04/06/15

Bukan Karena Dia, Memang Aku Menyerah

Tanpa Judul
Kalau saja aku masih punya kesempatan yang sama, atau semua yang pernah terjadi bisa terulang lagi..

“Masih sayang bukan berarti menerimamu kembali disini. Bukan berarti aku harus bersamamu lagi.”

“Terserah.”

Aku hanya mengangguk tersenyum, diam-diam mencuri penglihatanku menuju matanya, dalam.

“Aku ngga mau kamu pergi.” Mata itu menatap penuh arti yang tersirat, dan aku tak bisa menangkap maksudnya. Terlalu rumit untuk aku jelaskan, mungkin.

“Begitupun aku.

Keduanya tertawa.

Aku kembali melayangkan pikiranku masuk ke dalam masa-masa itu, membuatku seolah-olah ingin menangis*. Betapa kadang yang kulepaskan tidak benar-benar kurelakan.

Aku ingin tertawa lagi dengannya, menikmati tiap sudut senyumnya, melihat matanya dengan tenang, seperti dulu, saat bersama.

Kalau begini, kotak tissu lagi-lah yang menjadi kawan di tiap malam. Dan paginya, pasti tersisa muka kusut dengan kantung mata hitam lebar. Ah … semua gara-gara kamu.

Ingatkah? Waktu kita berucap bahwa akan selalu bersama, selalu setia, selalu bahagia? Aku pikir itu benar adanya, bukan hanya kata-kata yang muluk. Aku bersungguh-sungguh saat mengucapkan itu di depanmu. Apalagi diwaktu kelingking, telunjuk dan jempol kita membuat suatu ikatan. Janji. Kamu tahu ? Aku masih mencintaimu, biarpun semua elemen dari dunia ini meninggalkanmu. Aku masih memilikimu, walau terkadang aku menyesali kehilanganmu. Jangan tanya kenapa, karena aku tidak tahu.

Sekarang, aku harus membencimu. Membencimu dengan sepenuh hati. Susah, susah rasanya menjungkirbalikan fakta yang ada, susah. Sumpah.

Itulah alasan mengapa aku menghindarimu, alasan mengapa aku harus menolakmu dan menjauhi kamu. Bukan mauku. Bukan. Keadaanku-lah yang memaksaku menjadi “aku” yang berbeda. Aku hanya menatap jauh lurus ke depan. Hanya malam dengan sedikit awan dan bintang yang malu-malu muncul. Aku hanya ingin sedikit kembali mengenangmu.
Aku akhirnya sadar, bahwa aku memang ditakdirkan untuk mengingatnya saja, tanpa harus mengalaminya lagi. Sedih memang, tapi tanpa harus menangisi.

Kalau saja bisa, aku ingin hilang ingatan. Menjatuhkan diri ke dalam sumur yang tak berujung. Karena sakit yang kurasakan sekarang memang benar-benar tak berujung. Satu tahun tak cukup rasanya. Aku tak pernah sedikitpun terlupa, atau bahkan berniat untuk tidak mengacuhkanmu. Tapi ini keadaannya lain. satu tahun tak cukup membuatku berhasil membiasakan semua rutinitas berkamuflase-ku. Aku belum terbiasa untuk hidup dalam kebohongan, dalam kepura-puraan. Aku selalu dibuat bingung sendiri oleh semua yang telah aku lakukan. Konyol. Tapi inilah rasanya jika kamu terperangkap dalam dua dimensi yang berbeda dunia. Aku sudah bilang, aku tak ingin melupakanmu. Tapi kondisinya malah semakin membuatku sakit hati sendiri. Aku terlalu lelah untuk menangis, terlebih untuk menangisimu. Aku bukan seorang yang cengeng, aku bukan seorang yang sentimentil. Dan aku, tak bisa memaksakan waktu dan seluruh komponen di dalamnya untuk mengikutiku. Ini semua hanya tentang hatiku-dan-aku. Bagaimana dengan suksesnya hatiku tak bisa ku atur untuk tidak selalu mengingatmu. Tidak selalu memaksaku untuk merasakan kembali pahitnya sendiri. Aku tak tahu kapan aku bisa membuang jauh semua tentang kamu. Dan tentang bahagiaku dulu bersamamu.

Sulit untuk mengatakan apa yang aku rasa sekarang, sakitkah? Sedihkah? Pilu? Aku pun tidak tahu. Aku hanya tahu satu hal, aku tak akan pernah ingin melupakanmu.

Betapa kadang yang aku lepaskan tak akan benar-benar aku relakan…

… sampai kini masih kutunggu adanya keajaiban. Masih tertunda dan belum semua ku katakana biar kutunggu sampai kau kembali lagi disini..

Hanya satu kali.

"Hati memiliki logika sendiri yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran"