19/12/14

Ignorant

Ignorant

I’m ignorant. That’s why I have almost no interest with you. I like silence best, but I love more being with you.

I’m ignorant. That’s why I don’t care with others. I care about things that amazed me; nature, civilization, love, relationship. But I don’t care bout people. I always think they are complicated and too hard to understand. Or maybe I simply just too in love with myself. And you.

I’m ignorant. That’s why people rarely being with me. I mean, why bother to me while I’ve never care about  peoples? I have my family and a few good friends. And that’s just enough for me. I don’t need more drama. I don’t need more ‘fake’ attachment.

I’m ignorant. If you say that I’m caring and kind, maybe that’s because you’re one of my interest. Or maybe you haven’t know me that well. I’m a liar. I’m changing my mind each and every minutes. But I always keep my promise. I try my best  being true to every words I said.

I’m ignorant. I’m moody and hardly to be tamed. But If you love me deep enough, you’ll stay with me no matter what. Because no matter how stubborn I am, I’m not going to leave peoples who love me. For I know the best how it feels to be left alone.

I’m ignorant. I don’t care how you act and how you talk. Who you are and what you think. I’ll never let you go. And that’s my only promise.

I’m ignorant. I’m doing things that give me personal benefits. I’m playing nice with people I love, being mean to my enemies, and trying to stay calm in front of stranger.  I’m no sincere yet na├»ve. Sometimes I’m act foolish and sly. But yes, that’s me.

I’m ignorant. And maybe that’s why you left.

Kurang dari 100

Kamu itu, ya…

Serupa angin yang tak nampak.

Semilirnya mengundang kesejukan, namun kadang berlalu begitu saja

Kamu itu, ya…

Serupa tangkai yang mudah rapuh.

Tak lagi mampu bertahan, bahkan rela melepaskan daunnya terjatuh begitu saja

Kamu itu, ya…

Serupa pelangi yang berwarna.

Muncul hanya di saat kau menginginkannya, tak peduli pada cuaca panas atau hujan

Kamu itu… ya kamu! Dengan segala pikirmu, dengan segala rasamu dan dengan segala maumu

Lalu, bagaimana dengan aku?

Bagaimana aku bisa melangkah menjauh darimu? Sementara jika pun aku pergi, kamu tak ingin aku pergi

Ah, Kamu!

(93 kata)

230 kata

Ah, mengapa harus kukatakan cinta dalam coretanku kali ini? Jelas-jelas, kita memulainya bukan karena cinta.

Aku merasakan sesuatu yang lain saat kau menyapaku, entah apa itu, mungkin hanyalah sekelebat rasa yang meliuk diantara lirihku.

Namun, perlahan tapi pasti… atau mungkin sebaliknya, kita menjadi terhubung melalui angin yang menyelinap di setiap sudut malam. Meski hanya sedikit, kau menjadi candu dalam setiap pikirku.

Aku tak menampik, jika pada akhirnya aku mempersilakan dirimu untuk singgah di hatiku. Ah, bodohnya aku… hingga aku terjebak dalam segala angan tentang kita. Dan kembali, kau menjadi canduku. Hebat! Siapa sih, kamu?

Waktu berjalan, masa pun terlewati. Kisah kembali terbingkai, kemudian terurai, selalu begitu.

Hingga hari demi hari pun memberikan kita waktu untuk terus berpijak pada cinta yang sesungguhnya.

Aku berusaha memahami hal yang seharusnya tak terjadi antara kita. Sungguh tak ada alasan untuk itu semua.

Namun kini aku sadar, bukan cinta yang seperti ini yang ingin kutambatkan untukmu.

Mungkin naif jika aku katakan, aku tak ingin menari lagi dengan angan kita seperti dulu. Tapi kamu tau? Ada rasa lain yang kurasakan lebih dari sekedar ingin mencumbumu. Mungkin aku menyayangimu, atau aku mulai bisa berpijak pada cinta yang sebenarnya? Entahlah… Jika saja aku sanggup mengatakannya, tentu ini tidak menjadi sulit untukku.

Biarlah cinta melebur, berganti menjadi sebuah rasa yang indah. Meskipun aku tidak tahu bentuknya seperti apa, aku selalu ingin melihatmu bahagia. Begitulah caraku menempatkan rasa sayangku padamu.

Untuk nanti


Aku tidak pernah lupa.

Aku tidak pernah lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita tidak melakukan apa-apa, selain berbincang saja. Entah apa pun temanya, aku menikmatinya. Dari yang paling ringan tentang buku, film, sampai hal berat  seperti politik dan negara. Kita sering berbeda pendapat, tentu saja, terutama tentang politik dan negara. Tetapi tidak pernah masalah, karena justru bedalah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa berdebat di sana.

Aku tidak lupa juga, bagaimana hanya dengan melihatmu, aku bisa tersenyum begitu saja. Aku tahu itu cinta, aku hanya tidak tahu apa kamu sebenarnya mengetahuinya. Kenapa juga kamu mau di sini bersamaku berlama-lama? Kenapa kamu selalu menjadikanku yang pertama kamu hubungi jika ingin berbicara? Cinta juga?

Tetapi aku tidak pernah (berani) menanyakannya. Terlalu takut juga untuk mengira-ngira kalau itu harapan. Jadi, aku tetap diam saja dan menikmati kapanpun kamu ingin aku di sana.

Aku juga ingat pada saat kita sering menyanyi bersama. Lagu-lagu Adele (kamu sering mengejanya A-de-le, dengan dele nya seperti kata kedelai di bahasa Jawa), Sheila on 7, Padi, Cokelat, Katy Perry, Natasha Beddingfield, John Mayer, dan lain-lain. Sampai aku suatu ketika memetik gitarku dan menyanyikan lagu yang masih asing bagimu. 

           Broken pieces
A hundred kisses
A million views
Pictures of you


"Lagu siapa?" katamu. Aku tersenyum dan tetap meneruskan menyanyikan lagu itu. 

Its start with a hello
And look at us now
I fall to deep
My heart is weak

Kamu diam. Memperhatikan. Seperti waktu sedang berhenti, dan kamu tidak bisa bergerak sama sekali.

My minds full of you, never broken
Memory’s still the same, not forgotten 

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Kamu benar-benar memejamkan mata seperti lirik lagu itu. Aku memandanginya, tak ingin melewatkan kesempatan itu pergi begitu saja.

Karena suatu hari, aku takut kita berhenti saling berbicara dan saling menyapa. Aku takut kita tidak bisa seperti ini lagi berdua. Aku takut betapa kerasnya aku nanti berusaha lupa tetapi tidak bisa melakukannya.

Apalagi kemudian  aku menyadari sesuatu. Aku mencintaimu diam-diam, tetapi kamu mengetahuinya. Entah kamu tidak pernah merasakan yang sama atau menunggu aku mengatakannya sampai kita berdua tidak pernah membahasnya. Mungkin kamu nyaman di sini karena kamu tahu kalau di sini dicintai. Kamu tahu kalau aku akan melakukan segala cara untuk membuat kamu bahagia. Tetapi tidak cinta. Atau mungkin kamu di sini memang juga punya cinta. Aku tidak pernah tahu jawabannya karena juga tidak berani mengatakannya, pun menanyakannya.

Dan lagu ini aku buat, untuk nanti. Untuk rindu-rindu yang menyesakkan dada. Untuk kenangan-kenangan yang membuatku tak bisa berhenti jatuh cinta. Untuk setiap sapa yang ingin kuucapkan suatu saat nanti ketika aku kangen setengah mati tetapi tidak bisa mengatakannya.

Close your eyes, listen to this song
Feel it with your heart you’ll know what it means
Memories standstill, so the pain is real

Close your eyes, try to imagining
What if im there with you, will you happy too?
Take your time, let the feeling be mine

Ayo kita nyanyikan lagi lagu ini. Lagu yang pernah kamu tanyakan lagu ini tentang siapa, tetapi aku tidak pernah benar-benar menjawabnya.

Sebenarnya ini lagu tentang kita. Kamu, terutama. Untuk bersiap kalau-kalau kamu tidak lagi ada. Seperti sekarang ini, misalnya.
  
When someones gone, but not forgotten
When you love them so much, but keep it in a silence
When you hear a song, and realized that something is undone
Its love that never been spoken

The feeling that cant be replaced
All the time you’ve tried, but in the end it all wasted

Aku berharap kamu sedang di sini saat ini dan mendengarkan lagu ini lagi. Atau ikut menyenandungkannya.

Bersama.


13/12/14

Alasanku Pergi

Yang aku tau didalam cinta terlalu banyak hal-hal yang tak aku mengerti yang terkadang hanya membuatku bingung dan merasakan sakit. 

Kenapa semua orang harus berpura-pura merelakan orang yang mereka cintai utnuk bersama orang lain? Yang padahal mereka sama sekali tidak rela dan harus tersenyum pedih didepan orang yang mereka cinta. Mereka harus berbohong, membohongi dirinya membohongi orang lain hanya untuk kebahagiaan seseorang yang bahkan tidak mengerti apa yang sebenernya dirasakan. Tapi terkadang ada kalanya kita benar-benar harus merelakan seseorang yang kita cintai bila memang itu yang harus terjadi. 

Terkadang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan tak pernah sama dengan orang lain begitu juga tak pernah sama dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan pasangan kita. Cinta mengajarkan kita untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai. Mengerti akan semua perbedaan yang kadang sulit untuk dipersatukan. Tapi terkadang pula perbedaan lah yang membuat sebuah cinta menjadi tegar. 

Disini aku akan berbicara tentang kebingunganku,ketakutanku, dan semua pertanyaan-pertanyaanku. Aku memiliki sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tidak mengerti apakah yang aku rasakan sama seperti apa yang dia rasa. Ketakutanku yang mungkin akan menjadi kenyataan disuatu saat nanti yang harus merelakan dia untuk bersama orang tapi bukan aku. Karena aku telah dimiliki. Kebingunganku tentang apa yang dia rasakan apa yang dia pikirkan. Aku takut dia tidak bisa melakukan jani-janji yang dia buat. 

Didalam cinta selalu ada kata percaya, dan disini aku belajar untuk percaya tapi rasa ketakutanku melebihi rasa percayaku. Dia mungkin bahkan tak pernah tau bagaimana aku melawan rasa takutku. Aku tak munafik, aku tak akan rela bila dia pergi walaupun demi kebahagiannya, aku tau ini egois, didalam cinta terkadang kita perlu egois, tapi apa aku juga tetap memaksakan apa yang aku inginkan sedangkan dia tidak pernah menginginkan? 

Aku tau seharusnya cinta tidak harus berbelit seperti ini, tapi ini bukan hanya sekedar cinta yang cinta-cintaan . Dia akan mengatakan jalani saja , jalani saja apa yang ada. Tapi jika kita menjalani semuanya tanpa kita tau apa yang akan kita lakukan tanpa kita tau apa yang kita rasakan tanpa kita tahu apa semuanya tetap masih bisa dijalani? Semua itu tidaklah gampang tanpa kita saling mengerti. Dia bilang jika seperti ini harus ada yang mengalah, aku memutuskan untuk mengalah. Takutku memenangi rasaku, percuma jika kita mengalah namun orang itu tak akan pernah mengerti maksud untuk kekalahan itu karena apa. Aku milih menjauh darimu karena sebuah alasan aku tak ingin kamu lebih dalam dengan perasaanmu, cukup memandangi kamu dari kejauhan saja rasanya sudah puas. Kamu terlihat gagah dengan pakaian yg kamu kenakan kemarin, kamu tahu aku melihat kamu dilapangan itu tapi aku memilih untuk tidak memberitahumu. Aku tak ingin kamu jatuh terlalu dalam, kesedihanmu cukup sampai sini km berhak bahagia, biar aku yang mengalah... 

Biar aku yang jalani apa yang telah aku pilih andai km datang lebih dulu... Mungkin, 
Ah yasudah lah...