24/09/13

Satu Tahun dari sekarang aku akan Lupa

Ini mungkin bukan awalan yang baik untuk sebuah surat cinta, tapi apa kamu tahu? Katanya, waktu terlama untuk melupakan seseorang itu adalah 6 tahun.
Pantas saja setelah lima tahun ini kamu belum bisa aku lupakan. Rupanya masih ada sisa satu tahun lagi. Aku jadi berpikir, kira-kira apa yang akan aku lakukan selama satu tahun sebelum melupakan kamu?
Aku pernah membaca sebuah jurnal harian milik seseorang yang berjudul “30 Days of Broken-Hearted”. Di sana, ia menuliskan bahwa jurnal tersebut dibuat untuk membantunya melupakan mantan kekasihnya yang kemarin meninggalkannya. Katanya, ia akan melupakannya dalam waktu 30 hari. Dan dalam kurun waktu 30 hari tersebut, ia akan menulis setiap hari di jurnal hariannya tentang apa saja yang mengingatkan dia pada si mantan kekasih.
Aku? Apakah aku akan menuliskan tentang kamu selama satu tahun sebelum melupakan kamu? Ah, tidak. Menurutku percuma, jika suatu hari aku kembali mengunjungi jurnal tersebut, aku akan kembali mengingatmu. Nanti sia-sia saja usahaku selama enam tahun melupakanmu.
Nah, kalau kau bertanya, apa saja yang kulakukan selama lima tahun ke belakang?
Aku bukan orang gila yang menghabiskan waktunya dengan diam saja, kok. Sungguh. Aku mencoba mencintai orang lainnya karena seseorang berkata bahwa cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah dengan menemukan orang baru. Tapi ternyata tidak seperti itu untuk aku, karena mencintai orang baru hanya menambah keinginanku untuk kembali mencintai kamu.
Lima tahun ini kehidupanku berjalan seperti biasa, masih mencintai kamu seolah-olah hal itu adalah salah satu dari keterbiasaan hidupku. Jadi kupikir rasanya aneh juga ya kalau aku terbangun di pagi hari dan tiba-tiba sudah tidak mencintai kamu lagi.
Tapi mulai tahun depan aku akan melupakan kamu. Meski pun aku belum tahu akan seperti apa rasanya, semoga kamu juga akan terbiasa menjadi sesuatu yang sudah aku lupakan.
Ah, sudahlah. Untuk satu tahun ke depan mungkin aku hanya akan mendoakan kamu. Dan sebelum tahun depan aku lupa sama kamu, aku mau bilang, kamu janji harus bahagia ya.

22/09/13

Kepada yang masih dan selalu

Kepadamu yang cinta tak mau melepaskan diri.
Ada yang mencintai aku. Seseorang yang bukan kamu.
Aku mengatakan padanya bahwa sejak lama, di hatiku sudah ada orang lain. Kemudian dia berkata begini padaku, bahwa cinta itu tentang melepaskan. Jika kau benar-benar mencintai orang tersebut, kau harus membiarkannya pergi. Membiarkannya berbahagia meski pun itu bukan dengan kau. Membiarkannya tertawa meski pun itu bukan karena kau. Melepasnya pergi, dengan seseorang yang bukan kau.
Tapi kemudian aku menyangkalnya. Kataku, justru karena cinta, aku ingin membuat orang yang aku cintai bahagia dengan caraku. Aku ingin membuat orang yang aku cintai tertawa bersamaku, dan aku ingin membuat orang yang aku cintai berada di sampingku dan berada dalam penjagaanku. Seandainya cinta boleh memaksa, seandainya cinta harus memiliki…
Kepadamu yang kenangan masih saja lekat.
Ada orang yang menerimaku. Seseorang yang bukan kamu.
Aku mengatakan padanya bahwa sejak lama, di hatiku sudah ada orang lain. Dan aku tidak mau bersikap seolah-olah mencintainya hanya untuk melupakan kamu. Kemudian dia berkata begini padaku, “Kau tidak perlu melupakan, karena hidup tidak selalu tentang melupakan. Kau hanya perlu menerima. Seperti aku yang menerima hal-hal yang telah lalu dalam hidupmu. Kemudian aku terkesima. Mengetahui betapa penerimaan menimbulkan rasa yang melebihi cinta.
Kepada kamu yang masih bersangkar di pikiranku seperti tak tahu malu.
Ada orang yang mau berjuang bersamaku. Seseorang yang bukan kamu.
Aku mengatakan padanya bahwa sejak lama, di hatiku sudah ada orang lain. Kemudian dia berkata begini padaku, terkadang kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan terkadang pula, apa yang kita inginkan bukanlah sesuatu yang kita butuhkan. Dia juga berkata, “Jika mencintainya membuatmu merasa sendirian, aku akan menggandeng tanganmu dan bersama-sama membantumu merelakan.”
Kepada yang masih dan selalu.
Ada orang yang mencintai aku. Seseorang yang bukan kamu. Seseorang yang mampu menerimaku, seseorang yang mau berjuang bersamaku.
Jika begitu, bolehkah ku minta hatiku kembali?

Kepada yang tak perlu tahu

Kepada pemilik mataku untuk tak pernah luput memperhatikan,
kepada pemilik telingaku untuk tak pernah bosan mendengarkan,
kepada pemilik mulutku untuk tak pernah lelah menanggapi setiap kata,
kepada pelukis senyum otomatis pada wajahku.
Ini adalah surat cinta yang tidak perlu kamu ketahui.
Kamu tidak perlu tahu apa sebabnya aku menulis surat ini, kamu bahkan tidak perlu tahu kalau surat cinta ini ku tulis sambil memikirkan kamu, dan itu membuatku tersenyum.
Kamu tidak perlu tahu kalau aku terkadang tersenyum tanpa alasan, meski pun selebihnya terjadi karena kamu tiba-tiba ada di pikiran. Kamu bahkan tidak perlu tahu kalau aku diam-diam memperhatikan caramu berbicara, caramu bertutur kata, dan setiap gestur yang kau buat.
Kamu tidak perlu tahu kalau kamu  telah mencuri satu ruang pandang pada mataku. Dan kamu tidak perlu tahu bahwa kamu menjadi pemilik debar-debar menyenangkan dalam setiap detikku.
Kepada kamu yang tidak perlu tahu,
sepertinya surat cinta ini ditujukan untuk kamu, dan kamu tidak perlu tahu.

21/09/13

Dari kekasih masa depan

Surat ini datang dari orang yang mencintaimu, meski pun kamu mungkin belum mengenalku. Dan sebelum kamu membaca surat ini lebih jauh, aku mau bertanya satu hal, apa kamu percaya jika aku katakan bahwa surat cinta ini datang dari masa depan?
Sebagai buktinya, aku bisa meramalkan bahwa setelah kalimat ini, kamu pasti akan tertawa dan berkata, “Apaan sih..” kemudian membolak-balik kertas surat ini mencari siapa pengirimnya. Aku memberi kamu waktu untuk melakukan itu.

Aku benar, kan?
Tapi kamu tetap tidak akan menemukan petunjuk siapa pengirim surat ini. Karena di masa depan, meski pun seseorang memiliki kemampuan untuk menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikannya pada masa yang sudah lalu, ia hanya bisa menyampaikannya lewat surat. Dan dia juga dilarang untuk mengatakan identitas dan keberadaannya, karena hal itu akan mengacaukan kehidupan masa lalu dan otomatis dunia masa depan pun akan berubah.
Makanya, aku menulis surat ini dengan keterangan anonim. Yang jelas, aku adalah seseorang yang sangat mencintaimu di masa depan. Mungkin kamu berpikir aku adalah seorang pengkhayal, tapi tidak begitu, aku bersungguh-sungguh.

Kamu mungkin merasa heran, mengapa aku harus mengirim surat ini untukmu di masa lalu jika aku bisa bebas berbicara mengenai apa saja denganmu di masa depan, sebagai orang yang hidup pada waktu yang sama?
Tapi sebagai sepasang kekasih di masa depan, hubunganmu dan aku sedang kurang baik. Jika aku katakan, kamu di masa depan sedang bersikap menyebalkan dan tidak mau mengerti dengan apa yang aku ucapkan, kamu mau percaya? Aku tahu, setelah ini kamu pasti mendengus dan tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan. Kemudian berpikir bahwa jika kita bertengkar itu pasti salahku. Khas kamu.
Tapi tidak. Bukannya aku kurang mencintaimu atau apa, tapi justru karena aku sangat mencintaimu. Aku terlalu ketakutan dengan kemungkinan aku bisa saja kehilanganmu. Untuk itu aku menulis surat ini dari masa depan, karena aku ingin memperbaiki kau dan aku dari awal.
Jadi, sebenarnya aku menulis surat ini untuk disampaikan juga pada kekasihmu di masa saat ini.
Tolong sampaikan padanya untuk jangan terlalu mencintaimu karena kekasih masa depanmu cemburu. Tolong sampaikan padanya untuk jangan terlalu banyak berjanji karena kekasih masa depanmu merasa dicintai setengah hati. Tolong sampaikan padanya untuk meninggalkanmu dengan alasan yang jelas karena kekasih masa depanmu masih berpikir kisah kalian meninggalkan bekas. Tolong sampaikan padanya untuk berhenti mengusikmu di masa depan karena kekasih masa depanmu meragu.
Tolong sampaikan padanya bahwa ia hanya sekedar keping masa lalu, dan aku, kekasih masa depanmu, adalah seseorang yang akan membawamu ke petualangan baru yang lebih seru.

Dari orang yang mencintaimu di masa depan.

20/09/13

Pelajaran

Aku baru tahu kalau takdir itu adalah sesuatu yang Maha Bercanda.
Saat ini lengan-lengan takdir sedang bercanda tentang kita, namun sayang sekali selera humorku dan dia berbeda. Sungguh. Hal ini seharusnya lucu, lelucon yang ia lontarkan. Kau ingin mendengar lelucon yang tidak lucu itu?
Bahwa terkadang dua orang terlihat seperti diciptakan untuk sempurna bagi satu sama lain, namun tidak ditakdirkan untuk bersama.
Menyedihkan sekali, bukan? Mengapa sempurna bagi satu sama lain saja tidak cukup? Mengapa harus juga sempurna dengan lengan-lengan takdir?
Aku percaya kita sempurna jika bersama. Seperti dua garis yang bergerak beriringan. Sama, satu irama, satu nada. Hanya saja lengan-lengan takdir seperti tak membiarkan kita berakhir di satu titik temu. Ia seolah membelokkan kau dan aku ke arah yang berbeda.
Aku seperti gila karena menginginkanmu. Dan mungkin karena itu lengan-lengan takdir tidak suka. Padahal apa salahnya jika aku benar mencintaimu dengan benar-benar?
Katakan aku membenci takdir semenjak aku mengenalmu. Aku membencinya karena aku tidak tahu mengapa ia membiarkan kita dipertemukan jika pada akhirnya kita harus meninggalkan satu sama lain kemudian meninggalkan luka bekas.
Untuk memberikan aku sebuah pelajaran? Omong kosong.
Pelajaran untuk menjadi lebih kuat dan menerima? Mendengarnya saja aku ingin tertawa.
Memangnya tanpa kamu aku menjadi lebih kuat di sebelah mana?  Memangnya tanpa kamu aku menjadi seseorang yang mampu menerima takdir? Tidak.
Bahkan seluruh komponen tubuhku masih menganggap kau adalah takdirku. Takdir yang benar, nyata, tak fana. Takdir yang diciptakan untuk beriringan, seperti dua garis pada satu titik temu. Bukan takdir yang diciptakan hanya untuk sekedar bersinggungan, tak ubahnya tempat yang dijadikan persinggahan.
Aku mencintaimu, maka aku membenci takdir yang tidak membiarkan kau dan aku satu.

18/09/13

Langit

Kepada langit malam dengan satu juta rahasia, aku ada satu permintaan.
Tolong sembunyikan kisahku dengannya.
Tolong sembunyikan ratusan suara tawa renyahnya, tolong sembunyikan ratusan percakapan malam yang diam-diam, tolong sembunyikan ratusan saat-saat tangan bergenggaman, tolong sembunyikan ratusan peluk eratnya, tolong sembunyikan ratusan keluhnya, tolong sembunyikan ratusan janji tentang suatu hari nanti akan bersama, tolong sembunyikan ratusan cerita tentang tempat-tempat persembunyian, tolong sembunyikan ratusan rasa bersalah yang muncul saat lengah, tolong sembunyikan ratusan penyesalan yang langsung berganti dengan rasa tak mampu saling meninggalkan,
..tolong sembunyikan semuanya sebelum kekasihnya tahu.

17/09/13

Buku Ini aku pinjam

Surat ini aku selipkan di buku yang ku pinjam darimu kemarin lusa.
Terima kasih untuk meminjamkan aku buku kesukaanmu ini. Maaf ya, sebenarnya aku tidak benar-benar membacanya. Aku berulang kali membulak-balik halaman demi halamannya, membaca setiap kata, dan berusaha keras untuk mengerti. Tapi aku tidak bisa. Bukannya aku tidak menyukainya atau apa, aku sungguh sedang mencoba mengerti hal-hal yang disukai oleh orang yang akhir-akhir ini mengisi pikiranku.
Iya, kamu akhir-akhir ini mengisi pikiranku. Aku bahkan terus memikirkanmu sepanjang merampungkan buku ini. Aku memikirkan bagaimana ekspresimu saat membacanya, aku bertanya-tanya apa yang kau sukai dari buku ini, dan aku membayangkan kembali raut mukamu saat menceritakan padaku tentang buku ini dengan menggebu-gebu.
Aku cemburu pada buku ini.
Aku sangat ingin menjadi sesuatu yang kau sukai. Sesuatu yang kau ceritakan pada teman-temanmu dengan riang, sesuatu yang membuatmu tiba-tiba tersenyum sendirian, dan sesuatu yang mengisi pikiranmu di waktu senggang.
Tapi bagaimana caranya ya? Berbicara denganmu saja aku tak mampu. Jatuh cinta seolah menelan kata-kata di otakku sampai di depanmu aku lupa bicara. Aku seperti seorang bodoh yang mencoba mencari hal-hal yang kau sukai sampai berusaha memahaminya, sekedar untuk mencari hal menyenangkan untuk dibagi bersama kamu.
Maaf ya, untuk meminjam buku kesukaanmu hanya karena aku ingin mencoba mengerti hal-hal yang kau sukai. Maaf ya, untuk mencuri waktumu hanya karena banyak waktuku yang seolah lenyap karena berjalan terlalu cepat setiap kau menemani.
Buku ini aku pinjam sampai aku mengerti bagaimana menjadi sesuatu yang kau sukai.

16/09/13

Untuk Manusia Sialan

Teruntuk manusia sialan yang mematahkan hatiku.
Beberapa waktu yang lalu aku mematahkan hati seseorang. Tidak persis sama seperti caramu melakukannya, karena aku bukan penghancur hati yang hebat seperti kau. Tapi mungkin baginya rasanya perih tak terperikan, dan di matanya aku adalah manusia sialan seperti kau.
Sebelum aku sadar telah mematahkan hati seseorang, aku sempat berpikir mengenai reinkarnasi. Reinkarnasi akan membuat kita bertukar peran, dan aku pikir hal itu menyenangkan, aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya menyia-nyiakan.
Tapi bahkan sebelum ragaku mati, aku sudah bereinkarnasi menjadi seorang manusia sialan yang mematahkan hati seseorang. Manusia sialan seperti kau. Dan yang membuatku kesal adalah ketika aku menyadari bahwa orang yang ku patahkan hatinya itu bukan kau.
Kau, manusia sialan yang sempat membuatku jatuh cinta. Aku ingat dulu kau pernah bertanya, “Kenapa sih kau jatuh cinta padaku?” dan aku sendiri tak mampu mengatakan apa-apa.
Menurutku, seseorang yang jatuh cinta selalu mempunyai alasan untuk memuja. Entah pada senyuman atau binar mata. Tapi tak ada satu alasan pun yang tepat untuk mengatakan mengapa padamu aku jatuhkan rasa. Entah bagaimana, mungkin kau hanya seorang manusia sialan yang sedang beruntung saja sempat membuatku jatuh cinta.
Mengapa beruntung? Karena kau dicintai oleh orang seperti aku, orang yang malah kau patahkan hatinya. Benar-benar tidak tahu diuntung. Kau tidak memberiku kisah yang indah seperti dalam angan, namun masih saja kau lekat dalam kenangan.
Padahal kau sama sekali tidak istimewa. Kau tidak seberharga itu untuk kukatakan sebagai seseorang yang membuatku jatuh cinta karena senyum yang secerah sang surya.Tidak, senyummu menyebalkan, menjerumuskan. Membuatku seakan merasa dicinta padahal tidak.
Kau bahkan tidak seluar biasa itu untuk kukatakan sebagai seseorang yang mampu membuatku tertawa dalam situasi apa saja. Tidak, sikapmu mengerikan. Membuatku merasa benar bahagia padahal tidak nyata.
Kau tidak membuatku mengerti arti cinta, kau malah membuatku menjadi manusia sialan yang mematahkan hati seseorang. Apa baiknya menjadi seseorang yang mematahkan hati orang lain setelah hatinya dipatahkan? Manusia sialan, kau membuatku menjadi sama sialannya seperti kau.
Seharusnya aku jatuh cinta pada sosok seperti malaikat  yang akan menjadi kekasih terhebat, bukan masih saja seperti pecundang yang kalah perang setiap kau datang.
Dasar manusia sialan. Susah sekali kau dilupakan.

11/09/13

Pencemas

Untuk Papa yang pencemas,
tadi malam aku tertidur dalam keadaan lampu kamar dimatikan, seperti yang selalu Papa minta. Karena kata Papa, sel-sel otak akan beristirahat dengan lebih optimal jika lampu tidak dinyalakan. Papa ingat kan sewaktu aku sibuk berdebat dengan Papa, mengatakan bahwa tidur dalam keadaan gelap itu menyeramkan? Tapi sekarang Papa tidak perlu cemas, karena aku tidak akan lagi ketakutan.
Papa yang pencemas,
sampai sekarang hidungku masih sering alergi terhadap dingin, setiap pagi dan malam aku masih sering bersin-bersin. Papa yang pencemas biasanya panik menyuruhku meminum obat dan vitamin ini itu, memintaku untuk mengenakan pakaian hangat, terburu-buru menutupi kepalaku dengan kertas koran setiap turun hujan, meski pun yang turun hanya sekedar rintik-rintik kecil. Papa yang pencemas sering memarahiku karena aku seringkali tidak peduli dengan kesehatan tubuhku sendiri. Papa ingat kan sewaktu aku marah-marah karena Papa memaksaku tidur ketika malam sudah terlalu larut? Tapi sekarang Papa tidak perlu cemas, karena aku tidak akan teledor lagi dengan kesehatan tubuhku sendiri.
Papa yang pencemas,
sekarang aku sudah bisa membawa kendaraan sendiri. Papa ingat kan waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Papa tidak pernah mengizinkan aku bepergian sendiri? Kemudian beranjak ke bangku sekolah menengah pertama, Papa tidak pernah mengizinkan aku bepergian dengan transportasi umum. Tapi maaf ya Papa, sebenarnya waktu itu aku sering mencuri-curi pergi dengan transportasi umum yang Papa bilang berbahaya karena banyak penculiknya.
Kemudian menuju ke sekolah menengah atas, aku mulai bepergian dengan kendaraan bermotorku sendiri. Papa yang pencemas tidak pernah lupa memintaku berhati-hati, agar selalu memasang penutup kepala dan melihat kanan kiri.
Papa yang pencemas tidak pernah menyukai bagaimana aku membawa kendaraan bermotor, Papa bilang itu berbahaya. Kemudian menuju bangku kuliah, Papa yang pencemas mengajariku menggunakan mobil di sela-sela waktu sibuk Papa, dengan sabar dan telaten. Tapi Papa yang pencemas tetap tidak mengizinkan aku untuk bepergian dengan mobil hingga semester 8, karena kata Papa aku belum juga bisa berkendara dengan baik. Tapi sekarang Papa tidak perlu cemas, karena aku sudah bisa berkendara dengan aman.
Papa yang pencemas, mulai sekarang Papa tidak perlu cemas lagi.
Aku tidak akan ketakutan lagi tidur dengan lampu mati karena mulai hari ini aku tidak akan tidur sendiri.
Aku tidak akan teledor lagi dengan kesehatanku sendiri karena mulai hari ini ada yang akan telaten mengurusku dalam keadaan sehat mau pun sakit.
Aku tidak akan membuat Papa cemas lagi dengan membawa kendaraan dengan sembrono karena mulai sekarang posisiku di bangku kiri, ada yang memberi aku keamanan yang melebihi sebuah sabuk yang melintang di badan.
Mulai sekarang Papa tidak perlu cemas lagi, kewajiban Papa menjagaku sudah selesai.
Mulai hari ini ada orang lain yang mempunyai tugas untuk mencemaskan aku, pria yang Papa berikan kepercayaannya untuk menjagaku mulai  sekarang hingga akhir usianya, pria yang Papa jabat tangannya dengan erat seperti mengikat janji antar pria, pria yang sudah menyematkan cincinnya di jari manisku, pria yang paling aku cintai setelah Papa, pria yang akan mendampingi sisa hidupnya denganku.
Mulai sekarang Papa tidak perlu cemas lagi, karena putri kecil yang biasa kau gendong di pundakmu itu kini sudah dewasa dan sudah bertemu dengan pria yang menjadi takdirnya.
Dan Papa tidak perlu cemas, meski pun putri kecil Papa kini sudah dewasa, baginya Papa si pencemas tetap menjadi sosok idola nomor satunya.

10/09/13

Cinta Yang Aku Kenal

Namanya Cinta. Di dunia, manusia sering sekali menyebut-nyebut namanya. Dan menyedihkan sekali bagaimana semudah itu manusia mengenalnya, semudah itu pula manusia meninggalkannya.
Aku tidak percaya pada Cinta.
Aku pernah menjadi manusia konyol yang mencoba untuk mengenal Cinta. Dibiarkannya aku mengenal teman-temannya dalam rupa bahagia, para serdadu kupu-kupu yang menyerang di dalam perutku, segala euphoria yang pernah aku rasa nyata. Namun tak lama mereka menjelma menjadi dusta, melemparku dari ketinggian dan meninggalkanku luka yang perih tak terkira.
Namanya Cinta. Ia benar-benar kurang ajar dan menyebalkan.
Entah berapa kali ia mencoba untuk kembali menyapa dengan kedatangannya yang serba tiba-tiba, namun untungnya benteng pertahanan diriku cukup kuat untuk mengelak dan mengenyahkannya.
“Mengapa mengelak? Cinta itu menyenangkan, kau tahu?”
Aku tahu.
Namun pada akhirnya semua kesenangan itu tidak akan bertahan lama. Cinta itu sangat akrab dengan pengkhianatan, kebohongan, kesedihan, kemarahan, rasa lelah dan bosan sampai entah. Segala yang pada akhirnya akan membuat Cinta sia-sia.
“Tidak ada kisah cinta yang sempurna. Namun hal itu seharusnya tak lantas membuatmu tidak percaya.”
Aku tahu tidak ada kisah Cinta yang sempurna.
Tapi jika memang ada Cinta yang nyata, seharusnya Cinta itu sendiri mampu menyempurnakan apa yang tidak sempurna.
“Cinta itu menguatkan…”
Tidak. Bagiku, Cinta adalah sesuatu yang melelahkan dan melemahkan.
Cinta membuat manusia lupa melindungi dirinya sendiri, membuat mereka merasa lemah dan ketakutan. Manusia menjadi lemah karena terlalu takut akan kehilangan orang yang mereka cintai, sampai mereka tidak takut kehilangan dirinya sendiri.
“Cinta itu terus menerus ada, dan nyata…”
Konyol sekali.
Pada akhirnya, Cinta adalah soal keegoisan manusia.
Tidak ada manusia yang benar-benar mencintai sampai akhir dan tanpa henti, tidak ada.
Cinta adalah soal keegoisan manusia. Dan manusia yang egois itu adalah aku sendiri.
Pun aku memilih berhenti mencintai orang yang sudah bertahun-tahun aku cintai.
Aku memilih berhenti ketika tahu Cintaku menyapa abai,
aku berhenti ketika tahu Cintaku lebih baik usai.
Aku memilih untuk menyerah karena Cintaku kalah,
aku memilih untuk menyerah karena Cintaku lelah.
Cinta adalah soal keegoisan manusia.
Dan manusia-manusia yang pernah mengatakan dirinya mencintai aku, adalah manusia-manusia itu.
Mereka membuatku bahagia hanya untuk membalikannya 180 derajat. Mereka membayar cintaku dengan upah pengkhianatan dan kebohongan hanya untuk sesuatu yang lebih menarik perhatian mereka.
Pun mereka yang mengaku paling mencintai aku, kini hidupnya dihabiskan dengan mencintai orang lain semenjak aku katakan aku tidak mempunyai rasa yang sama.
Aku tahu dan aku belajar.
Bahwa pada akhirnya, Cinta tidak pernah diperjuangkan sampai akhir yang paling akhir. 
Tidak ada yang pernah memperjuangkan Cinta sampai orang yang ia cintai mengerti.
Semua kisah menyenangkan tentang Cinta itu tak lebih dari sekedar wacana di dalam buku cerita anak-anak.
“Berhentilah menjadi seseorang yang skeptis terhadapku sebelum aku menghukummu dengan jatuh cinta.”
Jika begitu, Cinta… hukum aku seberat-beratnya,
sejauh-jauhnya,
sedalam-dalamnya,
sampai aku lupa pernah sesakit ini, Cinta.

05/09/13

I Want Him

Whisper words of wisdom; let it be…
Suara John Lennon mengalir dari radio mobil Saka. Aku menatapnya lama, sosoknya yang sedang menyetir dengan sebelah tangannya menggenggam jemariku. Sosok lelaki yang sudah aku cintai selama bertahun-tahun, sosok lelaki yang sudah aku kenal baik bahkan tentang kecintaannya pada The Beatles.
“Kamu tahu meaning dari lagu ini apa?” Tanya Saka tiba-tiba.
“Kalau dari judulnya, Let It Be, mungkin tentang penerimaan akan sesuatu. Sounds like… que sera sera.
So, you are not a die hard fan of The Beatles, then.
“Well, I’m not!” Jawabku sambil menggerutu, Saka seharusnya tahu, selera musikku memang jauh berbeda dengannya. Aku lebih menyukai lagu-lagu terbaru yang sedang hitssekarang, sedangkan ia menyukai lagu-lagu yang hits… pada jamannya. “Emang kamu tahu?”
“Of course.” Sahut Saka, nada bangga terdengar dari suaranya. “Lagu ini menuangkan perasaan Paul McCartney sebagai penulis lirik. Perasaannya tentang bubarnya The Beatles. Pada masa-masa itu, Paul bermimpi bertemu dengan ibunya, Mary McCartney…”
“That’s why there is a Mother Mary comes to me, ya?”
Exactly.” Saka tersenyum, membiarkan jantungku seperti berhenti berdetak selama sepersekian detik. “Dan dalam mimpinya itu, ibunya bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, semua yang akan terjadi biarlah terjadi. Let it be.
“Itu kan pendapatku juga. Semacam penerimaan akan apa yang terjadi biarlah terjadi.”
“Dan kamu bisa terima kalimat itu juga untuk kita, Sar?” Potong Saka.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Saka, “Maksud kamu? Ada hubungan apa lagu ini dengan kita?”
I can’t leave my fiancĂ©e.”
“Bukannya kamu yang bilang, setelah liburan kalian ke Bali itu, kamu mau memutuskan pertunangan kamu dengan dia?”
I can’t.” Saka meminggirkan mobilnya untuk berhenti, dari sana aku tahu yang akan Saka katakan berikutnya adalah sesuatu yang serius, “Nggak semudah itu, Sar.”
“Lalu… kapan?”
There will be an answer, Sar.
Eat that crap already. I want you.
Saka menatapku lama, kemudian mengecilkan volume radio mobilnya. Dan suara John Lennon nyaris menghilang bersamaan dengan Saka menarikku ke dalam pelukan.
“Leave her, Ka.”
There will be an answer, let it be…
Shut up, John Lennon. I want him, now.

04/09/13

Pulang

Malam masih panjang, dan aku belum ingin pulang. Aku tahu sebagai seorang lelaki dan suami yang bertanggung jawab, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Namun entah mengapa suasana rumah terlalu menegangkan untuk aku hadapi.
Aku harus pergi ke sana. Ke tempatnya.
Aku pun berkendara selama 7 jam dan tiba di tempatnya. Aku tahu kedatanganku kemari akan menyakiti hati istriku. Tapi tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan untuk menenangkan hati selain menemuinya.
Aku mungkin terlihat seperti orang sinting mengunjunginya sepagi ini. Tapi aku tidak peduli, aku perlu berbicara dengannya.
Aku berjalan menuju tempatnya dan air mataku menetes begitu saja. Ini bukan pertama kalinya aku datang kemari untuk mengadukan semua permasalahan rumah tanggaku padanya. Namun rasa rindu selalu datang dengan tidak sopan setiap aku mendatanginya lagi.
“Aku pulang.”
Aku mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Rasanya seperti menginjakkan kaki di rumah yang menjanjikanmu keamanan dan kenyamanan. Rasanya seperti; di sinilah tempat aku seharusnya berada.
Aku menjejakkan langkah dan bergeser ke dekat tempatnya berada. Tanpa perlu diminta, aku menceritakan semua keluh kesahku, semua masalah, rasa cemas, ketakutan… sampai akhirnya perasaan lega datang begitu saja.
“Kau tahu. Tidak seharusnya aku datang kemari setiap rumah tanggaku terasa kacau.”Kataku pelan. “Tapi kau akan selalu menjadi tempatku pulang, kau satu-satunya yang bisa memberi aku ketenangan.”
Aku terdiam sejenak. Aku merogoh saku celanaku dan melihat ponselku, terdapat puluhanmissed calls dari wanita yang sudah mengikat janji denganku di hadapan Tuhan. Wanita yang bukan dia.
Aku pun tersadar bahwa ini waktunya kembali pada kewajibanku.
“Terima kasih untuk selalu menerima kepulanganku, Ayesha.” Aku tersenyum dan mengelus pelan batu nisan yang mengukir nama Ayesha, kekasihku sewaktu sekolah menengah pertama yang meninggal di ulang tahunnya yang ke 17.
Aku tahu pada usia saat itu mungkin aku nampak masih terlalu dini untuk terus mengingatnya hingga tua, namun ternyata Ayesha adalah bentuk cinta yang nyata. Janji untuk menikahinya yang tidak akan pernah bisa aku penuhi, kini membuatku merasa hina di atas ranjangku sendiri.
Tapi aku tidak peduli, Tuhan. Jika ini dosa, biarkan aku menjadi makhluk hina karena mencintainya.
Cinta yang sekarang aku jalani adalah kewajiban,
karena senyatanya cintaku sudah lama kusemayaman.

03/09/13

Sabar dan Tenang

Cinta itu sabar dan tenang,
tidak terburu-buru dan menggebu.
Seperti tetes air yang jatuh di atas batu yang keras,
perlahan,
sabar dan tenang.
Cinta itu sabar dan tenang,
tidak memaksa dan membara.
Seperti matahari yang mengirim kehangatan di kala siang,
namun tetap mempunyai saat bersembunyi di waktu malam.
Agar teriknya tidak menyiksa dan membuat gersang.
Dan seperti matahari yang tetap ada hingga pagi kembali menjelang, cinta pun sebenarnya tidak hilang saat memberi waktu dan sedikit ruang.
Aku ingin mencintaimu dengan sabar dan tenang.
Seperti ombak-ombak kecil yang merendam kakimu di pesisir pantai,
seperti semilir angin yang menerpa wajahmu dengan pelan,
seperti bintang-bintang yang mengawasimu dari kejauhan,
seperti bulan yang menemanimu semalaman.
Aku bukan diam, tapi melakukannya dengan tenang. Kau boleh tanya Tuhan betapa berisiknya aku membicarakanmu dalam setiap kesempatan. Dalam doa, sesaat sebelum terlelap, dan kapan pun rindu datang sembarangan.
Bukan aku tak berjuang, tapi memberimu sedikit ruang.
Bukan menghilang, hanya tak terlihat.
Bukan tak peduli, hanya tak menunjukkannya.
Mengapa?
Karena aku mencintaimu dengan sabar dan tenang.

dear aksa

Dear Akasa,
aku selalu menyukai arti namamu. Yang dalam bahasa Sanskerta artinya angkasa. Langit.
Memang tidak mudah melupakan kamu jika hanya dengan mengangkat wajahku ke atas saja aku sudah menemukan hal yang mengingatkan aku pada kamu.
Bagaimana langit yang cerah mengingatkan aku pada tawamu yang bahkan membuat matahari iri.
Dan bagaimana langit malam mengingatkan aku pada rahasia-rahasia yang kita simpan dari mereka.
Mereka yang hanya tahu aku dan kamu sudah saling lupa, padahal kita masih saling menggenggam erat masing-masing di dalam doa.
Mereka yang hanya tahu aku dan kamu sudah saling bebas, namun sesungguhnya kita masih tak lepas.
Tapi hari ini aku memandang langit yang tidak lagi menyimpan rahasia kita.
Kali ini hanya ada aku.
Dan malam ini, dengan berdoa pun separuh meminta, aku berharap semoga kamu pun sebenarnya diam-diam masih menyimpan rahasia di langit yang sama.

02/09/13

Bagaimana Jika

Bagaimana jika Tuhan membuat konsep bahwa manusia hanya bisa mencintai satu orang saja selama hidupnya?
Mungkin jatuh cinta akan menjadi jauh lebih sederhana jika Tuhan hanya memberi masing-masing jatah untuk memberikan cinta pada satu orang saja. Tidak akan ada kesalahan, pengkhianatan, ketakutan. Manusia akan menjadi lebih mudah untuk setia.
Namun, apakah pada saat itu kamu akan memilih belajar mencintai orang yang mencintai kamu, atau berjuang untuk orang yang kamu cintai agar cinta kamu berbalas?
Belajar mencintai. Hal itu mungkin terdengar lebih mudah. Tapi apakah dengan berhenti berjuang, akan membuat cinta yang tidak kamu perjuangkan itu berhenti? Sepertinya tidak.Karena rasa tidak pernah berhenti begitu saja. Bagaimana jika kamu gagal dalam hal belajar mencintai? Memangnya hidupmu akan bahagia?
Memperjuangkan orang yang dicintai. Bagaimana jika perjuangan itu sia-sia? Ingat, kamu hanya bisa mencintai satu orang saja.
Seandainya dulu, Tuhan membuat konsep manusia hanya bisa mencintai satu orang saja seumur hidupnya, mungkin kita tidak akan mengenal hal yang dinamakan dengan pilihan.
Mungkin jatuh cinta akan menjadi lebih mudah, tapi mungkin juga akan menjadi lebih susah.
Bagaimana jika sebenarnya pilihan-pilihan itu ada agar kita mempunyai banyak cara untuk bahagia?
Seandainya kita memilih untuk memperjuangkan orang yang kita cintai, kemudian perjuangan tersebut sia-sia dan kita pun menyerah. Kita masih mempunyai pilihan untuk belajar mencintai orang yang mencintai kita, dan kita akan tetap bahagia karena setidaknya kita pernah berjuang.
Because in the end, the suffering and the pains… they’re all worth the fight.