11/07/15

Rusak


Nila setitik rusak susu sebelanga.

Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya.

Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding positif.

Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik bisa merusak susu sebelanga, banyaknya! 

Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. 

Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan otomatis kontan semua kebaikannya seakan luruh sirna, sia-sia. Seketika...

Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”

Sulit, tapi jika kita belajar menjadi yang pemaaf, akan berusaha mengikuti jalannya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan itu...

Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.

Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. 

Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan. Kemudian aku mengingatmu, perlakuanmu, tindakanmu, hal yang kamu inginkan tersirat jelas di kepala, kamu membutuhkan seseorang yang hanya cukup memberikan kepuasan. Aku menyadarinya...

Aku tak membencimu, hanya sedikit menjauhimu. Ya lebih tepatnya aku mewaspadaimu