28/10/15

Aku lelah berlari

“Pernahkah kamu berlari dan terus berlari?

Kadang kita tak pernah menemukan lelah ketika berlari. Berlari (berusaha) meninggalkan kenyataan rasanya begitu menyenangkan sekaligus menakutkan, karena berkali-kali kenyataan jelas ada di depan kita.

Ketika rasa itu menghampiri benak dan pikiran, lama-kelamaan kamu akan menemukan kesia-siaan dalam sebuah “pelarian”. Semakin jauh kamu mencoba melarikan diri dari kenyataan, semakin dekat kenyataan denganmu.

Hingga akhirnya kelelahan menjadi kenyataan berikutnya yang menghampirimu. Ada sebuah pelajaran yang hampir kita lupakan setiap berlari. Kadang kita hanya terfokus pada seberapa cepat kita berlari dan seberapa jauh kita meninggalkan. Pernahkan kita berpikir kapan saatnya berjalan? Dan kapan waktu yang tepat untuk berhenti, mengistirahatkan diri hati ini?

Sayangnya kita sering mencoba berlari tanpa belajar berjalan terlebih dahulu, dan melupakan bagian terpenting, yaitu berhenti. Tak heran jika kamu terus terjatuh.”

27/10/15

Bintang itu Berbicara

Dia bilang ...

"Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis yang siaga menyadarkan bahwa semesta tak melulu sesuai dugaan"

"Aku menganggap diri ‘the man with the plan’, terlalu pemikir. Tapi kamu selalu mengingatkanku semuanya lebih indah jika mengalir"

Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.

"Aku terlalu takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini adalah yang dianugerahkan"

"Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan"

Kamu bilang, waktu paling berharga adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga.

Katamu, masa depan tak pernah pasti. Tapi yang pasti aku hanya ingin memastikanmu menjadi masa depanku.

Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu berarti juga mengingatkan. Dan sekali lagi, mari kita terkejut berdua, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya… 

Rebel

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang. Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.

Aku lebih percaya kepada hidup.

Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur. Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.

Kita, makhluk yang tak pandai membaca.

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicintai.

Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup dengan yang ada.

Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.

Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

 

Ternyata maaf, aku tidak bisa...

Aku tidak bisa untuk merelakanmu

Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku.

Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan.

Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang. Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.

Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”.

Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi bersama kamu. Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam. Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.

Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi. Mimpi yang pernah aku rusak sendiri.

Tetapi seperti yang selalu hidup ajarkan kepada aku, aku harus memperbaiki semuanya sendiri.

Itulah mengapa, aku memutuskan untuk tidak menyerah atas kamu.

Aku memilih untuk tidak merelakan kamu.

Jika aku ikut percaya seperti orang lain bahwa cinta tak harus memiliki, Mungkin memang kita tak bersama lagi.

Kapan aku bisa mewujudkan separuh mimpiku.

Kapan aku bisa menjadi rumah melalui tatapan lembut itu.

Kapan selimut itu datang melalui dekap hangat. 

Kapan akan menjadi separuh mimpiku.

Kapan kamu akan menjadi sekarangku, genggam tanganku. Tidak akan pernah aku lepaskanmu. Menghabiskan sisa hidupku, bersamamu. Semuanya baik-baik saja


17/10/15

Kamu tahu, aku itu pembunuh

Akulah bangsal kegelapan yang berpura-pura menjadi malam yang menyejukkan.
Membawamu pergi menelusuri bukit-bukit indah yang ku rakit dari gumpalan dendam.

Ingatkah kali pertama bertemunya kedua bola mata?
Kita bersikeras masa itu adalah racikan Tuhan paling sempurna.
Dimana kupu-kupu menari disekitaran tubuh kita, mengerlingkan sorot bahagia dalam pelupuk mata.

Mati sayang, rasa itu mati.
Setidaknya aku mengira demikian.
Sampai tiba saatnya wajahmu datang kembali di layaran sudut pandang.

Ternyata kamu masih hidup, atau setidaknya gentayangan di pikiranku tanpa aturan.
Ya ya ya…..aku kembali menghela nafas panjang…
kupanggil lagi engkau perlahan…

“Sayang, sini…aku akan membunuhmu. Jangan takut, kulakukan dengan rindu yang menggebu langsung menuju jaring nadimu