Wanita dan Pernikahan

Banyak wanita ingin cepat menikah karena ingin segera keluar dari rumah, udah gak tahan tinggal bersama orang tuanya yang rese.
Ingin melepaskan diri dari kekangan orang tua
Nah tapi ironisnya, setelah menikah malah dikekang oleh suami yang posesif.
Ini langkah yang bodoh, ingin keluar dari penjara tapi kok malah masuk ke penjara baru

Kalau mau lepas dari belenggu keegoisan orang tua, caranya ya dengan JADI MANDIRI, bukan dengan MENIKAH!
Cari kerja yang bagus, keluar dari rumah, tinggal sendiri, urus diri sendiri, biaya diri sendiri, ambil semua keputusan sendiri, jalani hidup kamu sendiri. Berani? Kalau kamu sampai harus pakai alasan menikah cuma untuk kabur dari rumah, tandanya kamu bocah penakut yang gak berani mandiri. Itu sebabnya kenapa orang tua kamu akan mendominasi hidup kamu selamanya. Karena kamu gak bisa jadi dewasa. Bocah.

Masyarakat kita hobi banget buru-buru nikah. Baru kenal seminggu/sebulan sudah ngajak nikah. Ngebet banget kayak orang mules kebelet mau boker. Adagium yang melekat di kepala banyak orang adalah:
"Kalo cinta, nikahin dong!" Yakin?
Syarat yang paling utama dalam menikah bukanlah cinta, melainkan kesiapan mental, emosional dan finansial
Dan yang namanya persiapan itu butuh waktu. Persiapan ujian sekolah aja, butuh waktu buat belajar. Persiapan traveling, butuh waktu buat packing. Persiapan buka bisnis, butuh waktu buat planning. Apalagi persiapan menikah, butuh waktu untuk saling mengenal dan adaptasi. Ini penting, jangan diremehkan.

Katanya pacaran dulu sebelum menikah itu penting, malah harus menurut saya itu dilakukan dengan tanggung jawab penuh. Itu proses adaptasi dan saling mengenal. Kalo pacaran dulu dan dia ternyata memang baik, ya tinggal menikah. Tidak rugi , toh kamu juga menikmati pacarannya. Kalo pacaran dulu dan ternyata banyak konflik, ya jangan nikah. Memang rugi waktu dan emosi, tapi jauh lebih baik daripada bercerai setelah menikah. Logika sederhana kok. Kalo langsung nikah, gak pake pacaran, lalu setelahnya baru ketauan ternyata doi orangnya gak baik atau kepribadian kalian gak cocok, gimana? Dijamin stress.

Ada contoh kasus nyata yang pernah akutemui, seorang wanita konsultasi sama aku, mengenai masalah pernikahannya. Mereka menikah tanpa pacaran. 
Cowoknya nice guy alim tapi cupu gak menarik. Dari awal si cewek sebenernya gak gitu suka, tapi dia pikir: "Ah, gapapa cowok gak keren, yang penting baik dan agamanya bagus, nanti juga cinta akan tumbuh." 
Menikahlah si cewek tanpa rasa suka, cinta, dan penjajakan, hanya bermodalkan "yang penting agamanya bagus" Tapi rasa tertarik itu hal yg tidak bisa dipaksakan, kamu hanya akan tertarik pada sesuatu yang memang menarik.

Selain agamanya yang bagus, si cowok gak punya hal lain lagi yang menarik. 
Penampilan lusuh, kuper pendiam, kaku, garing, karir pun biasa aja. Selama setahun menikah dan tinggal bersama, si cewek berusaha untuk menimbulkan rasa cinta, tapi hati gak bisa bohong. Selama setahun mereka menikah, hanya 1x mereka berhubungan seks. Cuma pada malam pertama saja, setelah itu si istri gak pernah mau disentuh lagi. Setiap kali dideketin suaminya, dia kabur menghindar dan banyak alasan. Akhirnya si istri datang ke saya untuk konsultasi dan saya minta dia ajak suaminya. Pas saya liat suaminya, saya langsung ngerti. Wanita manapun akan sulit bergairah melihat cowok ini.
Lama gada kabar dari mereka, saya pikir semua lancar dan berjalan sesuai harapan. Tapi memang mengubah diri bukanlah hal yang mudah. Beberapa bulan kemudian tiba-tiba istrinya laporan pada saya kalau dia mau menceraikan suaminya. Loh kenapa? 
Si istri cerita bahwa perubahan suaminya hanya bertahan sebentar saja, kemeja dan celana jeans-nya saja sudah gak pernah dipake lagi. Suaminya merasa gak nyaman jadi keren, merasa itu bukan dirinya, merasa berpura-pura. Jadi dia balik lagi ke dirinya yg lama. Balik lagi pakai kaos belel dan celana gombrong. Karena memang sejak awal si istri gak terlalu suka, melihat sikap suami yang begini, bikin dia jadi balik ilfeel. Disentuh suaminya pun nggak mau, kalo suaminya pengen meluk dia kabur, risih  sama suami sendiri. Bayangin!

Akhirnya si istri memutuskan untuk bercerai. Dia bilang dia nggak menyesal, karena ini sudah jadi pelajaran penting buat dia. Sedih dengernya. Saya kasian sama suaminya, karena sebenernya dia nggak salah juga. Tapi realita gak pandang bulu. Apakah salah suaminya yang gak bisa jadi cowok menarik di mata istri? Atau salah istrinya yg gak bisa hargai kebaikan suami? 
Keduanya punya porsi kesalahan masing-masing, tapi 1 kesalahan mereka yang paling fatal adalah: langsung nikah tanpa ada masa kecocokan dan proses saling mengenal. 
Menikah modal nekat. Kalau seandainya mereka pacaran dulu, masalah seperti ini sudah bisa ketahuan sebelum menikah. Kalau memang gak cocok, mereka bisa berpisah tanpa harus bercerai.

Pacaran itu proses penting untuk saling mengenal kepribadian masing-masing dan menjajaki kecocokan. Proses saling mengenal itu maksudnya bukan tau dia hobinya apa, makanan kesukaan atau film favoritnya, dsb. Itu mah liat profile IG aja cari. 
Proses saling mengenal itu maksudnya saling tau sifat terburuk masing-masing, khususnya ketika sedang menghadapi konflik.
Apa yang akan dia lakukan kalo lagi bertengkar, berbeda pendapat, prinsip, dan keinginan? Diem? Ngambek? Mukul? Memaki? Membentak? Keluar kata-kata kasar? Kalau kamu gimana ketika lagi bertengkar? Ngeblock whatsapp? Ngilang dan nyuekin berhari-hari? Nyindir di sosial media? Nangis? Menyudutkan? INI SEMUA BISA KETAUAN KALAU SALING KENAL.

Ada checklist yang panjang yang harus kamu centang sebelum menikah. Kalau buru-buru menikah, kamu gak sempat menyelesaikan checklist tsb. Kamu jadi gak tau apakah sebenamya kalian cocok atau tidak dan mengambil keputusan menikah cuma berdasarkan feeling, bukan fakta. 
Kamu jadi seperti orang berjudi: kalau cocok ya bagus, gak cocok ya mampus. 

Sebelum menikah harus tau dulu semua sifat buruk dia, bukannya menikah dulu terus baru ketauan temyata dia punya segudang sifat buruk yang bikin kamu stress dan gak tahan.

Menikah gak pake pacaran tuh kayak hire karyawan langsung tanpa proses screening, setelah kerja berapa lama baru dimintain CV. Terus kaget ternyata CV-nya gak qualified dan track record-nya buruk. Kan tolol! 

Sedikit klarifikasi: kebetulan saja contoh kasus yang saya ceritakan tadi latar belakangnya menikah karena alasan agama. Tapi intinya bukan di situ. Ini bukan tentang agama. Banyak alasan orang langsung nekat menikah tanpa pacaran: desakan ortu, faktor umur, kelamaan jomblo, dsb. 
Agama hanya salah satu alasan saja. Jadi berapa lama harus pacaran sebelum menikah? Tergantung Tergantung apa? Ya tergantung checklist tadi, sudah kecentang semua belum hal-hal yang pentingnya? Kalo sudah, ya silakan Biasanya 2-3 tahun sudah cukup untuk mencentang checklist tsb. Itu rentang waktu yang aku sarankan.

Apa saja daftar periksa yang harus diputar?  Misal batasan selingkuh, peraturan dan kesepakatan, pembagian waktu, penghargaan dan hukuman, tujuan jangka pendek & jangka panjang, dsb.

Postingan Populer