White liar or Hard truth?
Kepercayaan itu mahal harganya, dan justru banyak manusia yang menyadarinya setelah menyianyiakannya
Ada yang mudah, ada yang susah.
Ada yang butuh waktu, ada yang bahkan tak berpikir panjang, namun ada yang butuh berjuta pertimbangan,
Ada yang barangkali bermula dari satu, dua, bahkan berpuluh penolakan, namun ada pula yang bermula dari sebuah penerimaan.
Ada yang memilih untuk mengungkapkan dalam perkataan, ada yang memilih untuk beraksi dalam tindakan.
Namun sejauh ini, yang aku percaya, keduanya pasti memuarakannya dalam doa-doa yang dipanjatkan.
Satu pelajaran penting dalam kehidupan apalagi akan berumah tangga adalah tentang kepercayaan kita satu sama lain terhadap pasangan. Tidak ada yang bisa menjamin sekalipun kamu pernah mendengar bahwa banyak pasangan yang sudah mengenal bertahun-tahun, bahkan memulainya dengan pacaran, namun tak sedikit yang berakhir dengan ketidakpercayaan satu sama lain.
Terlebih kita, yang barangkali baru mengenal secara intens baru baru ini. Dari hal-hal kecil Hingga hal-hal besar tentang visi, mimpi, tujuan besar yang tentu saja semua bermula dari kepercayaan satu sama lain yang harus senantiasa ditumbuhkan.
Sebagai seorang yang berjiwa ekstrovert, mungkin bagiku amat mudah mempercayainya, namun barangkali berbeda ketika aku memang sangat memandang kejujuran sebagai basic manner maka sejak saat itu aku beranggapan bahwa kelak sekalipun ada seseorang yang menggenggam tanganku dalam ikatan suci pernikahan, maka meyakinkannya serta mencintainya adalah perjuangan yang takkan pernah berhenti sepanjang kehidupanku, karena aku sulit percaya pada manusia terlebih ketika sudah dikecewakan.
“Seorang lelaki mampu memenangkan perasaan perempuan dengan kesabarannya, sebagaimana seorang perempuan yang mampu memenangkan perasaan laki-laki dengan menghapus rasa malunya”
- Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta
Pesan di atas akan selalu menjadi pengingat agar kelak aku menjadi pribadi yang sabar. Terlebih jika ingat kisah didalamnya
Maka benar barangkali jika ada pepatah mengatakan bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Mahal mendapatkannya, butuh pengorbanan yang tak sedikit, butuh hati yang senantiasa diluaskan dan dilapangkan, butuh kesabaran yang senantiasa harus dimunajatkan agar tidak terbersit sedikit pun kata-kata bahkan sekedar perasaan suudzon terhadap sesama. Namun akan sulit ketika memang sudah dikecewakan. Aku tidak akan pernah sama memandangnya lagi. Menurutku sebaik apapun dirinya, ketika berbohong, aku tidak akan bisa memandangnya dengan sama. Kepercayaan pula yang katanya jika dikhianati akan menimbulkan luka yang mendalam, kepercayaan pula yang katanya saat seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, butuh waktu yang tak sedikit untuk sekedar memaafkan bahkan terkadang sulit untuk kembali menerima seperti sedia kala.
Menumbuhkan kepercayaan memang butuh perjuangan, terlebih bagi dua orang yang masih baru terrlebih bagi seorang dengan dua kepribadian yang berbeda
Tapi katanya, dalam perjuangan menumbuhkan kepercayaan, ada percikan-percikan pahala yang Dia hadirkan untuk ditampung sedikti demi sedikit. Ada lapis-lapis keberkahan, yang kian digali memang kian susah, namun di dalamnya ada harta karun yang menantinya.
Sejenak rehat di tengah deadline yang mengejar
