku membuka mata karena aku akan lebih lama bangun. 
Kopi, roti bakar coklat juga teh hangat kesukaanmu selalu menjadi santapan terindah kita di awal pagi. Matamu dan mataku beradu dan senyum kita menjadi saksinya. I Love You Honey. I Love You too My Dear. Entah siapa duluan yang mengucapkannya, tapi kita suka melakukan itu. Tak lupa tawa kecil kita akan menjadi penutup kalimat sakti kita. 

Jam dinding masih di angka tujuh lebih di tiga puluh. Hari ini kita akan menjadi penghuni surga dunia seharian. Menghabiskan makanan di kulkas, mainan air di kolam, kejar-kejaran di kebun belakang, keliling sekitar desa dengan ATV. Surga kita. Kau istriku. Aku suamimu. Kalau dirumah bisa, ngapain kemana-mana. Itu mottomu. Motto cintamu padaku.

Bau embun masih segar tercium, tercampur aroma ikan bakar sisa semalam yang selalu aku yang menghabiskan. Pesta Kebun Cinta. Itulah party kita. Tiap akhir pekan akan seperti itu. Hampir selalu seperti itu. Sabtu siang selepas aku kerja, kau menjemputku. Tiap sabtu aku akan selalu minta antar dirimu ke kantor, karena untuk memastikan diriku tidak akan pergi weekend bersama teman-temanku. Jadi kalaupun aku akan pergi bersama mereka, kau akan selalu ada disampingku. Dan kita akan bisa langsung pergi ke rumah kita di puncak. Mbok Nah, sudah pasti akan menyiapkan segala sesuatunya untuk kita berdua. Beliaulah orang yang selalu menjadi orang kedua setelah bapak ibuk, untuk kita bahagiakan. Dari beliau pula kita belajar banyak tentang kesederhanaan yang bisa menjadi luar biasa. Bahkan ide Surga Dunia Seharipun adalah ide beliau untuk kita. 

Di tengah kota yang padat memang perlu untuk kita menjaga keintiman yang banyak orang mengabaikan.“Wong villa segede ini kok ya sing duwe malah jarang nengok tho mbak“ ucap Mbok Nah suatu ketika padamu. Yang akhirnya beliau menjadi inspirator surga kita. Meski banyak yang memesan untuk weekend, namun kau selalu bilang untuk jangan takut akan rezeki dari Tuhan, rezeki bukan hanya dari menyewakan villa.  Mbok Nah, penjaga rumah kita di puncak, rumahnya hanya berjarak 10 meter dari tempat tinggal kita. Tiap kita ”menyewa“  rumah kita, Mbok Nah akan menyiapkan keperluan-keperluan kita dan beliau memilih untuk ”mengungsi“ sebentar kerumahnya. Beliau tinggal bersama suami dan dua orang cucunya yang masih sekolah dasar. 

Sore hari. Ini adalah momen awal kebahagiaan kita. Lilin-lilin cinta mulai kita nyalakan, gerimis masih menyelimuti kerajaan kita. Rayuan mautmu selalu berhasil membiusku untuk mengiyakan pintamu. Dan. Kau berhasil. Kita berhasil. Jariyah pahala juga masih mengiringi Mbok Nah sekeluarga. Ibadah Indah kita, mau tidak mau juga karena beliau. 

Malam ini, aku sangat bahagia. Bisa ada disampingmu. Balkon cinta kita, masih bertaburan bintang. Germis tidak menyurutkan bintang untuk berpijar. Kita hanya diam. Senyum satu sama lain, sesekali menatap bintang. Kau di pelukanku. Aku memelukmu. Hampir dua jam, kita hanya diam. Dan perasaan ini hanya kita yang bisa tau. Kita saja. Dan Tuhan tentunya.

Ini adalah episode ke 798 kita. Episodeku memimpikan kita bisa bersama.  Dan aku masih menyimpannya di harapanku. Semoga menjadi nyata.

11/08/13

Tissue

Seorang sahabat datang padaku. Dia datang bersama pertanyaan sederhananya. “Bagaimana perasaanmu setelah membacanya?” Aku jawab :  Apa maksudmu? Lalu dia tersenyum. Dan mulai bercerita tentang pertanyaanya.
10 menit sebelum dia datang padaku. Istrinya mampir ke kantor tempat temanku dan aku bekerja. Menanyakan apa sudah makan siang atau belum.  Dan di akhir pertemuan mereka, sebelum si istri beranjak pergi. Ia memberikan selembar tisu pada teman ku. Selembar tisu yang di akhiri dengan senyuman pada wajah sang istri. Selembar tisu yang menjadikan temanku menyatakan pertanyaan sederhana padaku.

Tidak ada yang istimewa pada tisu tersebut. Bahannya pun biasa seperti tisu-tisu pada umumnya. Tidak selembut dan seharum tisu-tisu yang biasa di bawa wanita pesolek kemanapun mereka pergi. Namun ada yang membuatnya berbeda. Tisu yang bertuliskan tangan. Sepenggal kisah. Rangkuman hidup. Lebih tepatnya, sekeping curahan hati. Dari istrinya.

Hhmmm.. mungkin jika kita membacanya, nampak seperti penggalan kalimat yang ada di salah satu cerpen majalah. Tapi tidak bagi sahabatku itu. Ukiran tangan tersebut semacam udara hangat yang mampu memecahkan kristal-kristal mata yang lama telah membeku. Selang setelah dia menanyakan bagaimana perasaanku setelah membaca surat itu. Sahabatku memberikan beberapa pilihan jawaban. Ah, temanku ini baik sekali.. masih saja dia sempat memberikanku pilihan. Aku tersenyum.
  1. Apa kau akan bersikap biasa saja. Tertegun. Tidak tau apa yang harus di jawab?
  2. Apa kau akan tersenyum serta membayangkan betapa manis tingkah istrimu?
  3. Apa kau akan menangis karena kau merasa belum bisa membahagiakan istrimu selama ini?
  4. Apa kau akan merasa berdosa karena kau benar-benar tidak memikirkan dia selama ini?
  5. Apa kau akan menangisi keadaanmu, karena memang kau benar-benar belum membahagiakan dia. Justru kau selalu menyaikiti dia. Membuatnya selalu menangis. Dengan segala kebohonganmu. Lalu kau semakin menangisi keadaan rumah tangga yang di ambang kejenuhan. Apa kau akan seperti itu?
  6. Bagaimana perasaanmu? Apa kau masih bingung harus menjawab apa?
Enam pilihan jawaban itu tidak membantuku sama sekali. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaannya tanpa memebaca surat tersebut. Lalu aku memintanya untuk boleh membaca selembar tisu itu. Dia sahabatku. Sahabat sebenarnya. Dan, dia benar-benar memintaku untuk membacanya.
Tisu itu bercertita tentang :
Betapa bahagia istrinya bersuamikan sahabatku. Betapa bersykurnya dia mendapatkan sahabatku. Tentang kerikil-kerikil yang menguji rumah tangga mereka. Dan betapa sabarnya istrinya menyingkirkan kerikil bersama sahabatku. Biduk rumah tangga yang hampir roboh. Kepasrahan istrinya menerima semua perlakukan sahabatku. Serta harapan istrinya pada sahabatku. Harapan seorang istri, untuk tetap mencintainya sama seperti kali pertama bertemu. Tulus. Sabar. Apa adanya. Dan banyak hal yang hanya mereka yang mengerti dari semua pesan singkat itu.
Hampir-hampir aku tidak tahu. Mungkin karena larutnya aku membaca surat tersebut, aku tidak sadar. Di sampingku, sahabat yang selama ini selalu bersamaku dalam duka maupun suka. Berurai air mata yang telah lama mengkristal itu. Sambil tersenyum. Dan tanpa suara. Namun jeritannya bisa aku dengarkan meski hanya dalam hati.
Sore itu, setelah aku mendengarkan semua curahan hati kawan karibku. Dia berpesan padaku. Pesan singkat yang dia tidak boleh aku melupakannya.

Cintai istrimu lebih dalam. Cinta yang sesungguhnya. Bukan karena kau rindu padanya. Bukan karena kau butuh dirinya. Bukan karena kau sayang padanya. Bukan pula karena kau mengerti akan dirinya. Karena cintamu yang sesungguhnya akan mebawamu pada semua itu. Rindu, sayang, butuh, juga memahaminya. Tanpa kesungguhan cinta, semua itu tidak ada artinya. Kau tidak akan bisa rindu senyatanya padanya, sayang sebenarnya padanya, butuh segalanya darinya, juga paham hatinya yang tedalam. Jika kau mengatakan kau telah memahaminya tanpa kau mencintainya dengan dalam, maka kau telah berbohong padanya. Kau....harus....mencintainya kembali seperti kau pertama mencintanya dengan tanpa kenal siapa dia sesungguhnya. Ketika kali pertama kau di butakan cinta kepadanya. Itulah cinta yang teramat dalam. Kawanku..updatelah cintamu setiap saat. Dan, jangan pernah lupakan pesanku ini. Kau tidak perlu memilih pilihan jawaban yang aku berikan. Karena jawaban itu hanya bagi orang yang benar-benar mengerti arti penyesalan.  

Aku tidak berharap kau menjadi salah satu penyesal dalam hidup ini. Segeralah pulang. Cium dan peluk istrimu dengan segenap cinta. Bukan sisa – sisa cinta.

Aku tertegun.


dari seorang kawan

10/08/13

Namanya juga Andai

Andai kebahagiaan bukan Materi, Mungkin materi bukan kebahagiaan

Andai buah pikiran adalah raja bijak, Mungkin punggawa tubuh ini adil dan makmur

Andai tidak ada orang jelek, Mungkin orang ganteng tak ada sebutannya

Andai blog tak ada, Mungkin catatan ini tak akan tertulis disini

Andai aku malaikat waktu, Mungkin tidak ada yang namanya belajar

Andai semua orang kaya materi, Mungkin tak ada tambal ban

Andai Iblis kasat mata, Mungkin kita tidak pernah hati-hati

Andai kita tak pernah salah, Mungkin benar itu hanya hisapan jempol

Andai aku ndak nganggur, Mungkin ndak tertulis ketikan ini

Tapi, apakah Andai itu boleh kita ungkapkan..?? Apakah Andai hanya sebuah kalimat yang seolah menampakkan ketidakpatuhan kita terhadap Tuhan.. Yang dengan Andai kita berjiwa kerdil, tak bersyukur (kesannya), tak pernah puas..  Andai itu apa dan bagaimana harus ditempatkan..??Lalu pertanyaan kecil muncul dari mulut yang (mungkin) tak berdosa.."Bapak, Andai Tuhan itu tidak pernah ada, lalu apa kita juga ndak ada?" Kenapa Tuhan mengadakan kita Pak..?? Padahal Dia selalu dan akan tahu akhir dari akhirnya.. Apa tujuan Dia membuat semua ini..?? Apa agar kita ini selalu berandai-andai Pak..??

Jangan risau akan Andai mu Nak.. Andai itu hanya sebuah loncatan kecil dari impianmu.. Jadikan ia sebagai jembatan pendek yang bisa menjadikan jarakmu tak terlalu jauh tuk menyeberang kepada kenyataanmu.. Andai tak pernah salah.. ia hanya korban.. Korban dari mulut-mulut yang tak pernah "bicara" tentang cinta, pengorbanan, keyakinan, iman, kekuatan, semangat, harapan, dan juga kebaikan hidup lainnya.. Andai hanya sebuah korban Anakku.. Jadikan dia kawanmu yang selalu kau sebut seperti "Andai aku berikan semua uangku untuk pemohon itu..betapa lebih mudahnya dia menjalani sisa tunggakan rumah sakit yang katanya baik itu.." juga seperti "Andai baju baru indahku ini yang aku hadiahkan kepada anak yatim itu, betapa lebih lebarnya sisa senyumnya dibibir kecil itu.."

Itu adalah kalimat-kalimat kecil yang menjadikan Andai bisa jadi lebih terhibur daripada ia diletakkan pada keluarga putus asa juga ketidakpuasan hewani kita..

Kawan, Andai saatku tak lama lagi, MAKA segera berikanlah maafmu padaku untuk yang terbaik supaya Andai tidak menjadi korban lagi di kebusukan dunia ini..


  

teruntukmu kekasihku yang tak pernah lelah akan putus asaku..
TUHAN SEMESTA YANG PALING AKBAR DI LANGIT DAN BUMI

08/08/13

Kekasih Pacarmu

Selamat malam, Nona.
Apa kabarmu? Semoga baik-baik selalu.
Mungkin pembuka surat ini terdengar klise dan membosankan, tapi sungguh, aku mendoakanmu baik-baik saja.
Bagaimana kabarmu dengan dia? Aku dengar kalian baru saja merayakan hari jadi yang ke tiga. Maksudku, kamu sendiri yang merayakannya.
Bagaimana aku bisa tahu?
Oh, Nona. Pikirmu siapa yang membalas pesan-pesanmu yang mengganggu di hari itu? Kamu tak akan tahu ada siapa di pelukan pacarmu ketika padamu ia berkata sedang mengantarkan ibu.
Jangan terkejut, jangan gusar, jangan pula merasa kamu adalah yang paling menderita hatinya.
Kamu memang satu-satunya, Nona.
Aku serius. Pacarnya memang cuma kamu, namun kekasih hatinya bisa siapa saja.
Pikirmu dengan siapa pacarmu merasa paling bahagia? Hubungan kalian tak lebih dari sekadar keterpaksaan, tak lebih dari sekadar saling enggan menjadi yang menyakiti duluan.
Aku tidak bermaksud untuk bersikap menyebalkan, aku hanya ingin memperingatimu dengan hati-hati. Semua sikap menyebalkan pacarmu akhir-akhir ini bukan tanpa alasan.
Bagaimana aku bisa tahu?
Oh, Nona. Karena akulah alasan itu.
Tapi aku tidak memintamu untuk meninggalkan pacarmu, aku juga tidak pernah memintanya itu. Menjadi kekasih hatinya jauh lebih menyenangkan daripada merebut posisimu sekarang.
Satu hal saja, Nona.
Sejak awal surat ini hanya menyampaikan bahwa aku selalu mendoakanmu baik-baik saja. Aku benci kalau kau jatuh sakit, Cantik. Kekasihku terpaksa membuang waktu untuk bersamamu hanya agar mendapat citra pacar yang baik.
Itu menyebalkan, sungguh.
P.S. Terima kasih untuk memilih bermalam minggu dengan sahabatmu sehingga malam ini dia bersamaku.
Salam hangat,
Kekasih Pacarmu.