19/12/14

230 kata

Ah, mengapa harus kukatakan cinta dalam coretanku kali ini? Jelas-jelas, kita memulainya bukan karena cinta.

Aku merasakan sesuatu yang lain saat kau menyapaku, entah apa itu, mungkin hanyalah sekelebat rasa yang meliuk diantara lirihku.

Namun, perlahan tapi pasti… atau mungkin sebaliknya, kita menjadi terhubung melalui angin yang menyelinap di setiap sudut malam. Meski hanya sedikit, kau menjadi candu dalam setiap pikirku.

Aku tak menampik, jika pada akhirnya aku mempersilakan dirimu untuk singgah di hatiku. Ah, bodohnya aku… hingga aku terjebak dalam segala angan tentang kita. Dan kembali, kau menjadi canduku. Hebat! Siapa sih, kamu?

Waktu berjalan, masa pun terlewati. Kisah kembali terbingkai, kemudian terurai, selalu begitu.

Hingga hari demi hari pun memberikan kita waktu untuk terus berpijak pada cinta yang sesungguhnya.

Aku berusaha memahami hal yang seharusnya tak terjadi antara kita. Sungguh tak ada alasan untuk itu semua.

Namun kini aku sadar, bukan cinta yang seperti ini yang ingin kutambatkan untukmu.

Mungkin naif jika aku katakan, aku tak ingin menari lagi dengan angan kita seperti dulu. Tapi kamu tau? Ada rasa lain yang kurasakan lebih dari sekedar ingin mencumbumu. Mungkin aku menyayangimu, atau aku mulai bisa berpijak pada cinta yang sebenarnya? Entahlah… Jika saja aku sanggup mengatakannya, tentu ini tidak menjadi sulit untukku.

Biarlah cinta melebur, berganti menjadi sebuah rasa yang indah. Meskipun aku tidak tahu bentuknya seperti apa, aku selalu ingin melihatmu bahagia. Begitulah caraku menempatkan rasa sayangku padamu.