18/11/14

hallo sixth


Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, walaupun lewat telfon tengah malam, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa...

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kesukaanku, teh hangat, atau membaca buku. Masih bisa berjalan-jalan, menonton film, atau ke pantai yangku suka. Masih bisa bekerja dan bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu ada.

Karena setiap rasa yang dulu kamu beri, mengendap di sini. Bersama setiap 'Selamat pagi, kamu!' yang tidak pernah absen setiap pagi. Bersama juga senyumanmu yang bisa tiba-tiba muncul begitu saja dan mewarnai hari. Dan juga bersama scene terakhir yang kutangkap ketika pada suatu malam kamu memutuskan untuk pergi.

Aku tahu itu akan datang. Hanya saja aku terlalu menutupnya. Aku menyadari itu ketika 'Selamat pagi, kamu!'mulai tidak ada lagi. Aku menyadari itu ketika kapan pun aku berharap kamu ada, kamu hilang karna aku yang menjauh memilih mencari alasan untuk menghindari. Aku menyadari itu ketika kapanpun kamu berusaha meneleponmu, aku malas-malasan menjawabnya, dan kemudian dengan cepat menutupnya. Tetapi itu tadi, cintamu terlalu membutakan. Sampai hal yang harusnya kamu sadari, aku tutupi sendiri.

Sekarang, aku merasakan kehilangan yang seharusnya sejak dulu sudah kuantisipasi. Meratapi alasan-alasan yang kubuat ketika 'pelan-pelan menghindarimu. Tetapi mungkin bila nanti, pada akhirnya aku sanggup mengusir rasa yang sebelumnya tak mau pergi, membunuh rinduku sampai tak berani muncul lagi, aku akan kembali. Kembali menemuimu dengan berani dan tersenyum lagi. 

Tapi tidak sekarang. Sekarang rasa itu belum sanggup aku lepaskan. Aku masih sering tiba-tiba teringat kamu ketika terbangun di tengah malam. Aku masih sering tiba-tiba melamunkanmu dengan perasaan tidak karuan. Aku masih sering membayangkan kalau tiba-tiba teleponku berbunyi, darimu, untuk permintaanmu. Atau tiba-tiba kamu muncul ketika aku pulang, dijalan, menemani lewat hanphone, menyesal, sambil membawa bunga dan kembali terus berulang

Jatuh cinta seperti dulu lagi...
Seandainya dulu... Ah sudahlah seperti biasa, harapan hanya bermakna dua. Yang tepat memberi semangat, yang tidak tepat malah melukai dengan sangat. 

Kamu termasuk harapan yang kedua. Selalu berhasil membuatku terluka.




Mungkin bila nanti aku sudah bisa melepaskan semua (karena memang sudah waktunya), aku akan menemuimu sambil tersenyum dan tertawa lebar seperti biasa, seperti saat belum ada 'kita'. Jadi kalau suatu hari kita bertemu lagi, dan aku sudah bercanda dan tertawa seperti biasa, kemungkinannya cuma dua: 

Kalau waktunya dekat, berarti aku sedang berpura-pura, kalau waktunya sudah cukup lama dari sekarang berarti rasa itu memang sudah tidak ada. 

Aku sudah berhasil melepaskannya.