Takut Tambah Dewasa

 Beranjak dewasa, diri akan dihadapkan untuk memilih dan dituntut untuk bertanggungjawab atas pilihan tersebut. terkadang akan dihadapkan pada situasi dimana tidak ada pilihan untuk memilih selain menjalaninya. Barangkali juga, beberapa orang akan membenci fase di mana ia sadar bahwa ia ternyata sendirian dan tidak punya pilihan untuk mengandalkan siapapun selain dirinya sendiri. Karena perlu kamu ketahui, hidup ini adalah pilihan. bagiku menjadi manusia yang berani memilih tanpa menyesali apapun pilihannya adalah cara untuk bertanggungjawab atas diri sendiri.

Menjadi dewasa ternyata ga mudah. Banyak problem, banyak beban, banyak derita, yang kadang ga dikira kedatangannya. I feel it, dewasa itu ga mudah. Ini baru permulaan. Entah, aku selalu mikir kalo semua hal berat sekalipun yang kita pikirin mustahil untuk selesai pun pada akhirnya bisa selesai. Tenang, ambil pembelajaran di setiap halnya. 

Jadi, dewasa itu tentang menerima dan bisa berdamai dengan keadaan yang kita alami. Karena akan semakin dihadapkan pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Mau kembali seperti dulu lagi, itu ga mungkin. Mau kesel, marah, itu juga ga mempan. Malah bikin cape sendiri. jalan satu-satunya, yaudah dijalanin aja.
Jadi dewasa itu bukan tuntutan, tetapi tentang pengikhlasan. Menjadi dewasa, kita sejujurnya perlu pengendalian diri terlebih pada emosi. Kita ga di tuntut. Namun perlu agar nanti saat menua tidak ada sesal pada masa dewasa. Menjadi dewasa, kita lebih fokus pada respon kita saat menghadapi masalah. Kita memang perlu memilah di saat itu, dihadapkan dengan masalah tetapi mampu menyelesaikan dengan tenang. Menjadi dewasa, aku pikir kita memang perlu memperhatikan 3 hal; berterima kasih, memaafkan dan meminta maaf. 

Berterima kasih menunjukkan bentuk menghargai yang kadang dilupa banyak orang. Mungkin karena manusia semakin egois sekarang. Memaafkan, juga bukan perkara mudah. Memaafkan justru membawa kita pada sebuah bentuk dari keikhlasan. Kadang hanya ucapan aja namun pada hati justru berbanding terbalik. Terakhir, Meminta maaf. Tapi banyaknya manusia egois sekarang hingga kata maaf jadi jarang untuk diutarakan. Tidak ada pertentangan yang bisa dilupa tanpa penutup maaf dan terima kasih. Mungkin bisa di lupa, bisa lega, namun meminta maaf secara terang-terangan bisa memberikan kelegaan hati, perasaan itu justru lebih indah. Maaf juga perihal yang telah menyakitimu, sesakit apapun yang kamu rasakan, setidakinginnya kamu merasakan, kamu hanya perlu kuat menghadapinya. Kamu hanya perlu yakin untuk melaluinya, karena semua yang kamu hadapi akan berlalu. Sebuah masalah ga bakalan stuck disitu.

Menjadi dewasa, kita hanya butuh kuat. Walaupun, menjadi dewasa artinya kita menyendiri dan akhirnya lebih egois. Kita fokus pada diri kita sendiri, juga pada respon diri sendiri kepada orang lain. Kalau ada yang ingin menyakiti, itu urusan mereka. Disakitin, yaudah. Itu hak mereka. Hak kamu adalah untuk merasa tidak disakitin. Makanya, untuk apapun itu, kamu perlu tenang dan memperhatikan emosi. Karena ego, sangat dekat dengan yang namanya hati. Jadi dewasa, juga bukan perihal yang singkat. Akan menjadi perjalanan panjang. Jadi, berusahalah untuk berbahagia dengan membahagiakan diri sendiri. Buat aku pribadi, jika kita memang belum mampu mengontrol diri sendiri maka sangat perlu menjauhkan diri pada orang yang toxic. Walau sejujurnya kita selalu hidup berdampingan dengan mereka. Mau menghindar pun tetep akan ada yang lainnya lagi. Tetapi gaapa jika ingin menghindarinya sebagai bentuk usaha perlindungan diri. Cuman, jika memang sudah mengerti tentang hidup, justru terasa bahagia bisa mendamaikan dengan diri pada hal yang tidak menyenangkan; salah satunya orang atau keadaan yang nyakitin. Barangkali respon pertama ya wajar kalo marah dan benci. Namun semakin kesini harus merasa bodo amat.

Jujur, diterpa proses menuju dewasa rasanya berat. Namun makin kesini, merasa proses menuju dewasa itu sangat menyenangkan. Kenapa merasa bahagia, karena kita akan bahagia jika telah menemukan jawabannya. Buatku adalah “cukup menerima dan berdamai pada keadaan "

Karena jadi dewasa itu kita makin merasa sendiri. Makin dibuat menyendiri. Sudah menjadi fasenya dalam hidup. Jangan memberontak. Jalanin aja, banyak belajar dari proses itu. But, i know sebagai manusia ga mungkin mau mau aja nerima tapi justru ini jadi jalan kita untuk berproses menjadi manusia. Menjadi sendiri memang keadaan yang tidak menyenangkan. Namun, ga terlalu menakutkan jika masih ada diri sendiri yang kuat. Makanya sangat perlu untuk menemui dan mengenal juga diri kita itu gimana. Fase dimana kita menjadi sendiri tapi justru ga bersama diri sendiri itu rasanya yang malah bikin depresi, kehilangan orang yang disayang, kehilangan beberapa pertemanan, kehilangan keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan kekayaan, atau bahkan sampe kematian. Emang ga enak. Makanya, sekarang cari dan temuin diri kamu. Kenal dan pahami diri kamu. Fokus sama diri kamu dan apa yang akan jadi reaksi kedepannya. Kadang kita hanya memikirkan hal-hal luar, memikirkan orang lain, mikirin goals, mikirin output nya, tapi kita hanya perlu memikirkan yang bisa kita kendaliin.

Dan, menjadi dewasa kita akan menjadi sendiri. sebagai proses kita memahami diri kita. Jadi plis banget buat hargain diri sendiri, jauhin dari sifat yang ga baik. tolong banget perhatiin diri sendiri. Jangan terlalu gantungin harapan, jangan terlalu merasa bahwa ga bakal bisa tanpa orang lain. Bangga buat diri kamu sendiri. Dan yg udah aku bilang tadi, fase dewasa justru dekat dengan sebuah kata egois. Kalo kita terlalu dalam dengan fase itu, terlalu nyaman dengan keadaan itu, justru bisa ngebuat kita jadi orang yang egois cenderung arogan, dan ngerasa gabutuh orang lain. Keadaan egois itu bisa dikatakan keadaan dimana kita hanya pentingin diri kita dan ego kita tanpa lihat bagaimana keadaan orang lain. Sangat perlu melihat diri sendiri tapi perlu balance bersama dengan orang lain.

So, pada akhirnya kalo kita ngerti dewasa itu bagaimana, kita mampu untuk diri sendiri dan orang lain. Menjadi dewasa, kita makin berteman dengan diri sendiri. Aku pikir proses dewasa itu adalah kata kunci di hidupini, dunia emang tempatnya masalah. Bagaimana kita memaknai kehidupan ini, tentang diri kita, tentang orang disekitar kita, tentang semua situasi yang terjadi. Dengan mudah semuanya bisa hilang, bisa abis, bisa lenyap. Beberapa orang belum sepenuhnya berhasil dalam proses pendewasaan. Kenapa bisa bilang itu, ya biasa melihat perilaku orang dimasa tuanya, untuk beberapa orang.

Beberapa orang menua namun sifatnya tidak ikut menjadi orangtua. Biasanya banyak orang dewasa namun ga dewasa secara perilaku dan sifat. Karena hanya dewasa secara usia, bukan sifat. Maybe alasannya itu di saat proses dewasa, hanya menjalani saja tanpa memahami apa proses dewasa itu. Jalan aja, ga ngapa-ngapain. Karenanya, banyak banget sih yang bilang yaudah jalanin aja tapi kan perlu tindak lainnya lagi. Terlebih cara mereka memperlakukan orang lain dari sudut pandang orang lain memandang sesuatu. Untuk beberapa orang mungkin etika, treat, dan service itu memang diutamakan, tapi ada juga mereka yang hidupnya perihal aku punyaku dan diriku, tanpa mandang keadaan atau situasi oranglain. 

Katanya, etika bisa di ubah. Come on buat orang-orang yang berpikir gitu nih ya 99% people in the world ga bisa berubah karena karakter sudah ada dari lahir, yg bisa dipelajari adalah sifat dan intensitas beretika sama orang. Karenanya sifat sangat menentukan bagaimana kita ketika tua nanti. Misal yaudah selingkuh atau sana sini aja dulu ntar tua berubah. Alibi seperti itu sejujurnya cuman taktik aja untuk tidak mau berubah. Kecenderungan org dengan karakter cheating susah bahkan kl dia udh nikah pun. Orang yang beralibi seperti itu ia sadar bahwa itu salah tapi dari sononya aja dia ga ada keinginan buat berubah. I think, Alibi itu hanya berlaku buat orang yang belum bisa membedakan benar dan salah, tapi kalo orang itu udah tau benar dan salahnya akan sesuatu hal, dia itu harus punya kesadaran sendiri bukan dengan sengaja lagi ngelakuin hal yang salah. Atau dengan alibi yaudah nanti aja berubahnya. Orang-orang yang seperti itu yang biasanya berakhir ga berubah. Karena yang namanya kebiasaan, udah terbiasa, susah berubahnya. Kecuali emang ada kesadaran yang diniatkan. Tapi kalo dari awal udah sadar tapi masih aja berlandaskan nanti aja deh, pada akhirnya alibi tersebut hanya sebuah kalimat penenang. Jika sudah dibiasakan sejak muda, maka akan menjadi kebiasaan sampe tua. Sebuah kebiasaan sangat susah untuk kita ubah. Terlebih sangat menentukan bagaimana cara bertindak, berpikir, dan berperilaku kita.

Mungkin di usia menuju dewasa sekarang, kita perlu tau apa saja kekurangan diri. Kita perlu sadar akan itu semua. karena jika bukan sekarang, maka semakin beranjaknya usia tentu kita semakin lupa dan ga mau sadar bahkan disadarkan pun tentu menjadi keras kepala. Menjadi tua yang egois dan arogan. Banyak orangtua kaya gitu.

Buat yang masih baca sampe sini. Kita tidak akan muda hingga selamanya. Meskipun begitu, kita perlu menikmati masa muda kita. Akan tetapi ga berlarut dengan menikmati sepenuhnya perlu planning didalamnya. Jadi, perlu banget pembelajaran di fase dewasa sekarang biar nanti saat sudah melewati fase itu, bisa menjadi manusia yang dapat di katakan "dewasa".

Dan ngomongin dewasa, kamu makin berteman dengan sendiri makin disuguhkan hal yang ga menyenangkan. Kamu justru makin sering menyela, mengeluh dan banyak tidak bahagianya. Karena hal yang ga menyenangkan itu di anggap sebagai derita, sebagai masalah. Kamu mungkin berpikir menjadi dewasa itu sulit, menjadi dewasa itu menderita, menjadi dewasa itu berat. Nyatanya, memang seperti itu di awal. Semua orang tentu tidak ada yang senantiasa menerima hal yang ga mereka suka. Justru untuk memberitahukan kepada kamu maka seolah kamu diberikan proses pendewasaan bahwa hidup itu ga tentang bahagia aja. bahkan, katanya dunia itu hukuman bagi kita sebagai manusia.

Proses dewasa menjadi kode bagi kamu bahwa semakin menjalani hidup ke depannya tuh bakalan lebih berat. Makanya di proses itu kamu di ajarkan tentang lapang. Bahwa memang ada hal yang tidak bisa kamu sela, ada hal yang memang tidak bisa kamu mau. Hanya perlu terima, kamu jalani, walau keadaan itu adalah keadaan yang ga menyenangkan. Pasti sering banget ngerasa bahwa hidup tuh ga adil. Kamu merasa bahwa hidup itu ga adil hanya saat kamu merasakan hal yang tidak menyenangkan. Sedangkan saat berbahagia, kamu merasa hidup itu indah banget. Malah, hidup itu adil. Ada bahagia, pun perlu ada derita. Dan sudah tertakar sesuai dengan usaha dan kemampuan juga. Semua yang terjadi ada alasannya. Bahkan untuk yang menyedihkan sekali pun, ada hikmah dibaliknya. Cuman, sering kali prasangka kamu lebih awal mengatakan hal yang ga baik.
Dewasa itu mudah kok. Justru sangat seru. Kamu temui banyak hal baru di dalamnya. Kamu temui banyak pembelajaran di dalamnya. Cuman, memang perlu kata kuat di dalamnya. Hidup itu makin ke sini makin banyak ga enaknya. Ya emang begitu, makin banyak masalah. Oleh karenanya, kita perlu pemaknaan melalui proses dewasa. Pada proses itulah kita dimengertikan bahwa hidup bukan tentang hal bahagia saja, ada rutenya, walau pada akhirnya kita akan bertempat pada keadaan yang membaik, kembali.

Kalo dulu-dulu kamu selalu menemui orang-orang baik, berterimakasihlah. Karena dari mereka kamu juga menemukan hal baik. kamu jadi mengetahui bahwa manusia di sekeliling kamu justru hal baik yang bisa kamu temui. Dan, kalo sekarang kamu malah nemu orang-orang yang ngasih kamu keadaan yang ga nyenengin, yang ngebuat kamu jatuh, hal yang ga kamu suka, hal yang ga buat kamu bahagia. Bilang juga terima kasih. Karena dari mereka kamu menemukan hal itu. Hal yang ga menyenangkan. Kamu jadi tahu bahwa di dunia juga ga selamanya orang akan terus berbuat baik ke kamu. Ga semua orang berperilaku baik ke sesama.

Pasti, kamu pernah menemui orang yang justru ingin kamu benci sekarang. Kamu jadi ga suka mereka karena perlakuan mereka. Ada yang memang terang-terangan memperlihatkan perlakuan ga baik mereka, tetapi lebih banyak mereka menusuk  dan Mengkhianati. Orang-orang memang suka melakukannya. Entah kata khianat itu hanya berlaku untuk yang merasa atau justru pada sang pelaku. Karena ga semua yang kita anggap itu, justru itulah kebenarannya. Orang yang kita anggap berkhianat bisa saja itu hanya anggapan, justru yang melakukan ada alasan atau bahkan tidak ada kata sengaja. Bisa juga sudah menjadi takdirnya, akan ada yang dikhianati dan mengkhianati. Kita tidak akan bisa menuntut balik seseorang untuk memperlakukan kita seperti apa yang kita lakukan kepadanya. Kita tidak bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali kita seperti perlakuan dan tindakan seseorang kepada kita. Kita hanya bisa mengendalikan hal-hal yang ada pada diri kita seperti perlakuan, tindakan, sikap, perkataan kita. 

Jangan menuntut balik kepada orang-orang untuk diperlakukan sama dengan apa yang kita lakukan kepada mereka. Yang merasakan kesal, marah, sedihnya itu cuman diri sendiri. orang-orang yang sering kali kesal hanya hal seperti itu, dikarenakan mereka memang tidak mengerti jikalau hal-hal seperti itu tidak bisa kita kendalikan dan memang berada di luar kendali kita. Ketika tidak menyadari semua hal tentang hal kendali dalam hidup, maka saat memperlakukan seseorang akan selalu ada ekspektasi bahwa orang juga akan memperlakukan sama. Ketika ekspektasi tidak sesuai maka di saat itu kita akan merasa ga terima dan akan ada perasaan sedih. Padahalnya, yang mendatangkan sedih itu bukan mereka. Tapi kita sendiri yang memang tidak mengontrol diri atas ekspektasi dan yang kita taruh ke orang lain.

Karena ketahuilah, hal-hal di luar kendali sifatnya memang melukai. Maka dari itu, jangan sesekali berusaha mengendalikan jika tidak ingin berujung sakit. Cukup balikan kendali pada diri, jika orang lain tidak bisa sama ya yaudah.
Jadi gini, banyak loh orang-orangyang berpendidikan tinggi, punya ilmu, jabatan dan segalanya tapi masih minim yang namanya etika atau kita sebut bahasa kerennya attitude. Kalau kata aku yah, percuma goodlooking, percuma punya harta, kalau kamu sendiri ga punya yang namanya etika. Terus, kenapa mesti etika? Coba pikirin, paras bakalan menua. Harta masih bisa dicari. Tapi etika itu akan terus melekat di diri kita sampai tua, dan satu hal yang jelas jika etika itu susah untuk diubah. 

Jadi kalo aku sendiri sebagai cewe nyarain buat cewe lain bahkan juga cowo di luar sana, agar nyari pasangan itu ga perlu dia yang goodlooking hanya untuk dipamerkan, hanya untuk mendapatkan kepuasan. Juga ga perlu dengan modal berada terlebih kamu cewe yang ngejar cowo yang berada ya, beberapa cowo yang seperti itu juga belum tentu memiliki sifat yang baik dalam memperlakukan kamu. Ini saran aja. Nyari pasangan ga perlu modal goodlooking dan berada tapi harus inget yang paling penting itu attitude. Juga kamu enggak perlu kok berpikiran bahwa kamu mesti goodlooking atau mesti berada dulu agar bisa didapatkan oleh seseorang.

Disini berarti bukan bermaksud agar kamu diharapkan enggak perlu berusaha untuk jadi ga cantik atau tampan, atau diajarin untuk ya ga perlu kerja atau lain sebagainya. Cuman kamu memang harus bisa mendapatkan itu semua atau goodlooking atau menjadi orang yang bisa mendapatkan segalanya itu semua karena diri kamu sendiri. Ubah cara pikir kamu. Sebisa mungkin perbaiki diri kamu, bukan hanya mengubah fisik atau status, tetapi juga pada perilaku dan juga hatimu. Kamu harus menyadari jika apa yang kita lakukan ke orang lain itu bakalan kita rasakan.

Ketika kita berbuat baik ke seseorang, suatu saat nanti kita juga akan diperlakukan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita sering berlaku jahat atau buruk ke orang lain, tentu akan ada waktunya juga seseorang akan memperlakukan buruk. Ya kita gak tahu kapan itu bakalan terjadi ke diri sendiri, tetapi yang pasti itu bakalan terjadi. yang jadi rahasianya itu cuman waktunya. Itu sebuah pelajaran yang sangat berharga meskipun hanya hal sepeleh tapi itu teramat istimewa untuk bisa di ketahui.

Percaya deh.

Hukum alam itu ada di dunia ini. Kata ibu, "kamu itu harus cintai diri kamu sendiri. Memang kamu tidak mau dicintai oleh seseorang? Hanya orang yang tidak ingin dicintai yang tak mencintai dirinya."
Salah satu kalimat yang sangat sederhana, tetapi begitu bermakna. Dan memang benar, perkataan dia benar. Sebelum mencintai seseorang, kita mesti mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Jadi dulu, saat sendiri saya sering banget merasakan yang namanya kesepian. Saat sendiri selalu butuh seseorang bahkan selalu menaruh harapan kepada seseorang yang ujung-ujungnya kecewa. Yang pemikiran saya hanya tertuju untuk mencari orang lain lantas menghiraukan diri sendiri yang selalu mendapatkan kecewa.

Namun sekarang setelah mendengar dan memahami perkataan itu, saya sadar bahwa di dunia ini bukan hanya tentang orang lain saja, namun ada perihal diri sendiri yang seharusnya diprioritaskan. Bukan ingin menjadi egois, tetapi sepertinya sudah menjadi jalan yang benar untuk hal semacam ini. Dan sekarang aku merasakan sebuah kebahagiaan yang baru dalam hidup. Tidak lagi menaruh harapan kepada orang lain. Sebahagia itu, senyaman itu, dan sesederhana itu ketika bisa mulai mencintai diri sendiri.

Bukan aku ingin mengajak kamu semua untuk menjadi egois. Kita juga hidup di dunia ini bukan untuk memikirkan diri sendiri. Akan tetapi, aku, kamu, dan kalian semua berhak untuk memberikan jeda pada diri kalian untuk tidak melulu mementingkan orang lain. Aku benar-benar merasakan dampak dari mencintai diri sendiri. Rasanya di fase tidak berharap pada siapapun membuat diri menjadi benar-benar dihargai dan tentang luka atau duka yang sering diberikan secara sengaja oleh diri sendiri nyatanya sekarang tidak lagi datang menemui. Karenanya, mungkin mengatakan ini memang mudah. Namun barangkalinya akan menjadi susah untuk dilakukan. Akan tetapi yakin saja ketika telah memulai untuk lebih mencintai diri sendiri, akan ada sebuah bahagia yang menunggu. Hatimu harus tersenyum, agar senyummu bisa tulus. Dari kalimat itu, kamu harus bisa mengerti jika dalam hal melakukan sesuatu kamu harus bisa berdamai dengan hatimu sendiri yang sedang berantakan. Tolong, ketika hatimu sedang berantakan, agar bisa berdamai walaupun lama. Karena jika kamu gamau untuk berdamai dan memilih untuk bodoh amat dan membiarkannya berantakan, kamu akan kehilangan sebuah bahagia.  Banyak banget orang diluar sana yang ketika hati mereka sedang ada masalah, mereka memilih membiarkannya saja dan berpura-pura untuk tersenyum, walau tidak tulus. Kamu bisa sebut itu salah satu bentuk kepura-puraan dalam berbahagia.

Berbeda dengan orang yang tanpa masalah karena mendamaikan terlebih dahulu hati mereka. Mereka dengan tenangnya akan merasakan kebahagiaan. Tanpa sebuah alasan untuk bahagia, karena bahagia itu datang. Ketika bisa berdamai dengan hati sendiri, rasanya sangat bahagia walau tanpa sebuah alasan untuk berbahagia. Satu pelajaran yang aku dapatkan tahun ini juga jadi pelajaran untuk kita semua, bukan hanya diri sendiri.

Cuman mau berpesan. Jikalau yang berhak atas bahagia dan sedihnya diri itu adalah dirimu sendiri, dan bukan orang lain. Dan yang memegang kendali dan kuasa itu adalah diri sendiri. Dan orang lain tidak memiliki hak untuk mencampurinya.

Terkadang ketika terpuruk pada kesedihan, hanya bisa menyalakan orang lain dengan alibi orang lain dengan tega mendatangkan luka, memberikan kecewa atau mengajarkan kesedihan. Tetapi, bagiku yang memberikan kesempatan untuk mendatangkan semua itu bukan karena orang lain yang tega, tetapi karena diri sendiri yang memberikan kesempatan itu datang ke kita. Orang-orang tidak memiliki hak untuk membuat dirimu menjadi kacau. Ketika kamu sedang berada dalam keadaan yang kacau, yang menciptakan kekacauan itu karena izin dari dirimu sendiri. Orang-orang hanya sebagai sebuah alasan pembenaran dan yang jadi penyebab utamanya justru dirimu. Untuk hal ini, tolong agar kamu bisa memikirkannya dengan baik. bukan untuk kebahagiaan siapa-siapa hanya saja ini memang untuk dirimu sendiri. Jadi, stop buat orang lain dengan leluasa datang mencampuri hak tesebut dalam hidup kamu, sebuah hak yang memang hanya atas kendalimu saja; bahagia dan sedihmu. Padahal ini yang menerima konsekuensinya itu bukan mereka tapi kamu sendiri.

Ya, tentu. Memang kita tidak boleh egois hanya untuk diri sendiri. akan tetapi, kita juga berhak untuk menentukan sebuah kebahagiaan kita sendiri dan sangat berhak untuk membatasi diri dari sebuah luka. Kalau ngerasa lagi ga baik-baik aja, ya rasakan aja. Biarkan itu terlewati. Jangan selalu berkata pada diri sendiri “yu bisa yu, baik-baik aja kok". Seenggaknya ganti dengan kata "setelah ini aku pasti baik-baik aja". Keadaan ga baik-baik aja itu normal. Kita juga bukan manusia yang diciptakan untuk selalu berbahagia dan kita juga ga terlalu boleh membiasakan diri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Ketika sedang berada di fase itu, kita memang harus merasakan dan ga boleh mengelak. Dan menurut aku kita harus merasakannya, baru kita bisa melewatinya. Tapi kita juga ga boleh bilang kalo ini tuh bakalan selesai. Kita melewatinya tapi jangan sampe kesedihan itu yang melewati kita.

Aku di umur sekarang sering banget dihadepin sama hal-hal yang ga nyenengin, seolah cuman mau nyamannya aja, enggan sama resiko. Actually,aku sadar menjadi dewasa itu sebuah proses. Kita diterpa masalah pun menjadi bagian dari proses pendewasaan. Kadang ngadepin masalah jatuhnya lebih ke ngeluh. Terima sih terima, karena ga mungkin buat di ulang. Cuman banyak banget keluhan keluhan ga terima nya sering banget nyela takdir itu sendiri. kenapa harus begini, kenapa mesti begitu, dan banyak kata kenapa lainnya. Dan aku sadar, apa yang di lakuin itu ga ngejamin apa-apa. Cuman cape aja yang didapet. Cape fisik, juga cape mental. 

Mungkin tulisan kali ini sedikit absurd, akan tetapi satu hal yang aku rasakan dengan kalimat yang aku katakan pada diriku sendiri, ialah tenang. Aku merasakan bahwa tidak ada sebuah hal yang mengganjal dalam hidupku. Rasanya bebas tanpa beban.

Postingan Populer