19/12/14

Ignorant

Ignorant

I’m ignorant. That’s why I have almost no interest with you. I like silence best, but I love more being with you.

I’m ignorant. That’s why I don’t care with others. I care about things that amazed me; nature, civilization, love, relationship. But I don’t care bout people. I always think they are complicated and too hard to understand. Or maybe I simply just too in love with myself. And you.

I’m ignorant. That’s why people rarely being with me. I mean, why bother to me while I’ve never care about  peoples? I have my family and a few good friends. And that’s just enough for me. I don’t need more drama. I don’t need more ‘fake’ attachment.

I’m ignorant. If you say that I’m caring and kind, maybe that’s because you’re one of my interest. Or maybe you haven’t know me that well. I’m a liar. I’m changing my mind each and every minutes. But I always keep my promise. I try my best  being true to every words I said.

I’m ignorant. I’m moody and hardly to be tamed. But If you love me deep enough, you’ll stay with me no matter what. Because no matter how stubborn I am, I’m not going to leave peoples who love me. For I know the best how it feels to be left alone.

I’m ignorant. I don’t care how you act and how you talk. Who you are and what you think. I’ll never let you go. And that’s my only promise.

I’m ignorant. I’m doing things that give me personal benefits. I’m playing nice with people I love, being mean to my enemies, and trying to stay calm in front of stranger.  I’m no sincere yet na├»ve. Sometimes I’m act foolish and sly. But yes, that’s me.

I’m ignorant. And maybe that’s why you left.

Kurang dari 100

Kamu itu, ya…

Serupa angin yang tak nampak.

Semilirnya mengundang kesejukan, namun kadang berlalu begitu saja

Kamu itu, ya…

Serupa tangkai yang mudah rapuh.

Tak lagi mampu bertahan, bahkan rela melepaskan daunnya terjatuh begitu saja

Kamu itu, ya…

Serupa pelangi yang berwarna.

Muncul hanya di saat kau menginginkannya, tak peduli pada cuaca panas atau hujan

Kamu itu… ya kamu! Dengan segala pikirmu, dengan segala rasamu dan dengan segala maumu

Lalu, bagaimana dengan aku?

Bagaimana aku bisa melangkah menjauh darimu? Sementara jika pun aku pergi, kamu tak ingin aku pergi

Ah, Kamu!

(93 kata)

230 kata

Ah, mengapa harus kukatakan cinta dalam coretanku kali ini? Jelas-jelas, kita memulainya bukan karena cinta.

Aku merasakan sesuatu yang lain saat kau menyapaku, entah apa itu, mungkin hanyalah sekelebat rasa yang meliuk diantara lirihku.

Namun, perlahan tapi pasti… atau mungkin sebaliknya, kita menjadi terhubung melalui angin yang menyelinap di setiap sudut malam. Meski hanya sedikit, kau menjadi candu dalam setiap pikirku.

Aku tak menampik, jika pada akhirnya aku mempersilakan dirimu untuk singgah di hatiku. Ah, bodohnya aku… hingga aku terjebak dalam segala angan tentang kita. Dan kembali, kau menjadi canduku. Hebat! Siapa sih, kamu?

Waktu berjalan, masa pun terlewati. Kisah kembali terbingkai, kemudian terurai, selalu begitu.

Hingga hari demi hari pun memberikan kita waktu untuk terus berpijak pada cinta yang sesungguhnya.

Aku berusaha memahami hal yang seharusnya tak terjadi antara kita. Sungguh tak ada alasan untuk itu semua.

Namun kini aku sadar, bukan cinta yang seperti ini yang ingin kutambatkan untukmu.

Mungkin naif jika aku katakan, aku tak ingin menari lagi dengan angan kita seperti dulu. Tapi kamu tau? Ada rasa lain yang kurasakan lebih dari sekedar ingin mencumbumu. Mungkin aku menyayangimu, atau aku mulai bisa berpijak pada cinta yang sebenarnya? Entahlah… Jika saja aku sanggup mengatakannya, tentu ini tidak menjadi sulit untukku.

Biarlah cinta melebur, berganti menjadi sebuah rasa yang indah. Meskipun aku tidak tahu bentuknya seperti apa, aku selalu ingin melihatmu bahagia. Begitulah caraku menempatkan rasa sayangku padamu.

Untuk nanti


Aku tidak pernah lupa.

Aku tidak pernah lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita tidak melakukan apa-apa, selain berbincang saja. Entah apa pun temanya, aku menikmatinya. Dari yang paling ringan tentang buku, film, sampai hal berat  seperti politik dan negara. Kita sering berbeda pendapat, tentu saja, terutama tentang politik dan negara. Tetapi tidak pernah masalah, karena justru bedalah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa berdebat di sana.

Aku tidak lupa juga, bagaimana hanya dengan melihatmu, aku bisa tersenyum begitu saja. Aku tahu itu cinta, aku hanya tidak tahu apa kamu sebenarnya mengetahuinya. Kenapa juga kamu mau di sini bersamaku berlama-lama? Kenapa kamu selalu menjadikanku yang pertama kamu hubungi jika ingin berbicara? Cinta juga?

Tetapi aku tidak pernah (berani) menanyakannya. Terlalu takut juga untuk mengira-ngira kalau itu harapan. Jadi, aku tetap diam saja dan menikmati kapanpun kamu ingin aku di sana.

Aku juga ingat pada saat kita sering menyanyi bersama. Lagu-lagu Adele (kamu sering mengejanya A-de-le, dengan dele nya seperti kata kedelai di bahasa Jawa), Sheila on 7, Padi, Cokelat, Katy Perry, Natasha Beddingfield, John Mayer, dan lain-lain. Sampai aku suatu ketika memetik gitarku dan menyanyikan lagu yang masih asing bagimu. 

           Broken pieces
A hundred kisses
A million views
Pictures of you


"Lagu siapa?" katamu. Aku tersenyum dan tetap meneruskan menyanyikan lagu itu. 

Its start with a hello
And look at us now
I fall to deep
My heart is weak

Kamu diam. Memperhatikan. Seperti waktu sedang berhenti, dan kamu tidak bisa bergerak sama sekali.

My minds full of you, never broken
Memory’s still the same, not forgotten 

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Kamu benar-benar memejamkan mata seperti lirik lagu itu. Aku memandanginya, tak ingin melewatkan kesempatan itu pergi begitu saja.

Karena suatu hari, aku takut kita berhenti saling berbicara dan saling menyapa. Aku takut kita tidak bisa seperti ini lagi berdua. Aku takut betapa kerasnya aku nanti berusaha lupa tetapi tidak bisa melakukannya.

Apalagi kemudian  aku menyadari sesuatu. Aku mencintaimu diam-diam, tetapi kamu mengetahuinya. Entah kamu tidak pernah merasakan yang sama atau menunggu aku mengatakannya sampai kita berdua tidak pernah membahasnya. Mungkin kamu nyaman di sini karena kamu tahu kalau di sini dicintai. Kamu tahu kalau aku akan melakukan segala cara untuk membuat kamu bahagia. Tetapi tidak cinta. Atau mungkin kamu di sini memang juga punya cinta. Aku tidak pernah tahu jawabannya karena juga tidak berani mengatakannya, pun menanyakannya.

Dan lagu ini aku buat, untuk nanti. Untuk rindu-rindu yang menyesakkan dada. Untuk kenangan-kenangan yang membuatku tak bisa berhenti jatuh cinta. Untuk setiap sapa yang ingin kuucapkan suatu saat nanti ketika aku kangen setengah mati tetapi tidak bisa mengatakannya.

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Ayo kita nyanyikan lagi lagu ini. Lagu yang pernah kamu tanyakan lagu ini tentang siapa, tetapi aku tidak pernah benar-benar menjawabnya.

Sebenarnya ini lagu tentang kita. Kamu, terutama. Untuk bersiap kalau-kalau kamu tidak lagi ada. Seperti sekarang ini, misalnya.
  
When someones gone, but not forgotten
When you love them so much, but keep it in a silence
When you hear a song, and realized that something is undone
Its love that never been spoken

The feeling that cant be replaced
All the time you’ve tried, but in the end it all wasted

Aku berharap kamu sedang di sini saat ini dan mendengarkan lagu ini lagi. Atau ikut menyenandungkannya.

Bersama.


13/12/14

Alasanku Pergi

Yang aku tau didalam cinta terlalu banyak hal-hal yang tak aku mengerti yang terkadang hanya membuatku bingung dan merasakan sakit. 

Kenapa semua orang harus berpura-pura merelakan orang yang mereka cintai utnuk bersama orang lain? Yang padahal mereka sama sekali tidak rela dan harus tersenyum pedih didepan orang yang mereka cinta. Mereka harus berbohong, membohongi dirinya membohongi orang lain hanya untuk kebahagiaan seseorang yang bahkan tidak mengerti apa yang sebenernya dirasakan. Tapi terkadang ada kalanya kita benar-benar harus merelakan seseorang yang kita cintai bila memang itu yang harus terjadi. 

Terkadang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 

Didalam cinta selalu ada kata percaya, dan disini aku belajar untuk percaya tapi rasa ketakutanku melebihi rasa percayaku. Dia mungkin bahkan tak pernah tau bagaimana aku melawan rasa takutku. Aku tak munafik, aku tak akan rela bila dia pergi walaupun demi kebahagiannya, aku tau ini egois, didalam cinta terkadang kita perlu egois, tapi apa aku juga tetap memaksakan apa yang aku inginkan sedangkan dia tidak pernah menginginkan? 

Aku tau seharusnya cinta tidak harus berbelit seperti ini, tapi ini bukan hanya sekedar cinta yang cinta-cintaan . Dia akan mengatakan jalani saja , jalani saja apa yang ada. Tapi jika kita menjalani semuanya tanpa kita tau apa yang akan kita lakukan tanpa kita tau apa yang kita rasakan tanpa kita tahu apa semuanya tetap masih bisa dijalani? Semua itu tidaklah gampang tanpa kita saling mengerti. Dia bilang jika seperti ini harus ada yang mengalah, aku memutuskan untuk mengalah. Takutku memenangi rasaku, percuma jika kita mengalah namun orang itu tak akan pernah mengerti maksud untuk kekalahan itu karena apa. Aku milih menjauh darimu karena sebuah alasan aku tak ingin kamu lebih dalam dengan perasaanmu, cukup memandangi kamu dari kejauhan saja rasanya sudah puas. Kamu terlihat gagah dengan pakaian yg kamu kenakan kemarin, kamu tahu aku melihat kamu dilapangan itu tapi aku memilih untuk tidak memberitahumu. Aku tak ingin kamu jatuh terlalu dalam, kesedihanmu cukup sampai sini km berhak bahagia, biar aku yang mengalah... 

Biar aku yang jalani apa yang telah aku pilih andai km datang lebih dulu... Mungkin, 
Ah yasudah lah...

30/11/14

Hai Aqua

Ku dengar kini kau telah menemukan seseorang yang menerimamu apa adanya...


Terkadang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 
 apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 

Teruntuk yang tercinta,
akan kudoakan kau dari jauh,
dalam gemerlap sibuknya harimu,
dalam diamnya malam-malamku

Teruntuk yang tercinta,
akan terus kusebut namamu dalam setiap percakapanku dengan Tuhan,
dalam setiap sujud-sujudku setiap sepertiga malam

Karena bahagiamu adalah senyumku,
maka berbahagialah,
bahagialah, cinta
lalu ingatlah,
pernah ada kita,
dalam ribuan langkahmu menuju bahagia

22/11/14

Sorong Dada

Kamu sorongkan dada, minta dibelah. Katamu di dalamnya ada hati tercelup cat merah muda.
Kamu mengernyit saat aku tertawa. ‘Tidak, ini sungguh nyata!’ katamu meyakinkan.

Di tanganku tergenggam belati perak berkilauan. Ia berbisik, ‘Belah saja. Sebelum Ia berubah pikiran.’
Aku menggeleng, ketakutan. ‘Jangan bodoh, gadis kecil. Bulan depan hatinya akan tumbuh lagi dan gadis lain akan membelahnya lagi.’ Aku ragu, tapi belati tampak antusias. Kilaunya haus darah. Merah muda.

‘Alih-alih hati, tak bisakah kau berjanji?’ Wajahmu merekah, ‘Tentu! Tentu! Apapun untukmu!’.

Belati perak tertawa. Tertawa hingga berairmata. ‘Kau bodoh atau apa?’ hardiknya setelah tawanya usai.
‘Tentu saja mereka semua bisa berjanji! Satu-satunya yang tak mampu mereka lakukan adalah menepatinya!’

Aku menyorongkan hati, diambil langsung dari dada. ‘Tolong kau jaga,’ ucapku lirih.
Kuletakkan sebentuk hati yang masih berdenyut lemah di tanganmu. Merah muda.

Kamu ternganga sementara aku berairmata,
‘Tapi… ini hatimu satu-satunya.’

18/11/14

hallo sixth


Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, walaupun lewat telfon tengah malam, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa...

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kesukaanku, teh hangat, atau membaca buku. Masih bisa berjalan-jalan, menonton film, atau ke pantai yangku suka. Masih bisa bekerja dan bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu ada.

Karena setiap rasa yang dulu kamu beri, mengendap di sini. Bersama setiap 'Selamat pagi, kamu!' yang tidak pernah absen setiap pagi. Bersama juga senyumanmu yang bisa tiba-tiba muncul begitu saja dan mewarnai hari. Dan juga bersama scene terakhir yang kutangkap ketika pada suatu malam kamu memutuskan untuk pergi.

Aku tahu itu akan datang. Hanya saja aku terlalu menutupnya. Aku menyadari itu ketika 'Selamat pagi, kamu!'mulai tidak ada lagi. Aku menyadari itu ketika kapan pun aku berharap kamu ada, kamu hilang karna aku yang menjauh memilih mencari alasan untuk menghindari. Aku menyadari itu ketika kapanpun kamu berusaha meneleponmu, aku malas-malasan menjawabnya, dan kemudian dengan cepat menutupnya. Tetapi itu tadi, cintamu terlalu membutakan. Sampai hal yang harusnya kamu sadari, aku tutupi sendiri.

Sekarang, aku merasakan kehilangan yang seharusnya sejak dulu sudah kuantisipasi. Meratapi alasan-alasan yang kubuat ketika 'pelan-pelan menghindarimu. Tetapi mungkin bila nanti, pada akhirnya aku sanggup mengusir rasa yang sebelumnya tak mau pergi, membunuh rinduku sampai tak berani muncul lagi, aku akan kembali. Kembali menemuimu dengan berani dan tersenyum lagi. 

Tapi tidak sekarang. Sekarang rasa itu belum sanggup aku lepaskan. Aku masih sering tiba-tiba teringat kamu ketika terbangun di tengah malam. Aku masih sering tiba-tiba melamunkanmu dengan perasaan tidak karuan. Aku masih sering membayangkan kalau tiba-tiba teleponku berbunyi, darimu, untuk permintaanmu. Atau tiba-tiba kamu muncul ketika aku pulang, dijalan, menemani lewat hanphone, menyesal, sambil membawa bunga dan kembali terus berulang

Jatuh cinta seperti dulu lagi...
Seandainya dulu... Ah sudahlah seperti biasa, harapan hanya bermakna dua. Yang tepat memberi semangat, yang tidak tepat malah melukai dengan sangat. 

Kamu termasuk harapan yang kedua. Selalu berhasil membuatku terluka.




Mungkin bila nanti aku sudah bisa melepaskan semua (karena memang sudah waktunya), aku akan menemuimu sambil tersenyum dan tertawa lebar seperti biasa, seperti saat belum ada 'kita'. Jadi kalau suatu hari kita bertemu lagi, dan aku sudah bercanda dan tertawa seperti biasa, kemungkinannya cuma dua: 

Kalau waktunya dekat, berarti aku sedang berpura-pura, kalau waktunya sudah cukup lama dari sekarang berarti rasa itu memang sudah tidak ada. 

Aku sudah berhasil melepaskannya.

09/11/14

Pertandingamu

Kamu, ketika kamu membaca ini, kamu akan mengerti kenapa aku menuliskannya untukmu.
" Aku tahu sakitnya seperti apa. Aku pernah di sana dan aku pernah merasakannya. Tapi, tidak apa, masih ada banyak doa yang bersamamu. Dan nanti, kamu akan mengerti kalau sakitnya hanya sementara. Tapi nanti, bukan sekarang. Bertahan dulu, karena sakitnya pasti berlalu.. 
Pada saat kamu membaca tulisan ini, bisa jadi sakitmu sudah pergi, bisa juga belum. Tapi, aku harap sakitmu sudah pergi. Aku harap kamu sudah menemukan rahasia melepaskan atau kembali berjalan mempertahankan rasamu"

Kalaupun belum, tidak apa. 
Suatu hari, kamu pasti akan berjalan lagi. Mungkin dibantu oleh seseorang yang mengajakmu berdiri dan berjalan lagi sampai ke sebuah titik nyaman yang membuatmu sembuh dari rasa sakitmu itu, atau kembali memegang tanganku untuk melakukanya bersama. aku telah bersusah payah meyakinkanmu bahwa tidak banyak kebahagiaan di masa lalu dan kenyamanan lain, tapi kini aku dan kamu hanya terbatas oleh sesuatu yang dinamakan dia. 
Yang mungkin dia menggandengku atau memapahku kalau perlu, asal aku selalu digenggamanya. Pelan. Selangkah demi selangkah tolong bawa aku dan jatuhkan dipelukmu...

Kamu mungkin akan terperosok jatuh, tapi aku akan membantumu berdiri. Kamu mungkin juga akan tertarik kembali ke masa lalu, tapi aku akan tersenyum dan menarikmu menjauh lagi. “Kita berjalan dulu”, katanya, “Kalau kamu tidak suka, kamu boleh kembali meratapi masa lalumu.” Ketika aku mengatakan itu, aku tau kamu tidak akan memilih itu. aku percaya kamu, jauh lebih dari kamu mempercayai dirimu sendiri.

Pada saat itulah kamu terhenyak dengan kata ‘meratapi’. Iya. Kamu ternyata selama ini memang terlalu meratapi. Membuang waktumu hanya untuk terus menghayati setiap rasa sakitnya, kehilangannya, kesedihannya. Kamu lupa, seberapa pun indahnya pemandangan di luar, tidak akan terlihat jelas kalau jendelanya berembun. Harus dibersihkan dulu jendelanya, dan lihat keluar. Harus dibersihkan dulu ratapanmu, baru bisa melihat bahwa ada kebahagiaan yang banyak di depan.

Tetapi, kalaupun kamu sudah sampai ke titik nyaman, kadang, lukanya tidak hilang, seringkali justru meninggalkan bekas. Tidak apa, yang penting, sakitnya tidak terasa lagi,  Bisa jadi ketika kamu mengingat bekasnya, malah akan membuatmu bercerita bangga, “Ini, luka karena…” "cinta" dan berakhir dengan, “Pada akhirnya, aku bisa bersamanya.” Lalu kamu tersenyum mengenang betapa jatuhnya kamu ketika itu, tapi ternyata kamu kuat menghadapinya. Kamu bahkan tidak mengira kamu bisa sekuat itu sebelumnya. 

Sejak itu, sampai membaca tulisan ini (dan semoga juga sampai nanti), kamu selalu tahu bahwa apa pun yang terjadi, kamu sebenarnya kuat, kamu jangan fokus pada kejatuhannya, tapi lebih kepada apa yang kamu miliki. Bertahan dan terus berjalan.

Kemudian, pasti nanti, kamu akan bisa bermimpi lagi, dan hei, mungkin juga jatuh cinta lagi. Menikmati kembali rasa hangat yang serupa seperti sebelum kamu kehilangan. Punya gairah yang meluap-luap dan membuatmu susah terlelap. Kali ini, kamu harus mengejarnya, sekuat kamu bisa. Pantaskan dirimu untuk mimpi dan cinta yang ini, agar kamu tidak gagal atau kehilangan lagi.

Oya, jangan lagi sekadar menjadi diri sendiri, itu tidak akan lagi cukup. Jadilah yang terbaik dari sendiri. Itu baru cukup. Sekadar menjadi diri sendiri akan membuatmu terus mencari alasan bahwa kamu sudah berusaha maksimal dan bahwa inilah apa adanya kamu. Tidak, tidak. Kamu bisa melakukan lebih baik dari itu dan kamu tahu benar itu. Jadi berhenti beralasan menjadi diri sendiri dan mulai menjadi yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu.

Kalaupun nanti kamu lelah, itu wajar, tidak apa. Istirahatlah sebentar. Tapi setelah itu, bangun dan berjalanlah lebih cepat lagi, kalau perlu berlari. Sekencang-kencangmu. Demi Tuhan, kejarlah apa yang kamu inginkan dengan apa pun yang kamu bisa. Jangan lagi kamu kehilangan kesempatan. Lakukan saja itu dan jangan dulu mengeluh. Ah, bahkan jangan pernah mengeluh. Mengeluh selalu membuat apa pun yang kamu lakukan malah bertambah berat.

Dan setelah berjuang sekeras itu, kalaupun kemudian kamu tidak mendapat mimpi dan cintamu yang ini, tidak apa. Setidaknya kamu menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari kamu yang sebelumnya. Kualitasmu sudah meningkat. Dan percayalah, kamu akan mendapatkan apa yang pantas untukmu. Jadi, semakin baik dirimu, kamu pun akan mendapatkan yang sebaik kamu. Mungkin lebih. Jadi, lelahmu tidak pernah rugi sama sekali.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk mencapai mimpi dan cintamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantammu. Tidak apa. Apa pun yang terjadi, kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu masih bisa berjalan, berpikir, melihat, mendengar, dan banyak hal lainnya. Lihat kan? Kamu baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu. Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi.

Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik yang hatimu mengatakan, "Ini. Di sini penuh kebahagiaan." Maka, kamu memutuskan untuk berhenti berjalan dan tetap tinggal.  ketika itu terjadi, kamu menemukan kebahagiaan, Jangan kamu simpan sendiri.

Jangan khawatir, kebahagiaan tidak pernah habis. Ketika membahagiakan, justru kamu menerima lebih banyak kebahagiaan. Sama seperti seorang tua yang membelikan anaknya sepeda atau mainan. Anaknya berbahagia, tapi orang tuanya jauh lebih berbahagia ketika anaknya berbahagia. Lalu hangatnya menyebar dari mata, ke hati, lalu ke mana-mana.Kebahagiaan itu tidak pernah berkurang ketika dibagikan.
Terakhir, sebelum kamu selesai membaca tulisan ini, kamu harus mengingat satu hal, "Selesaikan apa pun yang kamu mulai". Seperti pertandingan sepakbola. Tidak peduli berapa banyak gol disarangkan ke gawangmu, kamu harus bermain sampai pertandingan selesai. Kita tidak bisa berhenti di tengahnya hanya karena kita sudah kemasukan banyak gol dan tidak mungkin menang. Pertandingan adalah pertandingan, selesaikan. Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kamu dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan'mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kamu kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kamu menang.

Ini bukan ramalan, ini hanya tulisan. Kamu akan membacanya di masa depan. Entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini. Yang penting, ketika kamu membaca ini, kamu ingat, bahwa kamu juga yang menulis ini. Dan kamu tahu bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi, seperti yang kamu tuliskan sekarang ini, jatuhnya, sakitnya, perjuangannya, semuanya. Jika kamu merasa lemah, baca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi. Terus saja sampai 'pertandingan'mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kamu yang memutuskan untuk berhenti. Biar Tuhan yang memutuskan kapan kamu boleh berhenti.
Tulisan ini, aku dan kamu akhiri di sini. Dariku dan untukku sendiri.

06/09/14

Satu Do'a Selamat 19

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan berhenti percaya bahwa seseorang tengah merindukanmu, tiap kali sehelai bulu matamu jatuh di pipi. Karena kamu tahu, jika seseorang merindukanmu dengan cukup dalam, ia akan menempuh tiap cara untuk menunjukkannya padamu, tanpa lewat bulu mata.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan menyalakan sebatang lilin dan meniupnya perlahan, tanpa harap apa-apa. Bukan karena kamu tidak percaya doa. Bukan karena kamu kehilangan harap. Kamu hanya tau bahwa hidup, mungkin, hanya perlu dinikmati detik ini juga. Tanpa perlu mengubah apa-apa.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu belajar bahwa mempertahankan cinta jauh lebih sulit daripada menemukannya. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang mencintaimu dalam tiap cara yang tidak pernah kamu mengerti seumur hidup, tapi tidak berarti mereka tidak mencintaimu dengan seluruh hati yang mereka miliki. Kamu akan bertemu orang-orang yang tidak pernah bisa mengerti dirimu, tapi tetap kamu cintai. Dengan tulus. Sepanjang hidupmu.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu berhenti berdoa tentang ‘hidup bahagia selama-lamanya’. Kamu berhenti berharap suatu hari badai akan berhenti dan langit senantiasa cerah. Kamu akan mengerti, lewat cara yang paling istimewa, bahwa penderitaan adalah satu-satunya cara supaya kamu mengerti apa itu kebahagiaan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan memiliki, paling sedikit, seorang musuh. Suatu hari kamu akan berdiri bersebrangan, bahkan dengan orang-orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh. Saat itulah kamu tahu, berapa harga yang harus kau bayar untuk keyakinanmu.

Ketika dewasa nanti,
Kamu akan menghargai dirimu sendiri. Tanpa  harus muda, cantik, langsing, kaya, atau pintar. Kamu akan berterima kasih setiap hari, untuk hal-hal sederhana yang diberi Tuhan setiap hari dengan cuma-cuma; udara yang dihirup, jantung yang berdegup, dan airmata yang menetes. Kamu akan meminta lebih sedikit dan bersyukur lebih banyak.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan terus menerus bertanya tentang banyak hal. Tentang hidup, tentang adil, tentang Tuhan. Kamu akan menemukan jawaban ketidak puasan, lalu kamu mencari lagi. Begitu berulang-ulang, tanpa henti. Teruslah bertanya. Teruslah mencari. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa pertanyaan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Keluarga adalah permata yang tidak bisa kau beli dengan uang. Begitu pula dengan sahabat. Kamu akan mengecewakan mereka berkali-kali, berselisih pendapat hampir tiap hari, tapi mereka akan tetap ada, tiap kali kamu butuh. Mereka akan mengesalkanmu, mengecewakanmu, tapi kamu selalu tahu, mereka akan selalu bersamamu. Melampaui kematian. Melampaui kehidupan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Dua puluh atau dua satu sungguh tidak berarti banyak. Kamu tetap ceroboh, penakut, dan pemimpi. Tapi setidaknya kamu tahu, yang berarti bukan angka, bukan tahun, bukan waktu. Yang jauh lebih berarti adalah orang-orang di sekitarmu, orang-orang yang mengajarkanmu kehidupan dengan cara mereka masing-masing.

Hidup tidak pernah bercerita tentang dirimu sendiri.
Hidup adalah tentang orang-orang di sekelilingmu.

Hai 19!

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan berhenti percaya bahwa seseorang tengah merindukanmu, tiap kali sehelai bulu matamu jatuh di pipi. Karena kamu tahu, jika seseorang merindukanmu dengan cukup dalam, ia akan menempuh tiap cara untuk menunjukkannya padamu, tanpa lewat bulu mata.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan menyalakan sebatang lilin dan meniupnya perlahan, tanpa harap apa-apa. Bukan karena kamu tidak percaya doa. Bukan karena kamu kehilangan harap. Kamu hanya tau bahwa hidup, mungkin, hanya perlu dinikmati detik ini juga. Tanpa perlu mengubah apa-apa.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu belajar bahwa mempertahankan cinta jauh lebih sulit daripada menemukannya. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang mencintaimu dalam tiap cara yang tidak pernah kamu mengerti seumur hidup, tapi tidak berarti mereka tidak mencintaimu dengan seluruh hati yang mereka miliki. Kamu akan bertemu orang-orang yang tidak pernah bisa mengerti dirimu, tapi tetap kamu cintai. Dengan tulus. Sepanjang hidupmu.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu berhenti berdoa tentang ‘hidup bahagia selama-lamanya’. Kamu berhenti berharap suatu hari badai akan berhenti dan langit senantiasa cerah. Kamu akan mengerti, lewat cara yang paling istimewa, bahwa penderitaan adalah satu-satunya cara supaya kamu mengerti apa itu kebahagiaan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan memiliki, paling sedikit, seorang musuh. Suatu hari kamu akan berdiri bersebrangan, bahkan dengan orang-orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh. Saat itulah kamu tahu, berapa harga yang harus kau bayar untuk keyakinanmu.

Ketika dewasa nanti,
Kamu akan menghargai dirimu sendiri. Tanpa  harus muda, cantik, langsing, kaya, atau pintar. Kamu akan berterima kasih setiap hari, untuk hal-hal sederhana yang diberi Tuhan setiap hari dengan cuma-cuma; udara yang dihirup, jantung yang berdegup, dan airmata yang menetes. Kamu akan meminta lebih sedikit dan bersyukur lebih banyak.

Ketika kamu dewasa nanti,
Kamu akan terus menerus bertanya tentang banyak hal. Tentang hidup, tentang adil, tentang Tuhan. Kamu akan menemukan jawaban ketidak puasan, lalu kamu mencari lagi. Begitu berulang-ulang, tanpa henti. Teruslah bertanya. Teruslah mencari. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa pertanyaan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Keluarga adalah permata yang tidak bisa kau beli dengan uang. Begitu pula dengan sahabat. Kamu akan mengecewakan mereka berkali-kali, berselisih pendapat hampir tiap hari, tapi mereka akan tetap ada, tiap kali kamu butuh. Mereka akan mengesalkanmu, mengecewakanmu, tapi kamu selalu tahu, mereka akan selalu bersamamu. Melampaui kematian. Melampaui kehidupan.

Ketika kamu dewasa nanti,
Sembilan belas atau berapapun sungguh tidak berarti banyak. Kamu tetap ceroboh, penakut, dan pemimpi. Tapi setidaknya kamu tahu, yang berarti bukan angka, bukan tahun, bukan waktu. Yang jauh lebih berarti adalah orang-orang di sekitarmu, orang-orang yang mengajarkanmu kehidupan dengan cara mereka masing-masing.

Hidup tidak pernah bercerita tentang dirimu sendiri.
Hidup adalah tentang orang-orang di sekelilingmu. Selamat ulang taun semoga diumurmu yang 19 ini selalu ada doa didalamanya

09/01/14

Cermin

Bayanganku, parasmu sudah lama tidak secerah dulu lagi, perlahan Waktu telah menggoreskan ceritanya di keningmu, kening yang sering merasakan hangatnya telapak tanganmu, di saat dunia tak selalu sama seperti harapanmu.

Bayanganku, betapa tidak sempurnanya kamu di mataku, baju lusuh kesayanganmu yang telah lama terpakai itu, tidak sedikitpun mampu menghiasi tubuhmu, memanjakan diri sendiri saja kamu tak pernah sanggup, bagaimana bisa kamu memanjakan orang lain.

Bayanganku, kamu begitu paham bahwa kenyataan begitu kejam, banyak hati yang rela padam demi hidup, apa yang mampu kamu tawarkan supaya kamu dipahami, sudah sekian lama kecewa mengurungmu pada rasa takut.

Bayanganku, lihatlah sekarang kenyataan sedang memihak padamu lagi, keningmu telah merasakan hangatnya ciuman lagi, tubuhmu telah terhiasi pelukan lagi, apa yang mampu kamu lakukan saat ini? Aku tau takutmu semakin tidak menentu, kekuranganmu tak mampu menuntut apapun supaya menjadi pasti, siapkah kamu mempertaruhkan hati lagi demi sebuah hati?

Bayanganku, dunia tidak mampu membeli bahagiamu, seiring jelasnya goresan waktu di keningmu, tetaplah percaya pada hati, lipatlah tanganmu berkali-kali, pertanyakan sekali lagi bahwa untuk dicintai kamu harus mencintai.

Bayanganku, bersyukurlah akan ketidak sempurnaanmu, tangisanmu dan sesak dadamu karena rindu akan terjawab saat ini, seperti halnya mencintai yang akan bertemu dicintai, percayakan hatimu pada itu.

Bayanganku, garis waktu di keningmu semakin jelas, baju lusuh ditubuhmu semakin usang, bukankah dunia selalu begitu, bahagia yang terbeli tak pernah bertahan lama, perjuangkan bahagiamu kali ini dengan cinta setulusnya, karena sekali lagi aku katakan bahwa hanya dengan mencintai maka kamu akan dicintai, seperti amarah ibumu, seperti retaknya tulang ayahmu, seperti aku yang tak pernah berhenti mencintaimu.