12/12/15

Belajar Menulis Lagi

Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Wonosari dari Yogya.

Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yanto, dan meminta kami untuk memakluminya.

"Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang gitu. Tapi gak bahaya, kok."

Ya, sudah kami menurutinya. 

"Wektu ra bakal mandeg mlaku, mbok'o koe terus nunggu (Waktu tidak akan berhenti, meski kamu menunggu)," katanya.


"Nek kesuen le mu nunggu, eman-eman wektumu (Kalau kelamaan kamu menunggu, sayang waktumu). Durung mesti sing mbok tunggu peduli yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu peduli kalau kamu sedeng menunggu). Durung mesti sing mbok tunggu ngerti yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu tahu kalau kamu tunggu)."

Aku mendengarnya, pasti juga dua teman yang bersamaku.Tetapi, mungkin cuma aku yang paham betul artinya, karena dua temanku bukan dari Jawa.

Pak atau mas Yanto itu lalu menyeruput tehnya yang cokelat pekat. Khas orang Jawa, Nasgitel, katanya. Panas, Legi, Kuenthel. Lalu menerawang lagi. Kami juga menyeruput minuman kami, sambil sesekali makan gorengan.

Karena capek, dua temanku memilih pindah ke tempat lesehan untuk menyandarkan punggungnya. Aku lebih memilih di sini. Mendengarkan pak atau mas Yanto terus berceloteh. Ada banyak hal yang dia katakan ada benarnya.

Sesekali dia ngobrol dengan pemilik warung. Tetapi, ya itu. Ngobrolnya ngalor ngidul, ngelantur. Sepertinya orang-orang sini terutama pemilik warung sudah paham kelakuan pak atau mas Yanto ini. 

Di sela ocehannya, sesekali pak atau mas Yanto ini ngomong tentang Tuhan, sesekali lain tentang manusia yang kacau, dan lain sebagainya. Tapi tiba-tiba, dia bisa ngomong hal lain seperti ini.

"Opo gunane meksakke sing wes ngerti hasile ora bakal koyo sing dipeksakke (apa gunanya memaksakan sesuatu yang sudah tahu hasilnya tidak akan seperti yang dipaksakan). Wes ngerti ora iso bareng, kok mekso bareng (Sudah tahu tidak akan bisa bersama kok memaksa bersama). Wes ngerti ora bakal disetujui wong tuane mergo agamane bedo (sudah tahu tidak akan disetujui orangtuanya karena agama yang berbeda), kok yo isih ngengkel nek iso urip bareng suk mbene (kok ya masih yakin kalau nantinya pasti bisa bersama). Mikir duwur kui penting, neng nek ra logis, malah marakke loro ati suk mbene (berpikir tinggi atau berharap tinggi itu penting, tetapi kalau tidak logis nantinya akan membuat kita sakit hati)."

Di sana, aku teringat kamu. Tidak, bukan karena agama kita berbeda. Agama kita sama. Tidak masalah. Hanya teringat pada memaksakan sesuatu yang hasilnya sepertinya tidak akan seperti yang dipaksakan. Itu yang aku pikirkan.

Aku memaksa bertahan selama ini. Kamu tahu benar itu. Aku juga tahu benar itu.

Sekarang coba ingat, sudah berapa lama kamu dan aku, tidak pernah lagi duduk berdua untuk saling berbicara? Sudah berapa lama kamu ingin pergi dan aku terus menahanmu agar tidak pergi? Sudah berapa lama kita seperti orang asing? Hanya ada pertanyaan basa-basi 'sudah makan?' atau 'lagi apa?'

Dulu, sewaktu kita masih saling jatuh cinta, dua pertanyaan itu bisa sangat menyenangkan. Dulu. Dulu waktu masih jatuh cinta. Sekarang, kita berdua sama-sama tahu, kalau itu basa-basi saja.  

"Koe ra bakal neng endi-endi nek karo sing biyen wae koe ra iso lali (kamu tidak akan bisa ke mana-mana kalau dengan masa lalumu saja kamu tidak bisa lupa). Ra iso nduweni sing nggawe koe seneng yen sing nglarani koe malah isih mbok goceki (tidak bisa memiliki yang membahagiakanmu kalau yang justru melukaimu masih kamu pertahankan)," pak atau mas Yanto berceloteh lagi.

Lagi-lagi ingatanku kembali kepadamu. 

Masih ingat, berapa kali kamu berbuat salah dan aku memaafkanmu lagi? Berapa kali aku melewati malam-malam dengan menangis, kamu merayuku, setelah berhasil, kamu bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang pernah terjadi. 

Lalu kamu merayu dan meminta maaf lagi untuk ke sekian kali. Bodohnya, aku memaafkanmu lagi. Seperti de javu. Aku terus bertahan, kamu terus melakukan kesalahan.

Dan tiba-tiba saja kamu ingin pergi. Kamu pikir selama ini aku bertahan itu untuk siapa kalau bukan untuk kita? Terus kenapa kamu yang terus melakukan kesalahan, tetapi kenapa kamu juga yang malah ingin pergi?

Ada apa dengan kita? Ke mana kata-katamu sewaktu berbuat kesalahan dan terus merayu, "Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku."

Ke mana itu semua? Apa bisa tiba-tiba hilang begitu saja, atau memang malah sebenarnya tidak pernah ada? Yang artinya kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku tetapi mencintai kebodohanku yang terus memaafkan kesalahanmu yang sama?

Ajaib. Sekarang ini, melintas semua waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Lalu, semua menyimpul menjadi satu akhir yang baru aku tahu: pada akhirnya, pertahankan hanya yang memang layak untuk dipertahankan. 

Akhir-akhir ini, sudah berulang kali aku melihat handphone, menunggu nada dering. Siapa tahu itu dari kamu. Tapi, tidak. Kalau bukan aku yang menghubungimu lebih dulu, tidak akan ada dering apapun di handphoneku dari kamu. Berarti hanya aku yang menunggu. Hanya aku yang bertahan. Hanya aku yang ... jatuh cinta. Sendirian.


"Kadang wong kui ngerti nek dikandani (kadang, orang itu tahu kalau dikasih tahu), ning emoh ngakoni lan emoh nglakoni (tetapi tidak mau mengakui dan tidak mau menjalani)."

Pak atau mas Yanto ini benar. Tidak ada artinya bersama, jika salah satu dari dua orang tidak 'benar-benar' mau bersama.

Karena itu aku akan berhenti bertahan karena kamu memang tidak mau aku pertahankan. Bagaimana bisa benar-benar 'berpasangan' jika hanya satu orang saja yang memperjuangkan?

Ini batasnya. Ini batas waktunya aku menunggu nada dering darimu. Ini juga batasnya mempertahankanmu. 



It's like epiphany. I'm no longer have the feeling for you like I used to be.






--------
Epifani menurut googling, "Adalah peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yg menjadi titik balik dengan pengaruh berbeda-beda, bisa negatif atau positif tergantung besaran epifaninya."









----
Sedang berusaha menulis kembali. Maaf kalau masih agak belepotan. Harus membiasakan diri lagi.

10/11/15

Hujan dan Senja yang Terasa Lama

Satu satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu. 

Jarak telah membuat kita semakin jarang bertemu. Jarak telah menghadirkan ruang sepi di dada kita. Kamu dan aku bahkan seringkali merasa sendiri saat berada di keramaian pesta. Aku mencari-cari kamu di kepalaku, membawa kamu kemana saja aku pergi. Sesekali aku mendatangi tempat-tempat yang sering kita kunjungi, hanya untuk mempercepat waktu, hanya untuk memastikan kita akan segera bertemu. 

Hujan juga datang membawa pulang kehangatanmu di kepalaku. Sementara tubuhku harus tabah menikmati dinginnya waktu. Namun, demi semua hal yang sudah kita sepakati. Aku pun mengerti, aku harus sabar menanti. Aku harus memperjuangkan apa-apa yang kumiliki. Kamu memiliki aku, aku memiliki kamu. Dan, segala hal yang terjadi kini hanyalah bagian dari perjuangan yang akan kita nikmati nanti. Aku belajar menyabarkan hati, bahwa perasaan lelah tidak akan sia-sia, bahwa segala rindu yang terasa akan menemukan bahagia pada waktunya.

Meski tetap saja setiap senja datang atau setelah hujan kembali pulang, kamu adalah seseorang, yang kadang menjadi alasanku tidak mampu menahan perasaan. Rasa sesak di dada kadang seringkali tidak terkendalikan. Dan, air mata kadang menjadi hujan-hujan yang kusembunyikan. Aku tahu ini berat, tapi bukan alasan untuk melepaskan apa-apa  yang telah kita ikat. Aku tahu rindu itu kadang terasa pilu, tetapi bukan alasan menjadikan kita sebagai masa lalu. 

Kelak, pada senja yang tak lagi sepi, kamu adalah seseorang yang kupeluk erat sepenuh hati. Tidak akan ada lagi jarak yang menakuti, bila suatu saat tiba aku berharap waktu tetap saja melambat bersama kita. Agar aku bisa menatap matamu berlama-lama. Agar aku bisa menikmati senja, juga hujan yang pernah membuatmu merindu buta. Semoga segala hAl yang kita jalani kini seberat apapun usaha menjaga hati. Tidak hanya menjadi lelah yang tak berarti...



28/10/15

Aku lelah berlari

“Pernahkah kamu berlari dan terus berlari?

Kadang kita tak pernah menemukan lelah ketika berlari. Berlari (berusaha) meninggalkan kenyataan rasanya begitu menyenangkan sekaligus menakutkan, karena berkali-kali kenyataan jelas ada di depan kita.

Ketika rasa itu menghampiri benak dan pikiran, lama-kelamaan kamu akan menemukan kesia-siaan dalam sebuah “pelarian”. Semakin jauh kamu mencoba melarikan diri dari kenyataan, semakin dekat kenyataan denganmu.

Hingga akhirnya kelelahan menjadi kenyataan berikutnya yang menghampirimu. Ada sebuah pelajaran yang hampir kita lupakan setiap berlari. Kadang kita hanya terfokus pada seberapa cepat kita berlari dan seberapa jauh kita meninggalkan. Pernahkan kita berpikir kapan saatnya berjalan? Dan kapan waktu yang tepat untuk berhenti, mengistirahatkan diri hati ini?

Sayangnya kita sering mencoba berlari tanpa belajar berjalan terlebih dahulu, dan melupakan bagian terpenting, yaitu berhenti. Tak heran jika kamu terus terjatuh.”

27/10/15

Bintang itu Berbicara

Dia bilang ...

"Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis yang siaga menyadarkan bahwa semesta tak melulu sesuai dugaan"

"Aku menganggap diri ‘the man with the plan’, terlalu pemikir. Tapi kamu selalu mengingatkanku semuanya lebih indah jika mengalir"

Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.

"Aku terlalu takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini adalah yang dianugerahkan"

"Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan"

Kamu bilang, waktu paling berharga adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga.

Katamu, masa depan tak pernah pasti. Tapi yang pasti aku hanya ingin memastikanmu menjadi masa depanku.

Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu berarti juga mengingatkan. Dan sekali lagi, mari kita terkejut berdua, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya… 

Rebel

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang. Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.

Aku lebih percaya kepada hidup.

Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur. Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.

Kita, makhluk yang tak pandai membaca.

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicintai.

Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup dengan yang ada.

Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.

Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

 

Ternyata maaf, aku tidak bisa...

Aku tidak bisa untuk merelakanmu

Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku.

Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan.

Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang. Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.

Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”.

Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi bersama kamu. Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam. Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.

Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi. Mimpi yang pernah aku rusak sendiri.

Tetapi seperti yang selalu hidup ajarkan kepada aku, aku harus memperbaiki semuanya sendiri.

Itulah mengapa, aku memutuskan untuk tidak menyerah atas kamu.

Aku memilih untuk tidak merelakan kamu.

Jika aku ikut percaya seperti orang lain bahwa cinta tak harus memiliki, Mungkin memang kita tak bersama lagi.

Kapan aku bisa mewujudkan separuh mimpiku.

Kapan aku bisa menjadi rumah melalui tatapan lembut itu.

Kapan selimut itu datang melalui dekap hangat. 

Kapan akan menjadi separuh mimpiku.

Kapan kamu akan menjadi sekarangku, genggam tanganku. Tidak akan pernah aku lepaskanmu. Menghabiskan sisa hidupku, bersamamu. Semuanya baik-baik saja


17/10/15

Kamu tahu, aku itu pembunuh

Akulah bangsal kegelapan yang berpura-pura menjadi malam yang menyejukkan.
Membawamu pergi menelusuri bukit-bukit indah yang ku rakit dari gumpalan dendam.

Ingatkah kali pertama bertemunya kedua bola mata?
Kita bersikeras masa itu adalah racikan Tuhan paling sempurna.
Dimana kupu-kupu menari disekitaran tubuh kita, mengerlingkan sorot bahagia dalam pelupuk mata.

Mati sayang, rasa itu mati.
Setidaknya aku mengira demikian.
Sampai tiba saatnya wajahmu datang kembali di layaran sudut pandang.

Ternyata kamu masih hidup, atau setidaknya gentayangan di pikiranku tanpa aturan.
Ya ya ya…..aku kembali menghela nafas panjang…
kupanggil lagi engkau perlahan…

“Sayang, sini…aku akan membunuhmu. Jangan takut, kulakukan dengan rindu yang menggebu langsung menuju jaring nadimu

22/09/15

Karena sebuah favorite twit dari seorang mantan


Saat hujan turun, Awan kelabu tetap mengiringi kedalam sebuah kata syahdu...
Aku tersenyum saat detik mengijinkanku untuk mengenangmu dengan terpaan angin lembut. Seolah semua kembali kepada masa itu. Saat aku mengenalmu, Saat aku jatuh cinta kepadamu, Saat aku mencintaimu, Saat aku tak bisa lagi mencintaimu, Saat aku dan kamu pergi, tinggal menyisakan cinta tanpa rasa dan kata.

Bersama secangkir kopi Cappucino hangat. Aku angankan waktu yang terus berputar dan berlalu, hanya mengusir sepi. Tidak ada kegiatan lain sehabis kampus, aku sendiri. Aku akui, mengenangmu adalah pelipur sepi selama ini, aku menyukai kesendirianku seperti saat ini semenjak kehilanganmu, mengenangmu pelipur sepi namun menyesakkan hati, saat aku semakin tersenyum dan larut asik dalam khayalanku, tentang kamu. Semakin terasa menyakitkan...

Aku lagi-lagi dibuat tersentak hebat olehmu. Cinta itu datang saat hujan turun. Cinta itu datang dan hinggap dihati. Ditambah kelembutan hatimu, dulu. Kamu berhasil membuatku mencintaimu tanpa kamu merayuku. Aku rasakan cinta itu lugas, adil dan mendekap hati tanpa ragu. Hari ini, aku kembali merasakan semua itu, walau sebatas ilusi, namun aku bersyukur, semua karena hujan yang membawa semuanya kembali.

Hujan kembali turun. Disore ini, saat aku masih terjaga dengan lamunan. Begitu deras, hingga khayalan tentangmu seketika kembali menguat. Volume air yang turun menandakan banyaknya kenangan yang kembali terasa pekat. Kenangan tentangmu, yang masih tetap hangat.

Lututku mendadak lemas, saat senyummu begitu saja mampir dalam benakku. Seketika menyadari bahwa rasa yang dulu ada, tak pernah benar-benar pergi. Mungkin dulu rasa yang kita miliki hanya tertutup tabir keegoisan dan harga diri, hingga tindakan yg ada hanya berujung saling menyakiti. Mungkin juga kita yang terlalu bodoh, atau tak cukup dewasa. Mungkin...

Hujan yang turun. Selalu sukses mengantar kedalam kebahagiaanku sendiri. Tersenyum untuk menikmati sekali lagi saat-saat manis bersamamu. Menghanyutkan segala khayal tentangmu. Tentang kamu dan hujan. Menahan setiap inci raut keanggunanmu.

Saat hujan turun. Awan kelabu tetap mengiringi kedalam sebuah kata syahdu. Aku tersenyum saat detik mengijinkanku untuk mengenangmu dengan terpaan angin lembut. Semua seolah kembali kepada masa itu. Saat aku mengenalmu. Saat aku jatuh cinta kepadamu. Saat aku mencintaimu. Saat aku tak bisa lagi mencintaimu. Saat aku dan kamu pergi, sisakan cinta tanpa rasa dan kata. 

Akankah waktu kembali mengijinkan kita kembali mencintai dengan rasa dan kata?

Hay Januari

Kepada kamu yang selalu aku sisipkan dalam doa. 
Entah, akhir akhir ini aku selalu teringat kamu...
Maksudku kita, yang dulu 

Hey polaris 
Aku tau aku sudah melewatkanmu, hampir 3 bulan lamanya. Tidak akan ada kata kita lagi, aku cukup merelakanmu, aku cuman rindu... 

Kini atau pun suatu hari nanti, kamu bertemu seseorang yang kamu cintai, aku berharap dia akan balas mencintaimu lebih dalam.
Aku harap dia akan mencintai dengan seluruh hatinya, bahkan meski semua orang bilang itu tindakan bodoh. 
Aku dulu melukaimu, tindakan bodoh. Aku meninggalkan, meninggalkan yang sempurna demi yang terbaik...
Awalnya aku menyesali itu, aku membutuhkanmu ternyata, tapi seiring berjalanya waktu banyak hal yang kau sembunyikan bersama masalalu mu, kataku itu lebih menyakitkan dibanding kamu meninggalkan aku...

Sekarang kita bicara masa depan. Suatu saat nanti Aku berharap akan ada dia yang melihatmu melampaui ketampananmu, kemudaanmu, atau kepintaranmu. Aku berharap ia melihatmu lewat cara yang tidak pernah dilihat orang lain. Bahkan caraku memandangmu...
Aku berharap ia melihatmu lewat cara yang paling istimewa. Aku berharap kamu akan jadi satu-satunya semesta yang ia punya. Seperti aku dulu, semestaku hanya kamu, duniaku hanya berkutat dengan kamu, ketika ada celah saat orang lain masuk aku melewatkanmu...

Aku berharap kamu dipertemukan dengan seseorang yang mencintaimu dalam detil; yang selalu tahu gradasi warna kesukaanmu, yang selalu ingat camilan ringan langgananmu atau wangi favoritmu. Semoga ia masih tetap mencintaimu, bahkan di tiap detil yang ia benci; kebiasaanmu yang menurutku itu kekanakan.

Aku berharap dia tidak akan pernah melupakanmu, kemana pun ia pergi. Aku berharap ia akan mengingatmu lewat nada yang ia dengar, harum yang ia hirup, dan akan terus mengingatmu sekalipun kelima inderanya gagal mengingatkanmu. Semoga kamu menjadi bagian dari hidupnya, seperti aku telah menjadi bagian dari hidupmu.

Aku berdoa semoga kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu dengan keras kepala. Yang tidak egois, dan penyabar. Semoga kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu tanpa akhir, apapun yang terjadi. Aku berdoa semoga dia selalu mencintai dirimu tanpa kecuali. Semoga dia tak meminta apa-apa darimu kecuali dicintai kembali. Aku berdoa semoga ia tak pernah mengubah pikirannya, seumur hidupnya.

Aku berdoa semoga ia sanggup menerima tiap cacatmu, tiap kurangmu, dan tiap-tiap hal yang tidak mampu kamu lakukan untukku. Aku berdoa semoga ia sanggup memaafkan tiap khilafmu, tiap kegagalanmu, dan mimpi-mimpi yang harus gugur, seperti kamu padaku dulu. 

Aku berdoa semoga tiap luka yang telah dan akan kau perbuat tidak membuatnya mundur dan berhenti mencintaimu.

Aku berdoa semoga kamu dicintai seseorang yang begitu baik hatinya, sehingga ia tak akan sanggup mematahkan hatimu. Aku berdoa semoga ia mengerti pahitnya patah hati, sehingga kali ini jika kamu memberinya kesempatan, ia akan menjaga hatimu sebaik-baiknya. (Tidak seperti aku... Hehe)

Aku berharap kamu dikirimi seseorang yang selalu menyisipkan namamu dalam doanya. Aku berharap ia tak pernah lupa memohon keselamatanmu pada tuhannya. Aku berharap di setiap langkahmu, cintanya menguatkanmu dan doanya melindungimu dari segala nasib buruk.

Semoga ia seseorang yang penuh kasih dan ketulusan. Semoga ia seseorang yang mudah bersyukur. Semoga ia menjadi teman perjalananmu, saat ini dan selamanya. Semoga ia sungguh-sungguh rusukmu yang sempat hilang. Semoga di bola matanya, kamu menemukan rumah yang terakhir, dan bukan aku tenangmu

Aku berdoa semoga kamu bertemu seseorang yang jauh lebih baik daripada yang pernah kita khayalkan dulu. Aku berdoa semoga kamu berjodoh dengan seseorang yang jauh lebih baik daripada yang selalu kita impikan dulu. Aku berdoa semoga kamu menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang yang tidak pernah membuatmu berhenti bersyukur dan bersabar. Aku berdoa semoga kamu beruntung. Sungguh-sungguh beruntung.

To much missing you, P.

29/08/15

Thirteen

'Aku tidak pernah berfikir bahwa aku adalah orang yang beruntung. Sekali-dua kali dewi keberuntungan menghampiriku dan membuat hidupku berubah, tapi dalam sebagian besar kesempatan lain, aku sesungguhnya hanya manusia biasa saja'
Beberapa bulan terakhir ini hidup tidak berjalan semudah biasanya. Aku frustasi, tidak hanya karena rutinitas dan sistem yang berbeda, tapi juga karena pertarungan terus-menerus baik fisik maupun batin. Berat rasanya harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk tetap bersikap optimis dan positif, karena kedua energi tersebut punya batasnya, paling tidak bagiku. Tidak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk akhirnya kehilangan tenaga, bahkan untuk tersenyum.
Kehilangan tenaga untuk bersikap optimis bagi aku pribadi, mengerikan... Aku jadi apatis dan kehilangan kepekaan dengan apa yang terjadi di sekitarku. Aku menjadi malas sekali dan melarikan diri jadi hal yang lumrah bagi saya, tapi sesungguhnya yang paling mengerikan adalah aku kehilangan kepercayaan, tidak hanya terhadap kemampuan dan kapasitasku, tapi juga terhadap diriku seutuhnya. Mungkin ini semua terdengar cengeng, tapi hari-hari ini yang tersisa dari diriku tak lebih dari perempuan pemalas yang tidak pula menarik.
Keputusanku hari ini, sebagian besar dipengaruhi pemikiran diatas. Setelah berkali-kali mengetuk pintu yang salah dan merasa ditinggalkan, pintu manapun yang kemudian terbuka jadi terasa benar- dan tentu saja- lebih mudah. Persetan dengan keyakinan, aku tak punya apa-apa lagi untuk diyakini, tak punya apa-apa lagi untuk diprioritaskan. Janggal rasanya harus mengakui bahwa apa-apa yang selama ini dibanggakan menjadi bukan apa-apa.
Kemudian, seperti awal mula dongeng masa kecil, aku bertemu kamu kembali. Kamu yang memberi aku arti, seperti gadis kecil menamai boneka barunya.
Kamu yang melihat ku seperti sepantasnya aku dilihat, dan dihargai. Kamu yang memberi tahu aku bahwa diriku istimewa, bukan lewat kata-kata, tapi perbuatan. Kamu yang menuntunku ke depan cermin dan menunjukkan jika diriku segala yang aku miliki, tapi tak pernah terlihat; kecantikan, ambisi, dan kualitas-kualitas diriku sebagai seorang manusia. Kamu yang menunjukkan semua hal berharga dalam diriku yang seharusnya dapat aku jaga dengan teguh dan berani.
Kamu menunjukkan caranya membahagiakan diriku sendiri, tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain. Terutama orang-orang yang tak pernah melihatku dengan cukup lama dan cukup paham. Kamu menunjukkan aku caranya mengasihi, tidak hanya orang-orang yang aku cintai, tapi-yang juga penting- diriku sendiri. Kamu memberi keberanian untuk berdamai dengan sisi tergelap diriku sendiri, karena mustahil meminta orang lain menerimanya sebelum ada penerimaan dari diri sendiri.
Tentu saja sesungguhnya semua ini bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, lusinan manusia lalu-lalang mengucapkan hal yang sama, tapi seperti sihir pula, hanya mantramu yang bekerja. Aku tidak tahu apakah terima kasih akan cukup untuk membalas semua yang telah kamu lakukan, tapi di saat yang bersamaan aku tak yakin pula akan ada balasan lain yang lebih pantas selain ucap terima kasih yang tulus.
Dalam perjumpaan kita yang singkat, aku belajar jauh lebih banyak dari yang semula yang aku harapkan dan bersyukur karenanya. Aku menyesal harus terlambat menemukanmu dan harus sempat berpisah, tapi kamu pula lah yang mengajarkan aku untuk berhenti merisaukan perpisahan. Bahwa ‘tiap-tiap yang diambil darimu, akan dikembalikan dengan yang jauh lebih baik' begitu selalu.
Terima kasih telah mencintai aku, bahkan dalam saat terburukku. Terima kasih telah melihat diriku  dalam sisi yang bahkan luput dilihat mataku sendiri. Terima kasih setidaknya, telah mencoba mengerti. Terima kasih telah memberi keberanian mencoba sekali lagi. Terima kasih untuk selalu disini, bahkan di saat yang lain pergi. Terima kasih telah datang dan memberi arti kembali.



Aku tidak pernah berfikir bahwa aku adalah orang yang beruntung. Sekali-dua kali dewi keberuntungan menghampiriku dan membuat hidupku berubah, tapi dalam sebagian besar kesempatan lain, aku sesungguhnya hanya manusia biasa saja. 
Mungkin, aku hanya mudah bersyukur.

28/08/15

Memberi dan Menerima

Take and Give
Kata orang, tidak ada yang sempurna di dunia
Kata orang, cinta tidak selamanya tentang bahagia
Kata orang, hujan dapat membuat luka lama kembali terbuka
Dan, kata orang, itulah yang membuat rusak

Terkadang belajar menerima apa-adanya adalah hal tersulit setelah matematika,
karena mencari titik persamaan dalam subjek sama juga seperti dalam angka, prosesnya lama.
Dan, sebagai manusia, diciptakan menjadi makhluk perfectionist, makluk yang tidak ingin menjadi cacat sekecil debu pun

Dalam cinta, kata orang, memberi dan menerima adalah unsur timbal-balik yang menjadi objek wajib
Seperti yang sering kita dengar, dialog yang selalu menjadi utama,
"Aku mencintai kamu apa adanya."

Sama seperti premis orang-orang tadi,
Aku pun sedang belajar memahami dunia yang hanya dihuni kamu ini
Karena letaknya bukan di tangan, bukan di paham, tetapi di hati.
Karena cara mataku melihatmu, itu dengan rasa, bukan dengan panca indera biasa.

27/08/15

Kepada Langit Bandung...

Dulu seseorang pernah berkata kepadaku bahwa tak peduli sejauh apa kami terpisah, kami akan tetap berada di bawah langit yang sama. Tak peduli terpisah lautan dan kepulauan, tiap kali menengadah, kami akan menjumpai langit yang sama. Tak peduli langitku kelabu dan langitnya berpelangi, dia bilang aku harus selalu yakin bahwa kami selalu berada di bawah langit yang satu, hanya dalam gradasi warna berbeda.

Kukira, dulu, kata-katanya menguatkanku. Mungkin karena dulu Ia satu-satunya mahluk yang kuletakkan kepercayaan padanya dan satu-satunya. Dan dengan lembut Ia senantiasa mengusap kepalaku perlahan, menghanyutkan tiap gelisah, “Jangan khawatir. Dimanapun kau berada, langit biru di atas kepalamu akan mengingatkanmu padaku”.

Kepada Langit di atas Bandung,
Kamu tahu tidak? Sejak itu tiap kali bersedih, aku mencoba menghibur diri dengan menatapmu. Kamu yang biru cerah, kamu yang putih penuh awan, kamu yang gelap dengan kerlip bintang, bahkan kamu yang kemerahan. Tapi lambat laun aku mengerti; tak peduli sebiru apapun kamu, secerah apapun kamu, kamu tetap tak mampu menawar rindu.

Rindu adalah ombak yang berulang kali menerjang karang, pecah, lalu menerjang kembali. Begitu tanpa henti. Rindu adalah lumut yang tumbuh perlahan di dinding batu, dan pelan-pelan mengubahnya jadi debu. Rindu adalah langit di atas Bandung, yang terus menerus berairmata tanpa tahu sebabnya. Yang ku pelajari, tidak ada yang sanggup menghentikan rindu kecuali cinta yang berbalas atau cinta yang terpaksa kandas.

Dulu seseorang pernah berkata bahwa ketika aku menatap langit, Ia juga tengah menatap langit yang sama di atas kepalanya. Itu berarti, di tiap saat, kami saling bertatapan. Tapi hari ini, sekeras apapun aku menatap, tidak pernah ada apa-apa di atas sana. Tidak cinta. Tidak harapan. Hanya langit, kelabu warnanya.

Kepada Langit di atas Bandung,
Lain kali kamu bertemu dengannya, tolong katakan, ”aku sudah berhenti merindu."

Sejak Hari Itu

Suatu hari kamu datang dan memintaku berhenti mengucap cinta. Kamu tidak pernah bilang apakah kamu berubah pikiran, kehilangan keyakinan, atau memang sejak awal, tak pernah ada apa-apa disana.

Aku tahu aku telah kehilangan kamu selamanya hari itu. Aku hanya keras kepala dan tak sudi tunduk pada permintaan terakhirmu. Lagipula, memangnya kau pikir berhenti mencintai itu gampang?

Suatu hari kamu bilang sudahi saja semuanya. Kamu menutup semua buku dan mengakhiri semua cerita. Kamu tak pernah berikan aku waktu, bahkan untuk berjaga-jaga sebelumnya. Aku tahu aku tak lagi punya kuasa atas hatimu, hari itu. Aku kehilangan pedoman dan tak tahu kemana harus melangkah. Yang aku tahu, hatiku terserak di lantai, tak pernah utuh lagi.

Suatu hari kamu memutuskan untuk tidak pernah kembali. Dan sarang yang kita bangun bertahun-tahun jadi sepi dan berubah fungsi.

Alih-alih tempat mengumpulkan cinta, kini ia jadi tempatku menampung airmata. Aku tahu aku tak lagi punya arti bagimu sejak hari itu.

Yang kamu tak tahu, bahkan setelah semua ini, kamu tetap yang paling berarti.

22/08/15

Polarisku...

Hey apakabarnya, polaris..

Masih akan tetap menjadi polariskah? Mungkin tidak...

Begini saja, Kubayangkan kita sungguh-sungguh berpisah pada akhirnya. Di suatu titik di masa depan. Aku meneteskan airmata, dan jemarimu yang hangat menghapusnya satu-satu. Tapi tidak pernah satu kata pun keluar, mencegah satu sama lain beranjak pergi. Seolah kita telah sama-sama tahu, jauh di dalam hati, semua ini yang terbaik.

Kubayangkan kamu mengemasi barang-barangmu dan bersiap pergi. Kamu menolak membawa kenangan, katamu mereka hanya akan memperlambat langkahmu. Aku bahkan tidak membantah, tidak memaksa. Aku pun, tak sanggup menyimpan senyum  manismu di dalam hati.

Tidak ada yang berjalan salah setelahnya... Matahari masih tetap bersinar cerah. Udara, masih terhirup nyaman. Tak ada duka. Tak ada sesal. Tak ada yang berubah di keseharian hidup masing-masing. Seolah semesta pun mengerti bahwa semua ini memang sudah seharusnya terjadi.

Berpisah kali ini terasa mudah. Lebih mudah dari perpisahan lainnya. Hari-hari berlalu dengan cepat dan malam terasa lebih pendek dari biasa. Merindukanmu masih menggangguku, tapi dengan cepat aku terbiasa. Seolah rindu pun mengerti; selamanya ia hanya akan hinggap di hati tanpa pernah bertemu dengan penawarnya.

Waktu berlalu dan kamu mulai menemukan cinta baru, cinta yang tumbuh satu per satu. Sebagian mati, diganti seribu tunas baru, tapi bahkan semua itu tak sanggup membuat cinta yang lama beranjak usang. Tidak pernah membuat cinta yang lama berkurang kedalamannya. Siapa aku hingga merasa mampu mengukur cinta?

Seperti cerita di lembar terakhir, tak ada lagi kata yang ditulis setelahnya. Kita saling tahu kemana harus kembali tapi tak pernah sekalipun kita mengubah arah langkah agar kembali.Tak ada lagi cerita untuk dibagi. Tak ada tawa untuk ditukar. Tidak pula kabar atau sekedar basa-basi murahan apa kabar...

Kita tahu kita telah mengusahakan semuanya, dan kini tak ada lagi yang tersisa. Andai kau datang padaku dan berkata maaf, mungkin akhirnya tidak akan ada kamu dan aku. Ya mungkin kita didalamnya. Tapi bahkan sekalipun kita berakhir tanpa menjadi apa-apa, biarkan aku disini menyimpan kemarahanku, dan menyimpan rasaku, aku masih mencitaimu tapi kemarahanku menghancurkan itu, kini aku tak punya sisa hati lagi untuk mencintai yang lain...

Bahkan sekalipun kita memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup tanpa satu sama lain, aku tetap merindukanmu, aku mungkin akan berbahagia kembali nanti, tapi aku menunggu agar kamu yang terlebih dahulu untuk bahagia... Kini tiap malam aku mendoakan kebahagiaanmu. Bahwa sekalipun kamu pergi dari hidupku, selamanya kamu tinggal di sudut hati tanpa sekalipun terlupa. Aku akan bahagia nantinya, aku berjanji. 

Denganmu sangat sederhana dan sangat mudah sekali untuk berbahagia. Kudoakan kamu dan cinta barumu dapat saling menjaga. Kubayangkan akhirnya seperti ini, kamu sungguh-sungguh berhenti mencintaiku. Di suatu hari mulai saat ini dan nanti. Bahkan di hari itu aku tahu aku masih akan mencintaimu. Sama besar seperti hari ini. Kemudian masa depan, tiba-tiba tidak terasa semengerikan sebelumnya…

12/07/15

Entah


Hampir semua orang yang mengenal ceritaku ini memanggilku bodoh...

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat berkata padaku,

"Disaat orang lain ingin memperjuangkan cinta mereka, kamu malah ingin pergi begitu saja?

Disaat orang lain sudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan, kamu malah ingin dia tidak merasakannya?

Disaat orang lain berharap diterima kembali segala perasaan yang mengebu, kamu malah menyuruhnya melupakan yang sudah terjadi?

Kenapa semudah itu kamu melepaskan seseorang yang sangat membuatmu jatuh hati? 

Jika semuanya berakhir seperti ini, lalu mengapa dulu kamu sangat berani mencintainya?"


Aku hanya tersenyum entah bagaimana menjawabnya, entah bagaimana lagi membantah semua pertanyaan itu, alasan yang kupikirkan semuanya kosong hilang isi, pergi menguap kelangit langit.

Lalu aku menangis...

"Aku hanya tidak ingin menjadi beban untuknya, entah mengapa aku ragu, aku takut, semua perasaan ini hanya sesaat atau memang aku membutuhkan dia, dia memberikan jawabanya, jika dia tidak bisa menjadi apa yang aku mau,dan perasaan ini tidak akan berbalas, dia tidak mempunyai perasaan yang sama seperti dulu, dan mendadak aku ragu. Apa aku bisa bahagia kembali bersamanya? aku tau dia, dengan amat sangat dan aku tau siapa aku dimatanya setelah kejadian kemarin."

Lalu sahabat itu memeluku,

"Oh ya? aku baru tau kamu adalah peramal, bagaimana bisa kamu sehebat itu mengetahui semuanya? Dan menurutku, kamu akan tau ketika kamu memberitahunya, apa yang perlu kamu takuti?

Aku mendongakan kepalaku yang disambut senyum olehnya,

"Karena aku perempuan, terlebih aku sudah terlalu lama bersamanya dan aku mengenalnya"

"Lalu mengapa? dasar bodoh"

11/07/15

Rusak


Nila setitik rusak susu sebelanga.

Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya.

Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding positif.

Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik bisa merusak susu sebelanga, banyaknya! 

Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. 

Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan otomatis kontan semua kebaikannya seakan luruh sirna, sia-sia. Seketika...

Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”

Sulit, tapi jika kita belajar menjadi yang pemaaf, akan berusaha mengikuti jalannya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan itu...

Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.

Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. 

Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan. Kemudian aku mengingatmu, perlakuanmu, tindakanmu, hal yang kamu inginkan tersirat jelas di kepala, kamu membutuhkan seseorang yang hanya cukup memberikan kepuasan. Aku menyadarinya...

Aku tak membencimu, hanya sedikit menjauhimu. Ya lebih tepatnya aku mewaspadaimu 

Aku Sekarat

Kamu begitu tak tergoyahkan. Menyelami dinding solid yang menampang di hatimu, seperti melubangi sebuah batu dengan bermodalkan tetesan air. Namun dengan kesabaran, aku yakin suatu saat nanti hatimu akan runtuh juga.

Kamu bilang, jangan terlalu berharap. Kamu tidak bisa menjadi apa yang aku mau, ya akupun begitu. Aku menyerah, tiba tiba perasaan ragu untuk membahagiakanmu muncul. Aku takut menciptakan bahagia bersamamu, takut nantinya aku membuat kamu terluka, takut membuatmu kecewa. Maafkan aku yang ragu pada diriku sendiri...

" Cobalah lebih bersabar" 


" Saran yang baik, meski aku tidak terlalu suka itu. Aku hanya berusaha keras, sekeras hatimu. Aku yakin, usaha sekeras apa pun tak akan cukup tanpa harapan dan keyakinan diriku, maka akan kuyakinkan dulu hatiku, kuyakinkan keraguanku apa benar-benar aku mencintaimu dan membutuhkan kamu? Biar kucari tahu sendiri... "

Jangan remehkan cinta sayang. Jangan siakan sabarmu, dan ketika suatu saat nanti hatimu sudah berhasil kulubangi kembali, cintaku akan menelusup bersatu bersama membran hatimu yang keras. 

Aku hanya ingin cinta kita menjadi cinta yang kuat dan keras, tak tergoyahkan tetesan godaan seperti apa pun. Maaf aku menyerah untuk memperjuangkan kita, aku takut rasaku keliru padamu...

Seperti kata Raesaka, “Tuhan itu adil. Cinta yang hebat diminta bertahan hingga sekarat"


Sebaiknya Kau Baca Ini, aku menyerah

Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.

Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.

Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya melemah. Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan...

Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.

Begitu pula dengan keputusanku, aku tidak menyerah akan kita. Hanya sedikit berpikir apa kamu akan terus selalu menjadi alasanku? Apa kamu akan selalu mempunyai perasaan yang sama seperti dulu? Atau apa kamu orang yang dulu selalu dapat membuatku jatuh cinta berulang kali setiap harinya? Dan apakah kamu polarisku yang dulu? 

Aku tidak menyerah mengakhiri hubungan ini. Bukan, bukan karena aku takut mengambil resiko, begini saja aku takut hanya ragu pada diri sendiri, apa aku masih membutuhkan kamu? Apa aku masih bisa selalu memprioritaskan kamu? Dan apa aku selalu akan melakukan sesuatu karena kamu? Ya, sedikit banyak karena keadaan. Kamu selalu bilang jika aku selalu menyalahkan keadaan. Bukan menyalahkan, tapi keadaan yang membuat kita seperti ini. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku akhiri sendiri. Aku ragu, ragu pada diriku sendiri, aku takut, takut kelak akan mengecewakanmu, takut jika nanti aku tidak bisa menjadi bahagiamu, dan aku takut kamu tidak seperti kamu yang aku kenal duli, sikapmu padaku membuatku takut, takut akan diriku dan perasaanku. 

Tidak! Kau tidak berubah, hanya sedikit berbeda dari yang dulu, kamu kini sedikit tempramental, sedikit kejam, mungkin sampai aku berpikir kamu sedikit agak kurang ajar. Kamu tau, kenapa harus kurang ajar... Pertama kali kita bertemu setelah perang yang kita kibarkan kemarin, kamu membuatku seperti sesosok manusia yang tidak ada harganya. Kamu membuatku agak sedikit kecewa, ya padamu pada kita. Nafsumu mengalahkan logikamu, sadarkah saat itu aku berkata "apa yang kita lakukan ini benar?". Dan kamu akhirnya termakan omonganmu sendiri, kamu membuatku merasakan jika kamu adalah satu satunya orang termunafik! Dulu, kamu menghargaiku sepenuh hati, bahkan jika aku menawarkan memberikan keuntungan yaa sebut dia benefits, kamu akan segera menjawab "tidak, itu enak di aku dong, aku ga ngehargain kamu sebagai cewe". Nyatanya lain, kejadian kemarin cukup membuat aku sadar apa yang kamu katakan hanya penenang sesaat. 

Kamu berubah, ya sekarang aku menyimpulkan kamu berubah, jeda itu membuatku tak mengenal kamu yang ku kenal dulu. Bukan kamu yang bisa membuatku jatuh cinta, kamu berbeda. Sikapmu acuh dan egois, keras, aku takut... Ketakutanku membuatku ragu melanjutkanya, aku lebih memilih berhenti. Kamu tau? Terakhir kalinya aku menuliskan tentangmu aku menangis sejadi jadinya, tapi sekarang setelah semua perbuatanmu dan perlakuanmu padaku sekarang, aku menyadari kamu bukan orang yang seperti dulu, bukan kamu yang selalu bisa membuat aku jatuh cinta setiap harinya, bukan kamu yang membuatku mengerti artinya ketulusan, dan bukan kamu yang menghargai pengorbanan, kamu berubah...

Ya kamu berubah...

Dan kini, aku memilih melepasmu. Keraguanku pada diriku yang membuat aku melepasmu. Aku membutuhkan kamukah dalam setiap hidupku? Apa aku membutuhkan kamu sekarang dan nanti? Bahkan selamanya? Apa ini perasaan yang tulus atau hanya sebuah rasa bersalah yang menyelimuti membuat aku menyesal meninggalkan kamu? Apa masih ada cintaku sebesar dulu untuk kamu? Apa rasa yang aku miliki sekuat dulu ketika bersamamu? 

Mungkin kini lebih tepatnya aku Memilih menunggu keadaan yang mungkin tak akan datang,aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang. Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan kelak.

“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” 

Ah! Pada akhirnya aku mengatakan itu dengan ikhlas. Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan cinta.

Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Aku tak mau menyalahkan keadaan lagi, Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. Kamu boleh caci aku karena kesalahanku yang sangat besar, Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi. Aku tak mungkin semena mena melewatkanmu, jika dulu kamu tak pernah melepas...

Dan biarkan pesan dalam botol ini tetap menjadi rahasia hati.

Bandung, 11 juni 2015 aku melepasmu.