29/06/15

Janjiku Pada Lima

Kemarin seorang pria dewasa menghampiriku dan menyebutkan sesuatu. Katanya "dia yg kamu cintai tidak mendapatkan restu salahnya kamu menyerah dan lebih memilih membuka hati pada yang lain. Cintamu padanya sejenak terkalahkan dengan nyaman pelukannya" Ya kira-kira begitulah, aku mencurangi kamu...

Aku tak tau. Seakan memori ini terlalu berharga untuk diletakkan begitu saja, dalam kotak kenangan. Menjadi kotak Pandora yang tak boleh dibuka, tapi pasti senantiasa rasa penasaran terus menghantui dan ingin kubuka setiap saat.

Kata orang, ada garis tipis. sangat tipis, antara tulus dan bodoh. Entahlah, aku mungkin berada di tengahnya. Di garis sangat tipis, hanya saja aku tak tau mana yang di bawah, tulus atau bodoh. Sehingga jika pada akhirnya gravitasi cintamu membuat tempat kuberpijak tak mampu lagi menahan, aku akan jatuh ke lubang ketulusan yang gelap tak berujung, atau kubangan kebodohan yang menggelitik nadi dan memutus semua logika.

Ternyata aku hanya mau kamu. Salah... Tolong beri aku alasan. Tolong buat aku menjauhkan pikiran itu. Aku tak tahan diterjang jarum detik tanpamu. Jarum yang bahkan malaikat pun tak bisa hentikan. Ternyata tanpamu terlalu sakit.

Aku sudah memilih mencintainya walaupun tanpa hati. Dan sialnya hampir seluruh bahagiaku kamu bawa pergi, dan sisanya aku makan sendiri. Sakit, tak apa ini menyakitiku. Seperti apa yang pernah aku katakan. Tak apa aku disakiti, sebagaimanapun. Daripada aku menyakiti, karena menyakiti rasanya lebih menyakitkan, melihat orang yang dikasihi kesakitan.

Biarkan aku duduk di persimpangan jalan sepi ini.
Tak ada petunjuk arah ke mana kamu pergi. Aku hanya ingin kembali.