19/12/14

Untuk nanti


Aku tidak pernah lupa.

Aku tidak pernah lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita tidak melakukan apa-apa, selain berbincang saja. Entah apa pun temanya, aku menikmatinya. Dari yang paling ringan tentang buku, film, sampai hal berat  seperti politik dan negara. Kita sering berbeda pendapat, tentu saja, terutama tentang politik dan negara. Tetapi tidak pernah masalah, karena justru bedalah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa berdebat di sana.

Aku tidak lupa juga, bagaimana hanya dengan melihatmu, aku bisa tersenyum begitu saja. Aku tahu itu cinta, aku hanya tidak tahu apa kamu sebenarnya mengetahuinya. Kenapa juga kamu mau di sini bersamaku berlama-lama? Kenapa kamu selalu menjadikanku yang pertama kamu hubungi jika ingin berbicara? Cinta juga?

Tetapi aku tidak pernah (berani) menanyakannya. Terlalu takut juga untuk mengira-ngira kalau itu harapan. Jadi, aku tetap diam saja dan menikmati kapanpun kamu ingin aku di sana.

Aku juga ingat pada saat kita sering menyanyi bersama. Lagu-lagu Adele (kamu sering mengejanya A-de-le, dengan dele nya seperti kata kedelai di bahasa Jawa), Sheila on 7, Padi, Cokelat, Katy Perry, Natasha Beddingfield, John Mayer, dan lain-lain. Sampai aku suatu ketika memetik gitarku dan menyanyikan lagu yang masih asing bagimu. 

           Broken pieces
A hundred kisses
A million views
Pictures of you


"Lagu siapa?" katamu. Aku tersenyum dan tetap meneruskan menyanyikan lagu itu. 

Its start with a hello
And look at us now
I fall to deep
My heart is weak

Kamu diam. Memperhatikan. Seperti waktu sedang berhenti, dan kamu tidak bisa bergerak sama sekali.

My minds full of you, never broken
Memory’s still the same, not forgotten 

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Kamu benar-benar memejamkan mata seperti lirik lagu itu. Aku memandanginya, tak ingin melewatkan kesempatan itu pergi begitu saja.

Karena suatu hari, aku takut kita berhenti saling berbicara dan saling menyapa. Aku takut kita tidak bisa seperti ini lagi berdua. Aku takut betapa kerasnya aku nanti berusaha lupa tetapi tidak bisa melakukannya.

Apalagi kemudian  aku menyadari sesuatu. Aku mencintaimu diam-diam, tetapi kamu mengetahuinya. Entah kamu tidak pernah merasakan yang sama atau menunggu aku mengatakannya sampai kita berdua tidak pernah membahasnya. Mungkin kamu nyaman di sini karena kamu tahu kalau di sini dicintai. Kamu tahu kalau aku akan melakukan segala cara untuk membuat kamu bahagia. Tetapi tidak cinta. Atau mungkin kamu di sini memang juga punya cinta. Aku tidak pernah tahu jawabannya karena juga tidak berani mengatakannya, pun menanyakannya.

Dan lagu ini aku buat, untuk nanti. Untuk rindu-rindu yang menyesakkan dada. Untuk kenangan-kenangan yang membuatku tak bisa berhenti jatuh cinta. Untuk setiap sapa yang ingin kuucapkan suatu saat nanti ketika aku kangen setengah mati tetapi tidak bisa mengatakannya.

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Ayo kita nyanyikan lagi lagu ini. Lagu yang pernah kamu tanyakan lagu ini tentang siapa, tetapi aku tidak pernah benar-benar menjawabnya.

Sebenarnya ini lagu tentang kita. Kamu, terutama. Untuk bersiap kalau-kalau kamu tidak lagi ada. Seperti sekarang ini, misalnya.
  
When someones gone, but not forgotten
When you love them so much, but keep it in a silence
When you hear a song, and realized that something is undone
Its love that never been spoken

The feeling that cant be replaced
All the time you’ve tried, but in the end it all wasted

Aku berharap kamu sedang di sini saat ini dan mendengarkan lagu ini lagi. Atau ikut menyenandungkannya.

Bersama.