Proses Jatuh Cinta

Dear Lelakiku...

Selamat pagi, 

Alih-alih surat ini baru kau baca setelah bangun tidur di pagi hari. Kalau boleh aku ramal, pasti kamu terbangun dengan senyum yang mengembang. Setelah semalam tadi kamu memimpikan aku dalam tidurmu. Hehe...

Jangan lupa sarapan ya, atau minum satu atau dua teguk kopi agar pagimu menyenangkan dan  yang paling penting, ingatlah bahwa ada aku yang menunggu kabar pagimu. 

Selamat siang, sayangku...

Alih-alih tukang pos baru datang mengantar surat ini di siang hari menuju kantormu. Oh ia, kalau boleh tahu menu apa yang kamu makan untuk siang ini? Jangan keterusan makan gorengan ya. Nggak baik buat kesehatanmu. Bukan tanpa maksud aku melarangmu. Tapi karena memang aku hanya sedikit khawatir. Intinya aku tak mau melihatmu sakit.

Selamat sore, kekasihku...

Pasti jam segini, kamu sedang bersiap-siap pulang kerja. Setelah tugas dan laporan bertubi-tubi menyerang. Jangan buru-buru pulang ya, aku khawatir ada barangmu yang tertinggal di kantor. Hati-hati di jalannya, jangan lupa untuk selalu mengabariku kalau kamu tidak langsung pulang. Oh ia, jaga kesehatan jangan lupa jas hujanmu untuk selalu kamu bawa akhir-akhir ini sering turun hujan. Jangan lupa memberi kabar jika kau sudah tiba di rumah walaupun aku sudah terlelap.

Tahu tidak, dari dulu aku suka menulis. Rasa-rasanya ingin ku tulis beberapa paragraf untukmu. Ohya, Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Maafkan aku, jika aku tidak bisa seperhatian pacar-pacarmu dulu, atau mungkin aku masih jauh dari kekasih idaman yang selalu engkau inginkan. Maafkan aku, jika aku pernah lupa mengabarimu. Terima kasih atas kesediaanmu singgah di hatiku. Semoga kamu tetap nyaman selalu.

Hari itu saat pertama kalinya aku bertemu kamu, aku sadar akan sesuatu, rekam tawamu dimemoriku bukan sekedar ingatan yang lalu lalang, hari itu tawamu menyeruak. Kamu berhasil masuk ke memoriku, menanamkan sebuah karakter yang bisa aku bilang membuatku sedikit terkesan, aku sadar kamu adalah seseorang yang mngutamakan keluarga. Lalu akhirnya kamu dengan lancangnya membuka dirimu masuk, dan aku mengenalmu lebih jauh. Ketika itu kamu bercerita tentang kematian ayahmu, aku sadar dan tahu satu hal. Kita sama...

Selang waktu berganti, saat aku sudah tidak bersamanya, kamu datang dengan sosok “kakak” yang selalu mendengarkan keluhku dan ceritaku, saat itu tepat ketika sedang puasa aku pertama kalinya mengenal kamu tanpa figure kakak, aku selalu menyukai pembicaraan kita hingga tengah malam sampai waktunya sahur. Hari itu rekam jejakmu masuk ke bagian tersembunyi disudut hatiku. Tiap kali kelopak matamu menyipit saat kamu tertawa melemahkan sebagian aku yang seketika mengunci fokusku, aku sadar aku telah kalah...

Dari situ pula aku menyadari bahwa hati kecilku mulai gelisah menaruh harap, harap yang tadinya tak pernah aku rasa akan kujatuhkan padamu, kemudian berubah menjadi resah, manusia itu begitu lucu ya menakar rasa pada intensitas pertemuan, alpa bahwa rindu hanya akan datang pada jeda, dan aku diam-diam berdo’a, satu dua waktu jeda diantara kita membuat rindu. Tapi kemudian aku juga sadar, menaruh hati pada manusia seringkali tak baik, menumpuk harap, rindu, gelisah menjadi satu, aku mulai takut...

Jadi sejak hari itu, ku titipkan semua pada semesta, untuk semua rasa yang bermula dari semua ketidaksengajaan yang membuatku memperhatikanmu, hingga harapan kecil atas perhatian dan caramu bersikap. Barangkali jika bukan kamu, akan ada yang sepertimu, sebab sejujurnya aku memang mengaggumimu dari awal.

Dan muncul monolog sunyi disela waktu saat itu, perasaan bukan seperti uap teh panas yang menghilang begitu saja, ia seperti pelangi yang datang seusai hujan, datang setelah sebab akibat, seperti detak jantungku yang berdetak jauh lebih cepat seketika kamu yang sudah berada tepat menangkap perasaanku, kamu kala itu seperti manawarkan secangkir kopi dengan campuran rum, mendekap sempurna, membuat bayangan dititik yang sama.

Kalau boleh aku bicara aku menghela nafas kala itu, mengalihkan perhatian pada lalu lalang ketika saat itu tepat kamu duduk. Siang itu, aku berterimakasih pada lalu lalang manusia karenannya bisa menyembunyikan gelisah detak jantung, aku rasa keinginan logis untuk berhenti berharap tidak mesti sejalan dengan isyarat hati. Lantas, aku memilih untuk menyerah, pada tiap degup jantung karenamu. Aku diam-diam menikmati semua momen yang ada, memandangi punggungmu, caramu berbicara, caramu menghadapi situasi yang kamu pun asing dengan hal itu, aku paham saat itu, kamu sosok manusia dengan seribu masalah yang kamu simpan rapih di brangkas hidupmu, kamu adalah lelaki yang pandai menyembunyikan kegelisahan dengan sebuah lelucon, tapi aku sadar tentang persembunyianmu, tatapanmu yang tertangkap mata atau tawa kecilmu disela-sela obrolan...

Dan saat itu aku juga menyerah pada do’a kecil yang ku layangkan, tentang harapan-yang kembali terang setelah redup yang sempat aku yakini apakah mampu membuat langit terang kembali, tentang keinginan dan rahasia kecil, bahwa jika alam semesta berkehendak, sejujurnya aku sedang merasa cukup dengan segala hubungan yang selama ini aku lewati. Tapi kamu kemudian menyerah dan aku jatuh cinta dengan cara paling sederhana.

Malam itu, diantara lampu yang memecah hening malam, diantara tatapan-tatapan dikeramaian yang bukan dilayangkan pada kita. Diantara semua itu, hanya tatapan kedua bola matamu yang bisa aku tangkap, keramaian yang hening seketika ditelingaku, aku merasa seolah waktu hanya membiarkan aku berputar lebih lama fokus, hanya kamu. Aku merasa dicurangi oleh alam semesta. Saat itu sebuah kebetulan disuatu malam menuntunku untuk tidak sengaja memperhatikanmu, lalu terpesona pada kebiasaan kecilmu, aku sempurna tidak bisa mengeluarkan kamu dari kepalaku. Aku merasa tidak adil. Sejak itu, aku mana bisa melihatmu secara biasa saja? Aku cemas kalau kalau diammu membuat banyak tanya.Inilah yang aku takutkan, jatuh cinta memang seringkali membuatmu menaruh harap, tertipu ilusi yang kau cipta sendiri, keinginan untuk memiliki. Aku mengutuk perasaanku sendiri, mengaggumimu terlalu berbahaya tapi biar kuresapi dengan dalam.

Jatuh cinta harusnya menjadi proses yang panjang, terlebih memilih seseorang yang ingin kamu jadikan teman perjalanan. Sesab, ada hati yang akan kamu pertaruhkan, hati yang bisa patah kapan saja, rapuh lalu pecah menjadi kepingan yang akan berserakan. Padamu ingin kuperlihatkan sisi terbaikku, tapi aku sadar hakmu untuk mengetahui sisi lemahku. Aku ingin kamu memilihku karena sudah tahu kedua sisi, bukan sekedar ‘image’ tentangku yang kamu cintai, agar nanti aku tidak menjadi pilihan yang kamu sesali...


Postingan Populer