02/11/16

Jika Terlalu Rindu

Terlalu rindu seringkali menjelma hal-hal yang tidak biasa. Semisal tiba-tiba dihantui ketakutan akan kehilangan kamu yang berlebihan. Kalau sudah begini. Aku harus menenangkan diriku dengan lebih. Bahkan tak jarang, aku didatangi mimpi yang aneh. Yang membuatku menghela napas panjang saat terbangun. Sungguh, rindu kadang menjelma hal-hal yang menyeramkan. Namun, aku selalu ingin menenangkan diri. Aku paham, rindu yang tak terkendali bisa saja melukai hati. Bisa saja menjadi penyebab kesalahpahaman.  Itulah mengapa, saat aku merindukanmu, aku ingin mengatakan secepatnya. Karena dengan begitu, setidaknya, perasaanku bisa lebih tenang.  Meski rindu tak juga berkurang.

Jarak adalah satu-satunya hal yang harus kita kutuk. Namun apalah daya, kita tak pernah benar-benar bisa membuatnya seketika takluk. Aku tidak bisa berada di sampingmu saat ini juga. Saat rindu terasa semakin bergelora. Aku tak bisa menembus angin, lalu berdiri di sampingmu saat kau ingin. Kalau sudah rindu begini, aku hanya bisa menunggu dan memendam perasaanku sendiri. Dan rindu terasa semakin menyesakkan. Apalagi jika kau sibuk dengan duniamu. Kau sibuk dengan pekerjaanmu yang memang harus kau jalani pada jam tertentu. Mau tidak mau aku harus menerima. Aku tidak seharusnya menyalahkanmu. Itu bagian dari tuntutan hidupmu. Hanya saja rindu kadang membuat diri tak terkendali. 

Satu hal yang aku mengerti; saat rindu sudah terlalu menumpuk di dada ini, aku hanya perlu meyakini, di sana kau juga merasakan hal yang sama. Kita hanya perlu berdoa sampai saatnya kita punya waktu berjumpa. Untuk saat ini biarkan rindu menjelma menjadi doa-doa. Menjadi energi yang menumpuk di tubuh kita. Mengajari banyak hal tentang bagaimana tabah dalam hal mencintai. Dengan begitu, kita bisa merasa lebih tenang. Percayalah, segala yang dijalani dengan tabah akan membawa kita kepada kemenangan yang indah. Tetap jaga hatimu di sana, kujaga rinduku padamu seutuhnya. 

Tetaplah mengadu pada Tuhan, jika kita sudah merasa tidak tahan untuk menunda pertemuan. Sebab semua yang terasa tak akan pernah ada jika tak ada yang mengaturnya. Kita serahkan semua kepada yang mahacinta. Hanya itu yang bisa kita lakukan, saat  jarak tak bisa kita bunuh seketika. Aku ingin kau mengerti, di sini aku juga sedang berjuang sepenuh hati. Sama seperti aku percaya; di sana kau juga sedang berjuang untuk mempersiapkan segala rencana yang akan kita jalani nanti. Kalau rindu datang lagi kepada kita, menumpuk dan membuat kita merasa hampir gila. Berserahlah kepada yang mahacinta, sebab tiada cinta tanpa keinginan-nya.

31/10/16

Seseorang yang Mencemaskanmu

Sejak sore kemarin debar dadaku terasa tak menentu. Aku merasa cemas namun tak mengerti apa yang sedang kucemaskan. Andai bisa memilih suasana hati, aku ingin merasakan hal yang tenang saja. Bukan merasakan perihal seperti ini. Di dalam pikiranku tak pernah lepas dari pertanyaan bagaimana keadaanmu di  sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah semuanya masih menjadi seperti seharusnya? Aku benar-benar tidak bisa tenang, meski aku telah mencoba untuk tidak peduli. Namun perasaan di hati tak bisa kubohongi. Aku seolah tak mampu mengendalikan diriku.

Namun aku sadar kau sedang berusaha menjauhiku. Kau sedang belajar melupakan hal-hal yang selalu kita ingat. Kau sedang belajar membunuh perasaan yang tetap bertahan hidup di hatimu. Kau sedang mengkhianati dirimu sendiri. Mencoba menyangkal hal-hal yang masih membenam di dadamu. Aku tahu siapa kamu, aku merasakan sedih yang menggelayuti matamu. Kau mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang kau anggap balas jasa. Padahal kau sebenarnya tahu balas jasa tidak selalu harus begitu. Maafkan aku yang juga tak pernah bisa melupakanmu. Seseorang yang masih saja mencemaskan keadaanmu.

Aku bahkan tak pernah bisa merelakanmu. Akulah seseorang yang tak ikhlas kau bersama orang lain. Sebab aku tahu perasaanmu dan perasaanku bukan hal yang harus dikorbankan. Namun, kau terlalu cepat menyerah. Katamu, kau tak sekuat aku menghadapi hidup. Semantara kau belum menjalani sepenuhnya bersamaku. Bagaimana mungkin kau menyangkal hal-hal yang dulu kau percaya. Aku mengenal siapa kamu. Kau bukan seseorang yang lemah seperti itu. Hanya saja beberapa hal di dunia ini memang terlihat menakutkan, dan kau mungkin ketakutan akan hal itu.

Aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, kekasih. Rasa sedih ini biarlah kutenangkan dengan segala hal pedih. Aku hanya sedang mencemaskanmu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan kau menjadi orang yang tidak kucintai lagi. Sudah terlalu dalam perasaan yang kita tanam. Sudah tumbuh dan rimbun hingga aku tak tahu cara yang baik untuk mencabutnya. Aku tak yakin bisa menenangkan diri jika kau benar-benar lepas pergi. Andai bisa memilih, aku lebih suka berdebat denganmu. Perihal siapa yang benar dan salah di antara kita. Aku sungguh tidak suka tidak mendapati  apa pun kabarmu. Semuanya terasa lebih menyakitkan, saat kau mencoba benar-benar menghilang. Sementara kita tahu, kau dan aku masih saling menyimpan diri dalam ruang hati. Percuma kita saling bunuh, jika setiap tusuk pisau dan angin di dada selalu mampu membuat rindu baru tumbuh.