12/07/15

Entah


Hampir semua orang yang mengenal ceritaku ini memanggilku bodoh...

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat berkata padaku,

"Disaat orang lain ingin memperjuangkan cinta mereka, kamu malah ingin pergi begitu saja?

Disaat orang lain sudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan, kamu malah ingin dia tidak merasakannya?

Disaat orang lain berharap diterima kembali segala perasaan yang mengebu, kamu malah menyuruhnya melupakan yang sudah terjadi?

Kenapa semudah itu kamu melepaskan seseorang yang sangat membuatmu jatuh hati? 

Jika semuanya berakhir seperti ini, lalu mengapa dulu kamu sangat berani mencintainya?"


Aku hanya tersenyum entah bagaimana menjawabnya, entah bagaimana lagi membantah semua pertanyaan itu, alasan yang kupikirkan semuanya kosong hilang isi, pergi menguap kelangit langit.

Lalu aku menangis...

"Aku hanya tidak ingin menjadi beban untuknya, entah mengapa aku ragu, aku takut, semua perasaan ini hanya sesaat atau memang aku membutuhkan dia, dia memberikan jawabanya, jika dia tidak bisa menjadi apa yang aku mau,dan perasaan ini tidak akan berbalas, dia tidak mempunyai perasaan yang sama seperti dulu, dan mendadak aku ragu. Apa aku bisa bahagia kembali bersamanya? aku tau dia, dengan amat sangat dan aku tau siapa aku dimatanya setelah kejadian kemarin."

Lalu sahabat itu memeluku,

"Oh ya? aku baru tau kamu adalah peramal, bagaimana bisa kamu sehebat itu mengetahui semuanya? Dan menurutku, kamu akan tau ketika kamu memberitahunya, apa yang perlu kamu takuti?

Aku mendongakan kepalaku yang disambut senyum olehnya,

"Karena aku perempuan, terlebih aku sudah terlalu lama bersamanya dan aku mengenalnya"

"Lalu mengapa? dasar bodoh"

11/07/15

Rusak


Nila setitik rusak susu sebelanga.

Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya.

Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding positif.

Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik bisa merusak susu sebelanga, banyaknya! 

Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. 

Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan otomatis kontan semua kebaikannya seakan luruh sirna, sia-sia. Seketika...

Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”

Sulit, tapi jika kita belajar menjadi yang pemaaf, akan berusaha mengikuti jalannya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan itu...

Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.

Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. 

Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan. Kemudian aku mengingatmu, perlakuanmu, tindakanmu, hal yang kamu inginkan tersirat jelas di kepala, kamu membutuhkan seseorang yang hanya cukup memberikan kepuasan. Aku menyadarinya...

Aku tak membencimu, hanya sedikit menjauhimu. Ya lebih tepatnya aku mewaspadaimu 

Aku Sekarat

Kamu begitu tak tergoyahkan. Menyelami dinding solid yang menampang di hatimu, seperti melubangi sebuah batu dengan bermodalkan tetesan air. Namun dengan kesabaran, aku yakin suatu saat nanti hatimu akan runtuh juga.

Kamu bilang, jangan terlalu berharap. Kamu tidak bisa menjadi apa yang aku mau, ya akupun begitu. Aku menyerah, tiba tiba perasaan ragu untuk membahagiakanmu muncul. Aku takut menciptakan bahagia bersamamu, takut nantinya aku membuat kamu terluka, takut membuatmu kecewa. Maafkan aku yang ragu pada diriku sendiri...

" Cobalah lebih bersabar" 


" Saran yang baik, meski aku tidak terlalu suka itu. Aku hanya berusaha keras, sekeras hatimu. Aku yakin, usaha sekeras apa pun tak akan cukup tanpa harapan dan keyakinan diriku, maka akan kuyakinkan dulu hatiku, kuyakinkan keraguanku apa benar-benar aku mencintaimu dan membutuhkan kamu? Biar kucari tahu sendiri... "

Jangan remehkan cinta sayang. Jangan siakan sabarmu, dan ketika suatu saat nanti hatimu sudah berhasil kulubangi kembali, cintaku akan menelusup bersatu bersama membran hatimu yang keras. 

Aku hanya ingin cinta kita menjadi cinta yang kuat dan keras, tak tergoyahkan tetesan godaan seperti apa pun. Maaf aku menyerah untuk memperjuangkan kita, aku takut rasaku keliru padamu...

Seperti kata Raesaka, “Tuhan itu adil. Cinta yang hebat diminta bertahan hingga sekarat"


Sebaiknya Kau Baca Ini, aku menyerah

Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.

Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.

Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya melemah. Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan...

Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.

Begitu pula dengan keputusanku, aku tidak menyerah akan kita. Hanya sedikit berpikir apa kamu akan terus selalu menjadi alasanku? Apa kamu akan selalu mempunyai perasaan yang sama seperti dulu? Atau apa kamu orang yang dulu selalu dapat membuatku jatuh cinta berulang kali setiap harinya? Dan apakah kamu polarisku yang dulu? 

Aku tidak menyerah mengakhiri hubungan ini. Bukan, bukan karena aku takut mengambil resiko, begini saja aku takut hanya ragu pada diri sendiri, apa aku masih membutuhkan kamu? Apa aku masih bisa selalu memprioritaskan kamu? Dan apa aku selalu akan melakukan sesuatu karena kamu? Ya, sedikit banyak karena keadaan. Kamu selalu bilang jika aku selalu menyalahkan keadaan. Bukan menyalahkan, tapi keadaan yang membuat kita seperti ini. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku akhiri sendiri. Aku ragu, ragu pada diriku sendiri, aku takut, takut kelak akan mengecewakanmu, takut jika nanti aku tidak bisa menjadi bahagiamu, dan aku takut kamu tidak seperti kamu yang aku kenal duli, sikapmu padaku membuatku takut, takut akan diriku dan perasaanku. 

Tidak! Kau tidak berubah, hanya sedikit berbeda dari yang dulu, kamu kini sedikit tempramental, sedikit kejam, mungkin sampai aku berpikir kamu sedikit agak kurang ajar. Kamu tau, kenapa harus kurang ajar... Pertama kali kita bertemu setelah perang yang kita kibarkan kemarin, kamu membuatku seperti sesosok manusia yang tidak ada harganya. Kamu membuatku agak sedikit kecewa, ya padamu pada kita. Nafsumu mengalahkan logikamu, sadarkah saat itu aku berkata "apa yang kita lakukan ini benar?". Dan kamu akhirnya termakan omonganmu sendiri, kamu membuatku merasakan jika kamu adalah satu satunya orang termunafik! Dulu, kamu menghargaiku sepenuh hati, bahkan jika aku menawarkan memberikan keuntungan yaa sebut dia benefits, kamu akan segera menjawab "tidak, itu enak di aku dong, aku ga ngehargain kamu sebagai cewe". Nyatanya lain, kejadian kemarin cukup membuat aku sadar apa yang kamu katakan hanya penenang sesaat. 

Kamu berubah, ya sekarang aku menyimpulkan kamu berubah, jeda itu membuatku tak mengenal kamu yang ku kenal dulu. Bukan kamu yang bisa membuatku jatuh cinta, kamu berbeda. Sikapmu acuh dan egois, keras, aku takut... Ketakutanku membuatku ragu melanjutkanya, aku lebih memilih berhenti. Kamu tau? Terakhir kalinya aku menuliskan tentangmu aku menangis sejadi jadinya, tapi sekarang setelah semua perbuatanmu dan perlakuanmu padaku sekarang, aku menyadari kamu bukan orang yang seperti dulu, bukan kamu yang selalu bisa membuat aku jatuh cinta setiap harinya, bukan kamu yang membuatku mengerti artinya ketulusan, dan bukan kamu yang menghargai pengorbanan, kamu berubah...

Ya kamu berubah...

Dan kini, aku memilih melepasmu. Keraguanku pada diriku yang membuat aku melepasmu. Aku membutuhkan kamukah dalam setiap hidupku? Apa aku membutuhkan kamu sekarang dan nanti? Bahkan selamanya? Apa ini perasaan yang tulus atau hanya sebuah rasa bersalah yang menyelimuti membuat aku menyesal meninggalkan kamu? Apa masih ada cintaku sebesar dulu untuk kamu? Apa rasa yang aku miliki sekuat dulu ketika bersamamu? 

Mungkin kini lebih tepatnya aku Memilih menunggu keadaan yang mungkin tak akan datang,aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang. Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan kelak.

“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” 

Ah! Pada akhirnya aku mengatakan itu dengan ikhlas. Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan cinta.

Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Aku tak mau menyalahkan keadaan lagi, Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. Kamu boleh caci aku karena kesalahanku yang sangat besar, Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi. Aku tak mungkin semena mena melewatkanmu, jika dulu kamu tak pernah melepas...

Dan biarkan pesan dalam botol ini tetap menjadi rahasia hati.

Bandung, 11 juni 2015 aku melepasmu.


Kamu itu lucu, seperti objek yang kuhilangkan tapi kurindukan

Kamu berputar-putar di situ saja. Dari sebuah padang ilalang, ke gurun yang begitu gersang. Tak puas, kamu berlari lagi, mencari lagi. Meninggalkan yang belum selesai. Akhirnya hanya mendapati diri kamu sendiri di tepian jurang.

Mencari yang lebih baik.

Sebuah kalimat yang aku percaya tidak akan ada ujungnya. Mencari yang lebih baik hanya akan membawamu ke perjalanan tiada akhir. Perjalanan penuh dengan ketidakpuasan. Rasa haus yang menyiksakan.

Aku paham, semua orang ingin sesuatu yang lebih baik. Akan tetapi, ada kalanya kamu harus berhenti, beristirahat, lalu berpikir, “Apakah aku sudah cukup jauh mencari? Atau bahkan terlalu jauh?”

Mencari yang lebih baik, berarti meninggalkan yang lebih buruk. Atau setidaknya, yang kamu anggap lebih buruk. Aku hanya ingin menyadarkan. Orang-orang yang kamu anggap tidak cukup baik dan kamu tinggalkan demi yang lebih baik itu yang justru lebih pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan itu pasti.

Karena orang-orang yang sembarang meninggalkan semata demi yang lebih baik, adalah orang yang tidak cukup baik.

Rasa lelah kadang terlambat hadir. Ia kadang muncul ketika semuanya sudah terlalu jauh dan terlalu penat karena tak kunjung mendapatkan yang lebih baik. Karena yang lebih baik itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sosok semu yang kamu ada-ada. Sosok nyatanya hanyalah dia yang dengan segala ke-kurang-baik-kannya, selalu ada untukmu. Tapi sayangnya kamu lewatkan itu.

Di saat itu, kamu harus menengok ke dalam. Dan tanyakan pada diri kamu sendiri, “Apa kamu sudah cukup baik untuk orang yang kamu sebut lebih baik?”

Jadi, ada baiknya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk layak jadi tempat singgah selamanya… bagi dia yang terbaik.

Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik, setidaknya dari sudut pandang mata hati kita sendiri. Dan semoga kita tepat waktu untuk merasa lelah mencari, dan mengistirahatkan hati di jiwa orang yang tepat, yang tulus dalam mengasihi.

07/07/15

Rumah


Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble.
Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh, bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi.

Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana?

Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis, semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama.

Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna, selalu ada tetesan-tetesan air mata keluar dari atapnya. Tapi juga banyak suara semilir gelak tawa dari jendelanya yang rapuh sesekali melewati sela antara daun telinga. Namun aku tak ingin meninggalkannya, aku tak akan meninggalkannya. Aku tak ingin rumah yang baru. Yang aku ingin hanya rumah ini, bersama kamu.

Kamu, kembalilah ke rumah. Tak inginkah kamu pulang? Aku mau pulang.