30/11/14

Hai Aqua

Ku dengar kini kau telah menemukan seseorang yang menerimamu apa adanya...


Terkadang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 
 apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 

Teruntuk yang tercinta,
akan kudoakan kau dari jauh,
dalam gemerlap sibuknya harimu,
dalam diamnya malam-malamku

Teruntuk yang tercinta,
akan terus kusebut namamu dalam setiap percakapanku dengan Tuhan,
dalam setiap sujud-sujudku setiap sepertiga malam

Karena bahagiamu adalah senyumku,
maka berbahagialah,
bahagialah, cinta
lalu ingatlah,
pernah ada kita,
dalam ribuan langkahmu menuju bahagia

22/11/14

Sorong Dada

Kamu sorongkan dada, minta dibelah. Katamu di dalamnya ada hati tercelup cat merah muda.
Kamu mengernyit saat aku tertawa. ‘Tidak, ini sungguh nyata!’ katamu meyakinkan.

Di tanganku tergenggam belati perak berkilauan. Ia berbisik, ‘Belah saja. Sebelum Ia berubah pikiran.’
Aku menggeleng, ketakutan. ‘Jangan bodoh, gadis kecil. Bulan depan hatinya akan tumbuh lagi dan gadis lain akan membelahnya lagi.’ Aku ragu, tapi belati tampak antusias. Kilaunya haus darah. Merah muda.

‘Alih-alih hati, tak bisakah kau berjanji?’ Wajahmu merekah, ‘Tentu! Tentu! Apapun untukmu!’.

Belati perak tertawa. Tertawa hingga berairmata. ‘Kau bodoh atau apa?’ hardiknya setelah tawanya usai.
‘Tentu saja mereka semua bisa berjanji! Satu-satunya yang tak mampu mereka lakukan adalah menepatinya!’

Aku menyorongkan hati, diambil langsung dari dada. ‘Tolong kau jaga,’ ucapku lirih.
Kuletakkan sebentuk hati yang masih berdenyut lemah di tanganmu. Merah muda.

Kamu ternganga sementara aku berairmata,
‘Tapi… ini hatimu satu-satunya.’

18/11/14

hallo sixth


Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, walaupun lewat telfon tengah malam, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa...

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kesukaanku, teh hangat, atau membaca buku. Masih bisa berjalan-jalan, menonton film, atau ke pantai yangku suka. Masih bisa bekerja dan bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu ada.

Karena setiap rasa yang dulu kamu beri, mengendap di sini. Bersama setiap 'Selamat pagi, kamu!' yang tidak pernah absen setiap pagi. Bersama juga senyumanmu yang bisa tiba-tiba muncul begitu saja dan mewarnai hari. Dan juga bersama scene terakhir yang kutangkap ketika pada suatu malam kamu memutuskan untuk pergi.

Aku tahu itu akan datang. Hanya saja aku terlalu menutupnya. Aku menyadari itu ketika 'Selamat pagi, kamu!'mulai tidak ada lagi. Aku menyadari itu ketika kapan pun aku berharap kamu ada, kamu hilang karna aku yang menjauh memilih mencari alasan untuk menghindari. Aku menyadari itu ketika kapanpun kamu berusaha meneleponmu, aku malas-malasan menjawabnya, dan kemudian dengan cepat menutupnya. Tetapi itu tadi, cintamu terlalu membutakan. Sampai hal yang harusnya kamu sadari, aku tutupi sendiri.

Sekarang, aku merasakan kehilangan yang seharusnya sejak dulu sudah kuantisipasi. Meratapi alasan-alasan yang kubuat ketika 'pelan-pelan menghindarimu. Tetapi mungkin bila nanti, pada akhirnya aku sanggup mengusir rasa yang sebelumnya tak mau pergi, membunuh rinduku sampai tak berani muncul lagi, aku akan kembali. Kembali menemuimu dengan berani dan tersenyum lagi. 

Tapi tidak sekarang. Sekarang rasa itu belum sanggup aku lepaskan. Aku masih sering tiba-tiba teringat kamu ketika terbangun di tengah malam. Aku masih sering tiba-tiba melamunkanmu dengan perasaan tidak karuan. Aku masih sering membayangkan kalau tiba-tiba teleponku berbunyi, darimu, untuk permintaanmu. Atau tiba-tiba kamu muncul ketika aku pulang, dijalan, menemani lewat hanphone, menyesal, sambil membawa bunga dan kembali terus berulang

Jatuh cinta seperti dulu lagi...
Seandainya dulu... Ah sudahlah seperti biasa, harapan hanya bermakna dua. Yang tepat memberi semangat, yang tidak tepat malah melukai dengan sangat. 

Kamu termasuk harapan yang kedua. Selalu berhasil membuatku terluka.




Mungkin bila nanti aku sudah bisa melepaskan semua (karena memang sudah waktunya), aku akan menemuimu sambil tersenyum dan tertawa lebar seperti biasa, seperti saat belum ada 'kita'. Jadi kalau suatu hari kita bertemu lagi, dan aku sudah bercanda dan tertawa seperti biasa, kemungkinannya cuma dua: 

Kalau waktunya dekat, berarti aku sedang berpura-pura, kalau waktunya sudah cukup lama dari sekarang berarti rasa itu memang sudah tidak ada. 

Aku sudah berhasil melepaskannya.

09/11/14

Pertandingamu

Kamu, ketika kamu membaca ini, kamu akan mengerti kenapa aku menuliskannya untukmu.
" Aku tahu sakitnya seperti apa. Aku pernah di sana dan aku pernah merasakannya. Tapi, tidak apa, masih ada banyak doa yang bersamamu. Dan nanti, kamu akan mengerti kalau sakitnya hanya sementara. Tapi nanti, bukan sekarang. Bertahan dulu, karena sakitnya pasti berlalu.. 
Pada saat kamu membaca tulisan ini, bisa jadi sakitmu sudah pergi, bisa juga belum. Tapi, aku harap sakitmu sudah pergi. Aku harap kamu sudah menemukan rahasia melepaskan atau kembali berjalan mempertahankan rasamu"

Kalaupun belum, tidak apa. 
Suatu hari, kamu pasti akan berjalan lagi. Mungkin dibantu oleh seseorang yang mengajakmu berdiri dan berjalan lagi sampai ke sebuah titik nyaman yang membuatmu sembuh dari rasa sakitmu itu, atau kembali memegang tanganku untuk melakukanya bersama. aku telah bersusah payah meyakinkanmu bahwa tidak banyak kebahagiaan di masa lalu dan kenyamanan lain, tapi kini aku dan kamu hanya terbatas oleh sesuatu yang dinamakan dia. 
Yang mungkin dia menggandengku atau memapahku kalau perlu, asal aku selalu digenggamanya. Pelan. Selangkah demi selangkah tolong bawa aku dan jatuhkan dipelukmu...

Kamu mungkin akan terperosok jatuh, tapi aku akan membantumu berdiri. Kamu mungkin juga akan tertarik kembali ke masa lalu, tapi aku akan tersenyum dan menarikmu menjauh lagi. “Kita berjalan dulu”, katanya, “Kalau kamu tidak suka, kamu boleh kembali meratapi masa lalumu.” Ketika aku mengatakan itu, aku tau kamu tidak akan memilih itu. aku percaya kamu, jauh lebih dari kamu mempercayai dirimu sendiri.

Pada saat itulah kamu terhenyak dengan kata ‘meratapi’. Iya. Kamu ternyata selama ini memang terlalu meratapi. Membuang waktumu hanya untuk terus menghayati setiap rasa sakitnya, kehilangannya, kesedihannya. Kamu lupa, seberapa pun indahnya pemandangan di luar, tidak akan terlihat jelas kalau jendelanya berembun. Harus dibersihkan dulu jendelanya, dan lihat keluar. Harus dibersihkan dulu ratapanmu, baru bisa melihat bahwa ada kebahagiaan yang banyak di depan.

Tetapi, kalaupun kamu sudah sampai ke titik nyaman, kadang, lukanya tidak hilang, seringkali justru meninggalkan bekas. Tidak apa, yang penting, sakitnya tidak terasa lagi,  Bisa jadi ketika kamu mengingat bekasnya, malah akan membuatmu bercerita bangga, “Ini, luka karena…” "cinta" dan berakhir dengan, “Pada akhirnya, aku bisa bersamanya.” Lalu kamu tersenyum mengenang betapa jatuhnya kamu ketika itu, tapi ternyata kamu kuat menghadapinya. Kamu bahkan tidak mengira kamu bisa sekuat itu sebelumnya. 

Sejak itu, sampai membaca tulisan ini (dan semoga juga sampai nanti), kamu selalu tahu bahwa apa pun yang terjadi, kamu sebenarnya kuat, kamu jangan fokus pada kejatuhannya, tapi lebih kepada apa yang kamu miliki. Bertahan dan terus berjalan.

Kemudian, pasti nanti, kamu akan bisa bermimpi lagi, dan hei, mungkin juga jatuh cinta lagi. Menikmati kembali rasa hangat yang serupa seperti sebelum kamu kehilangan. Punya gairah yang meluap-luap dan membuatmu susah terlelap. Kali ini, kamu harus mengejarnya, sekuat kamu bisa. Pantaskan dirimu untuk mimpi dan cinta yang ini, agar kamu tidak gagal atau kehilangan lagi.

Oya, jangan lagi sekadar menjadi diri sendiri, itu tidak akan lagi cukup. Jadilah yang terbaik dari sendiri. Itu baru cukup. Sekadar menjadi diri sendiri akan membuatmu terus mencari alasan bahwa kamu sudah berusaha maksimal dan bahwa inilah apa adanya kamu. Tidak, tidak. Kamu bisa melakukan lebih baik dari itu dan kamu tahu benar itu. Jadi berhenti beralasan menjadi diri sendiri dan mulai menjadi yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu.

Kalaupun nanti kamu lelah, itu wajar, tidak apa. Istirahatlah sebentar. Tapi setelah itu, bangun dan berjalanlah lebih cepat lagi, kalau perlu berlari. Sekencang-kencangmu. Demi Tuhan, kejarlah apa yang kamu inginkan dengan apa pun yang kamu bisa. Jangan lagi kamu kehilangan kesempatan. Lakukan saja itu dan jangan dulu mengeluh. Ah, bahkan jangan pernah mengeluh. Mengeluh selalu membuat apa pun yang kamu lakukan malah bertambah berat.

Dan setelah berjuang sekeras itu, kalaupun kemudian kamu tidak mendapat mimpi dan cintamu yang ini, tidak apa. Setidaknya kamu menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari kamu yang sebelumnya. Kualitasmu sudah meningkat. Dan percayalah, kamu akan mendapatkan apa yang pantas untukmu. Jadi, semakin baik dirimu, kamu pun akan mendapatkan yang sebaik kamu. Mungkin lebih. Jadi, lelahmu tidak pernah rugi sama sekali.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk mencapai mimpi dan cintamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantammu. Tidak apa. Apa pun yang terjadi, kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu masih bisa berjalan, berpikir, melihat, mendengar, dan banyak hal lainnya. Lihat kan? Kamu baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu. Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi.

Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik yang hatimu mengatakan, "Ini. Di sini penuh kebahagiaan." Maka, kamu memutuskan untuk berhenti berjalan dan tetap tinggal.  ketika itu terjadi, kamu menemukan kebahagiaan, Jangan kamu simpan sendiri.

Jangan khawatir, kebahagiaan tidak pernah habis. Ketika membahagiakan, justru kamu menerima lebih banyak kebahagiaan. Sama seperti seorang tua yang membelikan anaknya sepeda atau mainan. Anaknya berbahagia, tapi orang tuanya jauh lebih berbahagia ketika anaknya berbahagia. Lalu hangatnya menyebar dari mata, ke hati, lalu ke mana-mana.Kebahagiaan itu tidak pernah berkurang ketika dibagikan.
Terakhir, sebelum kamu selesai membaca tulisan ini, kamu harus mengingat satu hal, "Selesaikan apa pun yang kamu mulai". Seperti pertandingan sepakbola. Tidak peduli berapa banyak gol disarangkan ke gawangmu, kamu harus bermain sampai pertandingan selesai. Kita tidak bisa berhenti di tengahnya hanya karena kita sudah kemasukan banyak gol dan tidak mungkin menang. Pertandingan adalah pertandingan, selesaikan. Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kamu dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan'mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kamu kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kamu menang.

Ini bukan ramalan, ini hanya tulisan. Kamu akan membacanya di masa depan. Entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini. Yang penting, ketika kamu membaca ini, kamu ingat, bahwa kamu juga yang menulis ini. Dan kamu tahu bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi, seperti yang kamu tuliskan sekarang ini, jatuhnya, sakitnya, perjuangannya, semuanya. Jika kamu merasa lemah, baca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi. Terus saja sampai 'pertandingan'mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kamu yang memutuskan untuk berhenti. Biar Tuhan yang memutuskan kapan kamu boleh berhenti.
Tulisan ini, aku dan kamu akhiri di sini. Dariku dan untukku sendiri.