22/09/15

Karena sebuah favorite twit dari seorang mantan


Saat hujan turun, Awan kelabu tetap mengiringi kedalam sebuah kata syahdu...
Aku tersenyum saat detik mengijinkanku untuk mengenangmu dengan terpaan angin lembut. Seolah semua kembali kepada masa itu. Saat aku mengenalmu, Saat aku jatuh cinta kepadamu, Saat aku mencintaimu, Saat aku tak bisa lagi mencintaimu, Saat aku dan kamu pergi, tinggal menyisakan cinta tanpa rasa dan kata.

Bersama secangkir kopi Cappucino hangat. Aku angankan waktu yang terus berputar dan berlalu, hanya mengusir sepi. Tidak ada kegiatan lain sehabis kampus, aku sendiri. Aku akui, mengenangmu adalah pelipur sepi selama ini, aku menyukai kesendirianku seperti saat ini semenjak kehilanganmu, mengenangmu pelipur sepi namun menyesakkan hati, saat aku semakin tersenyum dan larut asik dalam khayalanku, tentang kamu. Semakin terasa menyakitkan...

Aku lagi-lagi dibuat tersentak hebat olehmu. Cinta itu datang saat hujan turun. Cinta itu datang dan hinggap dihati. Ditambah kelembutan hatimu, dulu. Kamu berhasil membuatku mencintaimu tanpa kamu merayuku. Aku rasakan cinta itu lugas, adil dan mendekap hati tanpa ragu. Hari ini, aku kembali merasakan semua itu, walau sebatas ilusi, namun aku bersyukur, semua karena hujan yang membawa semuanya kembali.

Hujan kembali turun. Disore ini, saat aku masih terjaga dengan lamunan. Begitu deras, hingga khayalan tentangmu seketika kembali menguat. Volume air yang turun menandakan banyaknya kenangan yang kembali terasa pekat. Kenangan tentangmu, yang masih tetap hangat.

Lututku mendadak lemas, saat senyummu begitu saja mampir dalam benakku. Seketika menyadari bahwa rasa yang dulu ada, tak pernah benar-benar pergi. Mungkin dulu rasa yang kita miliki hanya tertutup tabir keegoisan dan harga diri, hingga tindakan yg ada hanya berujung saling menyakiti. Mungkin juga kita yang terlalu bodoh, atau tak cukup dewasa. Mungkin...

Hujan yang turun. Selalu sukses mengantar kedalam kebahagiaanku sendiri. Tersenyum untuk menikmati sekali lagi saat-saat manis bersamamu. Menghanyutkan segala khayal tentangmu. Tentang kamu dan hujan. Menahan setiap inci raut keanggunanmu.

Saat hujan turun. Awan kelabu tetap mengiringi kedalam sebuah kata syahdu. Aku tersenyum saat detik mengijinkanku untuk mengenangmu dengan terpaan angin lembut. Semua seolah kembali kepada masa itu. Saat aku mengenalmu. Saat aku jatuh cinta kepadamu. Saat aku mencintaimu. Saat aku tak bisa lagi mencintaimu. Saat aku dan kamu pergi, sisakan cinta tanpa rasa dan kata. 

Akankah waktu kembali mengijinkan kita kembali mencintai dengan rasa dan kata?