11/07/15

Sebaiknya Kau Baca Ini, aku menyerah

Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.

Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.

Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya melemah. Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan...

Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.

Begitu pula dengan keputusanku, aku tidak menyerah akan kita. Hanya sedikit berpikir apa kamu akan terus selalu menjadi alasanku? Apa kamu akan selalu mempunyai perasaan yang sama seperti dulu? Atau apa kamu orang yang dulu selalu dapat membuatku jatuh cinta berulang kali setiap harinya? Dan apakah kamu polarisku yang dulu? 

Aku tidak menyerah mengakhiri hubungan ini. Bukan, bukan karena aku takut mengambil resiko, begini saja aku takut hanya ragu pada diri sendiri, apa aku masih membutuhkan kamu? Apa aku masih bisa selalu memprioritaskan kamu? Dan apa aku selalu akan melakukan sesuatu karena kamu? Ya, sedikit banyak karena keadaan. Kamu selalu bilang jika aku selalu menyalahkan keadaan. Bukan menyalahkan, tapi keadaan yang membuat kita seperti ini. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku akhiri sendiri. Aku ragu, ragu pada diriku sendiri, aku takut, takut kelak akan mengecewakanmu, takut jika nanti aku tidak bisa menjadi bahagiamu, dan aku takut kamu tidak seperti kamu yang aku kenal duli, sikapmu padaku membuatku takut, takut akan diriku dan perasaanku. 

Tidak! Kau tidak berubah, hanya sedikit berbeda dari yang dulu, kamu kini sedikit tempramental, sedikit kejam, mungkin sampai aku berpikir kamu sedikit agak kurang ajar. Kamu tau, kenapa harus kurang ajar... Pertama kali kita bertemu setelah perang yang kita kibarkan kemarin, kamu membuatku seperti sesosok manusia yang tidak ada harganya. Kamu membuatku agak sedikit kecewa, ya padamu pada kita. Nafsumu mengalahkan logikamu, sadarkah saat itu aku berkata "apa yang kita lakukan ini benar?". Dan kamu akhirnya termakan omonganmu sendiri, kamu membuatku merasakan jika kamu adalah satu satunya orang termunafik! Dulu, kamu menghargaiku sepenuh hati, bahkan jika aku menawarkan memberikan keuntungan yaa sebut dia benefits, kamu akan segera menjawab "tidak, itu enak di aku dong, aku ga ngehargain kamu sebagai cewe". Nyatanya lain, kejadian kemarin cukup membuat aku sadar apa yang kamu katakan hanya penenang sesaat. 

Kamu berubah, ya sekarang aku menyimpulkan kamu berubah, jeda itu membuatku tak mengenal kamu yang ku kenal dulu. Bukan kamu yang bisa membuatku jatuh cinta, kamu berbeda. Sikapmu acuh dan egois, keras, aku takut... Ketakutanku membuatku ragu melanjutkanya, aku lebih memilih berhenti. Kamu tau? Terakhir kalinya aku menuliskan tentangmu aku menangis sejadi jadinya, tapi sekarang setelah semua perbuatanmu dan perlakuanmu padaku sekarang, aku menyadari kamu bukan orang yang seperti dulu, bukan kamu yang selalu bisa membuat aku jatuh cinta setiap harinya, bukan kamu yang membuatku mengerti artinya ketulusan, dan bukan kamu yang menghargai pengorbanan, kamu berubah...

Ya kamu berubah...

Dan kini, aku memilih melepasmu. Keraguanku pada diriku yang membuat aku melepasmu. Aku membutuhkan kamukah dalam setiap hidupku? Apa aku membutuhkan kamu sekarang dan nanti? Bahkan selamanya? Apa ini perasaan yang tulus atau hanya sebuah rasa bersalah yang menyelimuti membuat aku menyesal meninggalkan kamu? Apa masih ada cintaku sebesar dulu untuk kamu? Apa rasa yang aku miliki sekuat dulu ketika bersamamu? 

Mungkin kini lebih tepatnya aku Memilih menunggu keadaan yang mungkin tak akan datang,aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang. Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan kelak.

“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” 

Ah! Pada akhirnya aku mengatakan itu dengan ikhlas. Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan cinta.

Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Aku tak mau menyalahkan keadaan lagi, Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. Kamu boleh caci aku karena kesalahanku yang sangat besar, Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi. Aku tak mungkin semena mena melewatkanmu, jika dulu kamu tak pernah melepas...

Dan biarkan pesan dalam botol ini tetap menjadi rahasia hati.

Bandung, 11 juni 2015 aku melepasmu.