22/11/14

Sorong Dada

Kamu sorongkan dada, minta dibelah. Katamu di dalamnya ada hati tercelup cat merah muda.
Kamu mengernyit saat aku tertawa. ‘Tidak, ini sungguh nyata!’ katamu meyakinkan.

Di tanganku tergenggam belati perak berkilauan. Ia berbisik, ‘Belah saja. Sebelum Ia berubah pikiran.’
Aku menggeleng, ketakutan. ‘Jangan bodoh, gadis kecil. Bulan depan hatinya akan tumbuh lagi dan gadis lain akan membelahnya lagi.’ Aku ragu, tapi belati tampak antusias. Kilaunya haus darah. Merah muda.

‘Alih-alih hati, tak bisakah kau berjanji?’ Wajahmu merekah, ‘Tentu! Tentu! Apapun untukmu!’.

Belati perak tertawa. Tertawa hingga berairmata. ‘Kau bodoh atau apa?’ hardiknya setelah tawanya usai.
‘Tentu saja mereka semua bisa berjanji! Satu-satunya yang tak mampu mereka lakukan adalah menepatinya!’

Aku menyorongkan hati, diambil langsung dari dada. ‘Tolong kau jaga,’ ucapku lirih.
Kuletakkan sebentuk hati yang masih berdenyut lemah di tanganmu. Merah muda.

Kamu ternganga sementara aku berairmata,
‘Tapi… ini hatimu satu-satunya.’