04/06/15

Ketika Raissa menjadi When I Was Your Man


Yang, ini lucu sekali. Kamu yang kulukai, tapi sekarang ini aku yang sangat merasa menyesal sekali.

Kamulah yang selalu mampu membuat jantungku berdetak lebih kencang. Dulu. Kamulah yang selalu mampu membuat senyumku muncul begitu saja kapan pun mataku menangkapmu. Kamulah yang mampu membuatku tiba-tiba bahagia kalau ada sms atau telepon dengan namamu di layar teleponku. Sampai aku sering bertanya akhir-akhir ini, setelah kamu tak pernah di sini, dan merasakan pahitnya tanpa kamu lagi, "Bisakah kamu tetap di sini, menghabiskan waktu sepanjang hidupmu di sini? Bersamaku lagi. Tertawa lagi, bertengkar lagi, lalu saling memaafkan dan jatuh cinta kembali?"

Lalu aku terjaga dari lamunanku, karena kamu sudah lama tidak bersamaku lagi.

Yang, aku ingin kembali. Tapi kalau kamu tidak mau, aku mengerti.


Tapi kamu harus tahu ini. Kamu mungkin mengira, hanya kamu yang terluka, hanya kamu yang hampir setiap malam terjaga karena begitu dalam lukanya. Tetapi, Yang, aku juga. Meski mungkin juga kamu tidak akan mengerti lukaku seperti apa. Karena sering juga aku ingin sekali meneleponmu, sudah memandangi nomormu di layar handphoneku, tinggal memencet tombol hijau saja, tetapi tidak pernah berani memencetnya. Orang bilang itu memang karakter perempuan, tidak seharusnya menghubungi lebih dulu. Aku bilang, itu hanya egoku, yang tidak mau mengalah lebih dulu.

Yang, aku ingin bersamamu lagi. Tapi aku akan memahami kalau kamu sudah tidak mempercayai aku lagi.

Aku sudah berubah sekarang, Yang. Aku tidak pernah lagi melakukan apa yang sudah kamu larang. Dan meski kamu tetap akan ngotot pergi dan tidak mempercayai aku lagi pun, aku tetap tidak akan mengulanginya. Ini kemauanku sendiri, untuk menunjukkanmu kalau aku tidak mau hal yang sama terjadi lagi. Melukai seseorang yang aku cintai, tetapi ternyata aku sendiri yang merasakan sakit berkali lipat setelah orang itu pergi.

Aku seharusnya menyadari kalau ada hal-hal yang memang tidak bisa kamu terima. Seharusnya mengerti bahwa kalaupun itu menyenangkan untukku, belum tentu kamu menyetujuinya. Seharusnya aku paham, bahwa cinta adalah dua orang yang tidak boleh mementingkan egonya. Kalau memang menyenangkan untukku, tapi kamu terluka, buat apa?

Seharusnya aku lebih perasa.

Yang, aku ingin kita kembali seperti dulu. Kalau kamu harus menenangkan diri dulu, aku mengerti dan akan membiarkanmu. Aku akan menunggu. Menunggu sampai kamu memutuskan bisa atau tidak untuk kembali bersamaku. Tetapi kalaupun kamu tidak mau, kalaupun permintaan maafku tidak sanggup untuk menukar rasa sakitmu, tidak mampu untuk mengembalikan kepercayaanmu, aku pasti akan menyesal sekali telah melukaimu. Dan kalau ada yang bertanya apakah aku merindukanmu? Apakah aku sering tiba-tiba saja teringat kamu? Seberapa besar aku ingin bersama lagi denganmu?

Sebanyak denyut nadiku.

Itu jawabanku.

Tetapi kalau ternyata kamu masih tidak bisa melupakan betapa ngeyelnya aku ketika kamu menasehatiku, merasa benar dan selalu membantahmu, tidak bisa memaafkan kesalahan yang berulang kali kulakukan dan terus melukaimu, itu tidak apa-apa. Aku akan menerimanya. Aku hanya menyesali semua yang terjadi, Yang. Aku hanya harus bertahan dulu dari rindu yang selalu bertambah bertubi-tubi ini. Aku harus mengerti bahwa kita tidak akan bisa lagi seperti dulu. Karena tidak ada yang bisa kulakukan kalau memang harus begitu.

Tapi, Yang. Aku kangen kamu.








____________________
Awalnya terinspirasi lagu Raisa, "Pemeran Utama". Nulisnya sambil dengerin lagu itu dan lagu "When I was your Man" nya Bruno Mars