Childfree

Menurutku, ada dua tipe orang tua di dunia ini:

1. Orang tua yang bilang bahagia punya anak, tapi juga berkeluh kesah bahwa membesarkan anak itu sebuah pekerjaan yang melelahkan dan stressful.

2. Orang tua yang bilang bahagia punya anak, dan merasa semua prosesnya menyenangkan, happy dan gak stress, suka cita merawat anak, malah pengen lagi.

Di masyarakat kita yang beranggapan bahwa memiliki anak adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan prestasi seorang manusia, maka orang akan berlomba-lomba menunjukkan syukurnya dan betapa bahagianya merawat anak. Meskipun capek, lelah, mahal, gak ada waktu buat diri sendiri, kualitas hub dengan pasangan menurun, tapi mereka tidak bisa mengeluh. Karena kalau terdengar mengeluh sedikit saja, akan dicap sebagai orang yang tidak bersyukur dan tidak sayang anak. Sebuah cap yang mengerikan bagi para orang tua. Lagi pula, punya anak kan keputusan mereka sendiri. Jadi wajar kalau mereka menunjukkan pada orang-orang bahwa itu adalah pilihan tepat yang membuat mereka bahagia. Kalau gak bahagia, malu dong. Capek-capek ngurus anak, masa gak bahagia?

Mulai dari masa kehamilan 9 bulan, persalinan, merawat bayi dan membesarkan anak bertahun-tahun, itu semua butuh usaha, waktu, kesabaran, tenaga, dan biaya yang sangat besar. Merepotkan, melelahkan, dan juga mahal. It's hard work and dedication, it's no picnic in the park. Memang bahagia sih main bareng anak, melihat anak tertawa, melihat anak tumbuh, tapi harga yang harus dibayar untuk itu semua tidak murah. Kamu harus bayar dengan mengorbankan karir dan impian, waktu pribadi, hobi dan kesenangan, keintiman dengan pasangan, dan banyak hal lainnya. Suka tidak suka, ini fakta yang semua orang harus terima. Don't tell me it's fun and happy, because it's not.

Jadi orang tua yang berdedikasi memang merepotkan dan melelahkan. Itu sebabnya saya sangat menghargai papa-mama saya, karena membesarkan saya tidaklah mudah. Orang tua yang baik selalu khawatir sama anaknya. Anaknya sudah makan belum, sehat nggak, masa depannya gimana, biaya untuk kuliah gimana, kerjaannya gimana, mau beliin rumah buat anak gimana caranya, dll. Papa saya selalu khawatir, bahkan sampai saya sudah dewasa. Being a good parent means you're going to worry constantly, all your life!

Hal pertama yang jadi korban ketika ada anak adalah: kualitas hubungan dengan pasangan. 

Seluruh waktu, tenaga dan pikiran istri, difokuskan untuk anaknya. Suaminya gak kebagian lagi, cuma dapet sisa-sisa perhatian sang istri. Sejak anak lahir, gak pernah ngedate lagi, gak pernah ngobrol heart to heart lagi, gak pernah mesra-mesraan lagi, gak pernah make love lagi, lama-lama suami dan istri cuma jadi teman serumah yang kerja bareng membesarkan anak. Saya bukan asal ngomong, ini sudah ada studinya. Kehadiran anak membuat kualitas hubungan suami istri jadi menurun. This is fact. Makanya penting untuk membahas masalah ini SEBELUM punya anak.

Nah, kalau kita sudah sepakat dengan poin tsb, saya bisa masuk ke poin berikutnya: 

Kalau membesarkan anak butuh pengorbanan besar, kerja keras dan dedikasi tinggi, maka berarti TIDAK SEMUA ORANG BISA MELAKUKANNYA DENGAN BAIK. Ada banyak orang yang tidak punya cukup dedikasi dan kesabaran, waktu, tenaga dan uang untuk membesarkan anak. Orang-orang seperti ini yang nantinya akan jadi toxic parents yang menyakiti hati anaknya dan meninggalkan trauma. Persis seperti yang saya pernah bahas di highlight ortu vs anak.

Buat orang-orang yang mengerti bahwa dirinya kurang sabar, kurang dedikasi, tidak mau kerja keras dan susah payah, maka memutuskan untuk tidak punya anak (childfree) adalah keputusan ng TEPAT. ribet, tidak mau Mereka orang yang jujur dengan diri mereka sendiri dan tidak mau ada anak yang menjadi korban keegoisan mereka. Kejujuran ini yang jarang dimiliki oleh para orang tua. Jadi justru mereka ini harusnya didukung, bukannya malah dicap aneh, dicemooh, atau malah disuruh punya anak! Masuk akal? Anggukan kepala kamu 3x kalau masuk akal.

Banyak orang memilih childfree bukan karena mereka egois, tapi justru karena mereka tidak egois. Mereka menyadari bahwa menjadi orang tua yang baik itu tanggung jawab yang besar. Ketika melahirkan anak, nasib seorang anak manusia ada di tangan kita. Kalau kita tidak bisa mendedikasikan diri dan memberikan yang terbaik, tapi memaksakan diri untuk punya anak, bukankah itu adalah sebuah kekejian? Orang yang memilih childfree berani mengakui bahwa mereka tidak punya dedikasi yang dibutuhkan, tidak bisa memberikan yang terbaik, karenanya mereka tidak ingin mengecewakan dan menyakiti hati seorang anak bila dilahirkan. Apakah para kamu, wahai orang tua yang punya anak, bisa jujur seperti mereka, mengakui keterbatasan dan kekurangan diri?

Mau punya anak atau tidak, tentu itu semua pilihan masing-masing individu dan tidak ada orang yang berhak melarang.
Tapi sebelum mengambil keputusan sebaiknya merenungi 2 hal ini terlebih dahulu:

1. Apakah saya mengerti dan siap dengan semua konsekuensinya? Kalau memilih punya anak, berarti konsekuensinya adalah mengorbankan diri dan kebahagiaan pribadi, mendedikasikan diri untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Siap mental dan finansial, membesarkan anak itu biayanya besar. Ingat, kehadiran anak akan mengganggu kualitas hubungan dengan pasangan, karena itu, selain kerja keras merawat anak, kamu juga harus kerja keras untuk merawat keharmonisan hubungan dengan pasangan. Kerja keras dua kali lipat. Kalau memilih tidak punya anak, berarti konsekuensinya adalah dicemooh oleh lingkungan, dicap aneh, dsb, lalu bisa jadi nanti akan menyesal, karena kalau berubah pikiran sudah terlambat karena sudah tua tidak bisa punya anak lagi.

2. Apakah saya sudah jujur pada diri sendiri dan mengerti kelebihan dan kekurangan saya yang sebenarnya? Sebelum memutuskan punya anak, kamu harus memahami diri kamu dulu. Apa saja sifat buruk yang kamu miliki? Apakah kamu emosian? Apakah kamu suka kasar? Apakah kamu cuek? Egois? Sulit komunikasi? Ngambekan? Control freak? Pemalas? Insecure? Suka bohong? Sombong? Coba kamu tulis di kertas, lalu pikirkan langkah untuk memperbaikinya. Ini penting banget. Karena sifat buruk kamu akan merusak dan menyakiti anak kamu.Bukan cuma itu, sifat buruk kamu juga akan nempel dan ditiru oleh anak kamu dan dibawa sampai dewasa. Kalau kamu tidak mau memperbaiki diri, efeknya mengerikan.


Memang ribet. Kalau kamu setuju pekerjaan menjadi orang tua adalah hal yang serius dan butuh dedikasi, maka persiapannya jadi ribet. Mau kerja saja ribet kok, harus kirim CV, interview, psikotes, dll, masa jadi orang tua yang tanggung jawabnya lebih besar maunya yang gampang saja? Justru orang yang main gampang saja punya anak, tinggal bikin lalu brojol, tanpa persiapan apapun, adalah orang yang meremehkan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Kalau orang sudah meremehkan dari awal, kira-kira akan melakukan tugasnya dengan baik atau tidak? Jawab sendiri deh.

Tentu saja semua keribetan ini akan jadi percuma jika kamu kamu saja yang mau, pasangan sementara kamu tidak mau ikut kerja sama.  akan capek karena kerja keras ngurus anak. Makanya penting bagi pasangan untuk mendapat visi yang sama dan memahami hubungan kerja sama.  Kalau hubungan kamu dan pasangan solid kuat harmonis, maka membesarkan anak akan jadi lebih mudah dan menyenangkan.  Jika orang tuanya mesra dan bahagia, anak sudah pasti akan tumbuh bahagia juga.  Cara membesarkan anak yang terbaik adalah dengan orang tua yang harmonis dan penuh cinta.

"Ah, omong kosong banget lo, Lo kan gak punya anak, ngerti apa soal membesarkan anak?" 
Saya memang gak punya anak, tapi saya kan sampai sekarang masih jadi anak orang tua saya.  Jadi saya mengerti apa yang dibutuhkan anak.  Kamu kan juga pemah jadi anak, coba kamu perbaiki apa saja kekurangan orang tua kamu yang memengaruhi diri kamu sampai dewasa. 
Saya yakin kamu bisa langsung daftar bikin yang panjang.  Selain itu, saya juga sudah banyak menerima klien konsultasi yang ditolak dan hal itu meningkatkan perkembangan.  Kasian kan anak yang gak harus hidup dalam rumah yang tidak harmonis, menantang banyak trauma, kekecewaan dan kepahitan yang sudah dialaminya


Postingan Populer