09/01/14

Cermin

Bayanganku, parasmu sudah lama tidak secerah dulu lagi, perlahan Waktu telah menggoreskan ceritanya di keningmu, kening yang sering merasakan hangatnya telapak tanganmu, di saat dunia tak selalu sama seperti harapanmu.

Bayanganku, betapa tidak sempurnanya kamu di mataku, baju lusuh kesayanganmu yang telah lama terpakai itu, tidak sedikitpun mampu menghiasi tubuhmu, memanjakan diri sendiri saja kamu tak pernah sanggup, bagaimana bisa kamu memanjakan orang lain.

Bayanganku, kamu begitu paham bahwa kenyataan begitu kejam, banyak hati yang rela padam demi hidup, apa yang mampu kamu tawarkan supaya kamu dipahami, sudah sekian lama kecewa mengurungmu pada rasa takut.

Bayanganku, lihatlah sekarang kenyataan sedang memihak padamu lagi, keningmu telah merasakan hangatnya ciuman lagi, tubuhmu telah terhiasi pelukan lagi, apa yang mampu kamu lakukan saat ini? Aku tau takutmu semakin tidak menentu, kekuranganmu tak mampu menuntut apapun supaya menjadi pasti, siapkah kamu mempertaruhkan hati lagi demi sebuah hati?

Bayanganku, dunia tidak mampu membeli bahagiamu, seiring jelasnya goresan waktu di keningmu, tetaplah percaya pada hati, lipatlah tanganmu berkali-kali, pertanyakan sekali lagi bahwa untuk dicintai kamu harus mencintai.

Bayanganku, bersyukurlah akan ketidak sempurnaanmu, tangisanmu dan sesak dadamu karena rindu akan terjawab saat ini, seperti halnya mencintai yang akan bertemu dicintai, percayakan hatimu pada itu.

Bayanganku, garis waktu di keningmu semakin jelas, baju lusuh ditubuhmu semakin usang, bukankah dunia selalu begitu, bahagia yang terbeli tak pernah bertahan lama, perjuangkan bahagiamu kali ini dengan cinta setulusnya, karena sekali lagi aku katakan bahwa hanya dengan mencintai maka kamu akan dicintai, seperti amarah ibumu, seperti retaknya tulang ayahmu, seperti aku yang tak pernah berhenti mencintaimu.