27/08/15

Kepada Langit Bandung...

Dulu seseorang pernah berkata kepadaku bahwa tak peduli sejauh apa kami terpisah, kami akan tetap berada di bawah langit yang sama. Tak peduli terpisah lautan dan kepulauan, tiap kali menengadah, kami akan menjumpai langit yang sama. Tak peduli langitku kelabu dan langitnya berpelangi, dia bilang aku harus selalu yakin bahwa kami selalu berada di bawah langit yang satu, hanya dalam gradasi warna berbeda.

Kukira, dulu, kata-katanya menguatkanku. Mungkin karena dulu Ia satu-satunya mahluk yang kuletakkan kepercayaan padanya dan satu-satunya. Dan dengan lembut Ia senantiasa mengusap kepalaku perlahan, menghanyutkan tiap gelisah, “Jangan khawatir. Dimanapun kau berada, langit biru di atas kepalamu akan mengingatkanmu padaku”.

Kepada Langit di atas Bandung,
Kamu tahu tidak? Sejak itu tiap kali bersedih, aku mencoba menghibur diri dengan menatapmu. Kamu yang biru cerah, kamu yang putih penuh awan, kamu yang gelap dengan kerlip bintang, bahkan kamu yang kemerahan. Tapi lambat laun aku mengerti; tak peduli sebiru apapun kamu, secerah apapun kamu, kamu tetap tak mampu menawar rindu.

Rindu adalah ombak yang berulang kali menerjang karang, pecah, lalu menerjang kembali. Begitu tanpa henti. Rindu adalah lumut yang tumbuh perlahan di dinding batu, dan pelan-pelan mengubahnya jadi debu. Rindu adalah langit di atas Bandung, yang terus menerus berairmata tanpa tahu sebabnya. Yang ku pelajari, tidak ada yang sanggup menghentikan rindu kecuali cinta yang berbalas atau cinta yang terpaksa kandas.

Dulu seseorang pernah berkata bahwa ketika aku menatap langit, Ia juga tengah menatap langit yang sama di atas kepalanya. Itu berarti, di tiap saat, kami saling bertatapan. Tapi hari ini, sekeras apapun aku menatap, tidak pernah ada apa-apa di atas sana. Tidak cinta. Tidak harapan. Hanya langit, kelabu warnanya.

Kepada Langit di atas Bandung,
Lain kali kamu bertemu dengannya, tolong katakan, ”aku sudah berhenti merindu."