11/07/15

Aku Sekarat

Kamu begitu tak tergoyahkan. Menyelami dinding solid yang menampang di hatimu, seperti melubangi sebuah batu dengan bermodalkan tetesan air. Namun dengan kesabaran, aku yakin suatu saat nanti hatimu akan runtuh juga.

Kamu bilang, jangan terlalu berharap. Kamu tidak bisa menjadi apa yang aku mau, ya akupun begitu. Aku menyerah, tiba tiba perasaan ragu untuk membahagiakanmu muncul. Aku takut menciptakan bahagia bersamamu, takut nantinya aku membuat kamu terluka, takut membuatmu kecewa. Maafkan aku yang ragu pada diriku sendiri...

" Cobalah lebih bersabar" 


" Saran yang baik, meski aku tidak terlalu suka itu. Aku hanya berusaha keras, sekeras hatimu. Aku yakin, usaha sekeras apa pun tak akan cukup tanpa harapan dan keyakinan diriku, maka akan kuyakinkan dulu hatiku, kuyakinkan keraguanku apa benar-benar aku mencintaimu dan membutuhkan kamu? Biar kucari tahu sendiri... "

Jangan remehkan cinta sayang. Jangan siakan sabarmu, dan ketika suatu saat nanti hatimu sudah berhasil kulubangi kembali, cintaku akan menelusup bersatu bersama membran hatimu yang keras. 

Aku hanya ingin cinta kita menjadi cinta yang kuat dan keras, tak tergoyahkan tetesan godaan seperti apa pun. Maaf aku menyerah untuk memperjuangkan kita, aku takut rasaku keliru padamu...

Seperti kata Raesaka, “Tuhan itu adil. Cinta yang hebat diminta bertahan hingga sekarat"