29/08/15

Thirteen

'Aku tidak pernah berfikir bahwa aku adalah orang yang beruntung. Sekali-dua kali dewi keberuntungan menghampiriku dan membuat hidupku berubah, tapi dalam sebagian besar kesempatan lain, aku sesungguhnya hanya manusia biasa saja'
Beberapa bulan terakhir ini hidup tidak berjalan semudah biasanya. Aku frustasi, tidak hanya karena rutinitas dan sistem yang berbeda, tapi juga karena pertarungan terus-menerus baik fisik maupun batin. Berat rasanya harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk tetap bersikap optimis dan positif, karena kedua energi tersebut punya batasnya, paling tidak bagiku. Tidak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk akhirnya kehilangan tenaga, bahkan untuk tersenyum.
Kehilangan tenaga untuk bersikap optimis bagi aku pribadi, mengerikan... Aku jadi apatis dan kehilangan kepekaan dengan apa yang terjadi di sekitarku. Aku menjadi malas sekali dan melarikan diri jadi hal yang lumrah bagi saya, tapi sesungguhnya yang paling mengerikan adalah aku kehilangan kepercayaan, tidak hanya terhadap kemampuan dan kapasitasku, tapi juga terhadap diriku seutuhnya. Mungkin ini semua terdengar cengeng, tapi hari-hari ini yang tersisa dari diriku tak lebih dari perempuan pemalas yang tidak pula menarik.
Keputusanku hari ini, sebagian besar dipengaruhi pemikiran diatas. Setelah berkali-kali mengetuk pintu yang salah dan merasa ditinggalkan, pintu manapun yang kemudian terbuka jadi terasa benar- dan tentu saja- lebih mudah. Persetan dengan keyakinan, aku tak punya apa-apa lagi untuk diyakini, tak punya apa-apa lagi untuk diprioritaskan. Janggal rasanya harus mengakui bahwa apa-apa yang selama ini dibanggakan menjadi bukan apa-apa.
Kemudian, seperti awal mula dongeng masa kecil, aku bertemu kamu kembali. Kamu yang memberi aku arti, seperti gadis kecil menamai boneka barunya.
Kamu yang melihat ku seperti sepantasnya aku dilihat, dan dihargai. Kamu yang memberi tahu aku bahwa diriku istimewa, bukan lewat kata-kata, tapi perbuatan. Kamu yang menuntunku ke depan cermin dan menunjukkan jika diriku segala yang aku miliki, tapi tak pernah terlihat; kecantikan, ambisi, dan kualitas-kualitas diriku sebagai seorang manusia. Kamu yang menunjukkan semua hal berharga dalam diriku yang seharusnya dapat aku jaga dengan teguh dan berani.
Kamu menunjukkan caranya membahagiakan diriku sendiri, tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain. Terutama orang-orang yang tak pernah melihatku dengan cukup lama dan cukup paham. Kamu menunjukkan aku caranya mengasihi, tidak hanya orang-orang yang aku cintai, tapi-yang juga penting- diriku sendiri. Kamu memberi keberanian untuk berdamai dengan sisi tergelap diriku sendiri, karena mustahil meminta orang lain menerimanya sebelum ada penerimaan dari diri sendiri.
Tentu saja sesungguhnya semua ini bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, lusinan manusia lalu-lalang mengucapkan hal yang sama, tapi seperti sihir pula, hanya mantramu yang bekerja. Aku tidak tahu apakah terima kasih akan cukup untuk membalas semua yang telah kamu lakukan, tapi di saat yang bersamaan aku tak yakin pula akan ada balasan lain yang lebih pantas selain ucap terima kasih yang tulus.
Dalam perjumpaan kita yang singkat, aku belajar jauh lebih banyak dari yang semula yang aku harapkan dan bersyukur karenanya. Aku menyesal harus terlambat menemukanmu dan harus sempat berpisah, tapi kamu pula lah yang mengajarkan aku untuk berhenti merisaukan perpisahan. Bahwa ‘tiap-tiap yang diambil darimu, akan dikembalikan dengan yang jauh lebih baik' begitu selalu.
Terima kasih telah mencintai aku, bahkan dalam saat terburukku. Terima kasih telah melihat diriku  dalam sisi yang bahkan luput dilihat mataku sendiri. Terima kasih setidaknya, telah mencoba mengerti. Terima kasih telah memberi keberanian mencoba sekali lagi. Terima kasih untuk selalu disini, bahkan di saat yang lain pergi. Terima kasih telah datang dan memberi arti kembali.



Aku tidak pernah berfikir bahwa aku adalah orang yang beruntung. Sekali-dua kali dewi keberuntungan menghampiriku dan membuat hidupku berubah, tapi dalam sebagian besar kesempatan lain, aku sesungguhnya hanya manusia biasa saja. 
Mungkin, aku hanya mudah bersyukur.