25/05/15

Sebenarnya Seperti Ini

Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.
Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu.
Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”
Padahal, baru saja beberapa bulan yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah  lebih dari satu kali perputaran revolusi kita bertemu. 
Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal” tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di ‘rumah’mu yaitu di matamu –tempat aku menemukan keteduhan.
Baru aku sadar, sedetik setelah pergi, manusia bisa rindu orang yang baru ia temuinya.
Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Ada satu alasan mengapa aku harus pergi. Tidak akan dan tidak ingin. Ketika di sampingmulah aku merasa tidak perlu ada lagi yang mesti aku khawatirkan di dunia ini. Karena ketika bersamamu, aku lengkap. Dan ketika denganmu, aku tahu harus bersama siap harus menghabiskan sisa hidup.
Aku sangat bersyukur dengan semua mimpi yang selama ini berhasil aku raih. Namun jika tanpamu, seperti tak sedang menjalaninya mungkin. Kamu mimpi terindah yang ingin kujadikan nyata. Sebagian orang berkata tidak ada yang sempurna. Tapi bagiku, kamu sempurna. Lebih dari itu, kamu menyempurnakan aku.
Karena kamu membuat aku merasa cukup.
Aku tidak memilihmu. Kamu tidak memilihku. hidup memilih kita.BSampai aku bertemu aku sendiri...
Aku sadar selamat tinggal ini hanya sementara. Kelak semua akan diakhiri peluk erat dan dekap hangat. Kali ini, setidaknya untuk sementara, aku minta kamu peluk dengan doa. Akan kusebut namamu dalam doaku, Dan biarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpi kita. Ah kamu dengan mimpimu dan akupun dengan impianku. Untuk hidup di bawah atap yang sama, makan masakan yang sama, berbagi selimut yang sama. Hidup bersama dalam bahagia yang halal, dan kekal. Kelak aku ingin kamu yang mengucapkan janji dihadapan tuhan bersamaku.Aamiiin.

Lima Itu Apa ...


Salahku adalah, Aku terlalu egois dan tidak bisa mengertimu lebih dalam lagi.
Dan salahmu? salahmu adalah, kamu tidak memikirkan perasaan anak yang cengeng ini, saat kamu lebih memilih pergi, daripada bertahan.

Tapi kembali ke awal. Ini hanya masalah waktu, tapi mungkin aku dan kamu tidak bisa tahan menunggu, padahal dewasa bisa kita jajah bersama, jika kita mau sabar dan menunggu untuk tau.
Aku egois? iya. Memang. Bahkan kamu sangat tau itu. Tapi Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, kata kata yang kamu ucapkan bahwa "Cinta adalah emosi, jadi aku tidak akan mencampur adukanya dengan akal sehat"

Lalu bagaimana dengan kata kata "Peduli itu sama dengan suka kan?" 

Saat itu kita sedang berbincang...
"Peduli itu sama dengan suka kan?"
"Iya, Aku peduli sama kamu"

Kamu lupa? iya, aku tau kamu tidak lupa. kamu hanya berusaha untuk tidak mengingatnya. Sepertiku, aku juga berusaha untuk tidak mengingatmu, berusaha untuk tidak mengingat semua kejadian manis yang aku lakukan bersamamu, mencoba melupakan apa yang kita mulai, lewati dan kita akhiri. 

Mungkin menurutmu itu mudah, tapi bagiku untuk berhenti peduli sama kamu..
adalah hal pertama yang aku coba dan paling sulit aku lakukan. Entah, Bodoh memang. Aku merasa tidak adil saat merindukanmu. karena bahkan aku sudah seharusnya memikirkan seseorang yang lain yang kini bersamaku, Dan aku tau. Hatimu sudah menetapkan untuk tidak memilihku...

Aku hanya berharap... Bahwa apa yang kamu inginkan, bisa segera terwujud. perlahan aku tau, banyak hal yang kamu tinggalkan untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. 

Aku tau kamu...
Bukan. Aku bukan so mengenalmu. Aku hanya terlalu sering memerhatikanmu danencintaimu, aku bisa hafal gerak gerikmu. Aku tau bagaimana caramu berjalan. Caramu membenahi tali sepatu. Caramu memakai baju. Caramu memakai jaket. Caramu menutup kepalamu dengan tudung jaket kebanggaanmu. Caramu membenahi tas dan saat kamu membenarkan posisi. Caramu tertawa. Caramu berbicara... 
Ah sial! Aku hafal, saat kamu bersemangat suaramu terdengar lebih melengking dari biasanya. Dan aku tau caramu memperlihatkan adegan di tiap film kartun kesukaanmu, yang kamu sukai dengan temanmu. Caramu tersenyum. Dan caramu menatapku. Aku tau saat ada hal yang mengganggumu, entah itu apa.. Aku hanya menunggumu untuk mau berbagi sebuah cerita kepadaku...

Kemarin. Tepat setahun yang lalu. Saat kamu mengucapkan kalimat manis untuk bisa bersamaku. 
Ingat? mungkin iya. Dan apa kamu ingat kata kata ku saat menerimamu dulu? Aku akan menjadi bolamu selalu...
Ya aku mengadakan mungkin sekarang kalimat itu berubah menjadi, Berlari yah kejar bolanya ! Walaupun bolanya bukan aku. :-)

Kamu percaya jodoh itu apa? Kita akan dipertemukan walau keduanya tak saling berusaha mempertemukan ...

12/05/15

Doaku...

Kita. Sebuah kata yang (semoga) menjadi tujuan bagi aku dan kamu. Belum terwujud (semoga) hanya karena detik itu belum sampai pada putaran akhirnya mengemban tugas mempersatukan. Dalam doa, namamu selalu aku sematkan, (semoga) menjadi doa yang baik untuk kita, (semoga) kamupun begitu. Banyak doa yang sudah kuucap, sepertinya belum ada yang terkabul. Aku yakin (semoga) Tuhan bukan tak mengabulkan doaku. Ia hanya menyimpannya, hingga waktu yang tepat datang.
Ketika waktu itu sudah tiba, (semoga) Tuhan akan melepas semua doa yang kuucap, menghamburkannya pada semesta sebagai tanda ada pekerjaan yang harus semesta selesaikan. Dan aku, tak pernah ragu dengan cara kerja semesta.
Biarkan aku berdoa lagi, sayang. (semoga) Kamu pasti bersedia mengamini juga, kan?
Semoga sepi yang hadir menelusup dalam setiap malam, hanyalah cara Tuhan mengingatkan aku rindu akan kamu rasanya tak tertahankan.
Semoga kita hanya dua orang sendiri yang pernah saling memimpikan, hanya saja belum saatnya bersatu. Selama ini apapun yang aku lakukan denganmu sudah kutulis pada janjiku takan aku lakukan bersamanya. Kelak aku sematkan pada pangeran terakhir dalam hidupku, nantinya. 
Semoga kita hanya dua hamba yang saling mengirim doa, mengamini bersama, yang ternyata doanya memohon untuk saling melengkapi.
Semoga kita hanya sepasang insan yang saling mau, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk bersama.