27/06/15

Its My Fault

Ini Salahku....


If you love two people at the same time, choose the second one, because if you really loved the first one you wouldnt have fallen for the second.” – Johnny Depp

Jika kamu tidak mengerti ungkapan Johnny di atas, bergegas ambil kamus atau panggil kekasihmu (yang mengerti bahasa Inggris tentunya) untuk menjelaskannya untukmu.

Johnny, ungkapanmu itu mungkin banyak disukai orang, khususnya penggemarmu. Namun aku, sebagai salah satu penggemarmu juga, awalnya setuju kemudian ketika aku memilih mengikuti kata-katamu aku menjadi tidak setuju. Sama sekali tidak setuju.

Kamu pernah berjalan di atas jalan setapak dan tak berujung? Itulah yang aku maksud.

Johnny mengatakan ketika kita mencintai dua orang di waktu yang sama, pilihlah yang kedua, karena ketika kamu benar-benar mencintainya yang pertama, kamu tidak akan jatuh cinta lagi.

Salah! Lalu bagaimana ketika sudah memilih yang kedua, kemudian datang yang ketiga? Ketika telah memilih yang ketiga, datang yang keempat? Sampai kapan pun, kamu tak akan pernah menemukan akhirnya.

Menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih adalah tentang menerima kekurangan. Bukan berarti cinta itu buta, tetapi cinta itu bertanggung jawab. Ketika kamu memulai untuk jatuh cinta pada seseorang, pertahankan itu sampai titik sayang penghabisan, juga sebagai tanggung jawab.

Ketika kamu berpindah ke lain hati, itu karena di hati yang sebelumnya telah kamu temukan kekurangan, tetapi jika bagimu kekurangan itu bisa diterima, di situlah cinta bekerja. Kelebihan? Anggap saja itu bonus. Bahkan mengkonversi semua kekurangannya menjadi kelebihan bagi kamu, akan menghasilkan cinta yang luar biasa.

Dan aku menyadarinya, aku melepaskan yang sempurna demi yang terbaik. Sejujurnya kesalahanku, aku membuka pintu halamanku ketika kamu tidak bisa menguncinya. Dia datang ketika kamu sedang tidak dirumah. Rumput tetangga memang akan selalu terlihat lebih indah. I was cheating? Right! Aku menyesalinya. Aku tidak sepenuhnya menjalani diriku ketika bersamanya, dan aku rindu kamu...

Aku menyadari, bahwa yang paling baik justru yang kutinggali. Mari bercerita sedikit, sepasang kekasih tak mungkin lagi bisa bersama kalau di antara mereka sudah tak lagi saling membutuhkan. Memang terkesan ‘memanfaatkan’, tapi itu memang sifat dasar manusia, ingin kebutuhannya dipenuhi yang ujung-ujungnya supaya mereka merasa bahagia.

Seseorang yang membutuhkan kita bukanlah orang yang memanfaatkan kita, karena memanfaatkan berarti mengambil keuntungan dari seseorang yang sebenarnya tak terlalu kita butuhkan.

Ketika menemui seseorang yang membutuhkan kita, secara langsung atau tidak, kita akan membutuhkan mereka juga. Karena tak ada artinya kelebihan kalau tak ada tempat untuk menuangkannya, seperti cintaku yang berlebih ini, kepadamu. Tetapi aku melakukan kecurangan, aku membuat seseorang nyaman denganku dan membutuhkanku, pedahal nyatanya aku tidak. Yang aku butuhkan masih kamu...

Nyatanya, dia seseorang yang selalu aku butuhkan, rasanya itu seperti menemukan rumah yang selama ini kita cari saat kita tersesat, karena rumah adalah tempat yang paling kita butuhkan, selalu merasa aman, nyaman, tenang ketika berada di rumah. “Rumahku istanaku” terbukti bukan ungkapan omong kosong itu. Dan aku kehilangan rumahku...

Pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang ketika kita menatapnya, kita merasa seperti di rumah. Bahagia kamu akan selalu jadi bahagianya aku, walaupun bahagia aku belum tentu bahagianya kamu. Dan mungkin aku egois tak mampu melepaskan juga tak mau berpindah. Semoga kamu semua terhindar dari jalan setapak tak berujung.