22/08/15

Polarisku...

Hey apakabarnya, polaris..

Masih akan tetap menjadi polariskah? Mungkin tidak...

Begini saja, Kubayangkan kita sungguh-sungguh berpisah pada akhirnya. Di suatu titik di masa depan. Aku meneteskan airmata, dan jemarimu yang hangat menghapusnya satu-satu. Tapi tidak pernah satu kata pun keluar, mencegah satu sama lain beranjak pergi. Seolah kita telah sama-sama tahu, jauh di dalam hati, semua ini yang terbaik.

Kubayangkan kamu mengemasi barang-barangmu dan bersiap pergi. Kamu menolak membawa kenangan, katamu mereka hanya akan memperlambat langkahmu. Aku bahkan tidak membantah, tidak memaksa. Aku pun, tak sanggup menyimpan senyum  manismu di dalam hati.

Tidak ada yang berjalan salah setelahnya... Matahari masih tetap bersinar cerah. Udara, masih terhirup nyaman. Tak ada duka. Tak ada sesal. Tak ada yang berubah di keseharian hidup masing-masing. Seolah semesta pun mengerti bahwa semua ini memang sudah seharusnya terjadi.

Berpisah kali ini terasa mudah. Lebih mudah dari perpisahan lainnya. Hari-hari berlalu dengan cepat dan malam terasa lebih pendek dari biasa. Merindukanmu masih menggangguku, tapi dengan cepat aku terbiasa. Seolah rindu pun mengerti; selamanya ia hanya akan hinggap di hati tanpa pernah bertemu dengan penawarnya.

Waktu berlalu dan kamu mulai menemukan cinta baru, cinta yang tumbuh satu per satu. Sebagian mati, diganti seribu tunas baru, tapi bahkan semua itu tak sanggup membuat cinta yang lama beranjak usang. Tidak pernah membuat cinta yang lama berkurang kedalamannya. Siapa aku hingga merasa mampu mengukur cinta?

Seperti cerita di lembar terakhir, tak ada lagi kata yang ditulis setelahnya. Kita saling tahu kemana harus kembali tapi tak pernah sekalipun kita mengubah arah langkah agar kembali.Tak ada lagi cerita untuk dibagi. Tak ada tawa untuk ditukar. Tidak pula kabar atau sekedar basa-basi murahan apa kabar...

Kita tahu kita telah mengusahakan semuanya, dan kini tak ada lagi yang tersisa. Andai kau datang padaku dan berkata maaf, mungkin akhirnya tidak akan ada kamu dan aku. Ya mungkin kita didalamnya. Tapi bahkan sekalipun kita berakhir tanpa menjadi apa-apa, biarkan aku disini menyimpan kemarahanku, dan menyimpan rasaku, aku masih mencitaimu tapi kemarahanku menghancurkan itu, kini aku tak punya sisa hati lagi untuk mencintai yang lain...

Bahkan sekalipun kita memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup tanpa satu sama lain, aku tetap merindukanmu, aku mungkin akan berbahagia kembali nanti, tapi aku menunggu agar kamu yang terlebih dahulu untuk bahagia... Kini tiap malam aku mendoakan kebahagiaanmu. Bahwa sekalipun kamu pergi dari hidupku, selamanya kamu tinggal di sudut hati tanpa sekalipun terlupa. Aku akan bahagia nantinya, aku berjanji. 

Denganmu sangat sederhana dan sangat mudah sekali untuk berbahagia. Kudoakan kamu dan cinta barumu dapat saling menjaga. Kubayangkan akhirnya seperti ini, kamu sungguh-sungguh berhenti mencintaiku. Di suatu hari mulai saat ini dan nanti. Bahkan di hari itu aku tahu aku masih akan mencintaimu. Sama besar seperti hari ini. Kemudian masa depan, tiba-tiba tidak terasa semengerikan sebelumnya…